Connect with us

Akhlak Santri

Akhlak kepada Allah SWT (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Allah SWT
  1. Ikhlas, baik dalam melaksanakan ibadah mahdlah kepada Allah SWT maupun dalam membantu sesama umat manusia (kerja sosial). Karena ikhlas merupakan syarat mutlak diterimanya suatu ibadah atau amal perbuatan seseorang. Sebagaimana telah dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar Ibn Khatab :

    “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu (akan dibalas oleh Allah SWT) sesuai dengan niat, dan setiap manusia akan memperoleh balasan amal perbuatan sesuai dengan niatnya masing-masing. Barangsiapa berhijrah (dari Makkah ke Madinah) semata-mata bertujuan untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka akan diterima (sebagai amal ibadah kepada Allah dan Rasul). Tetapi barangsiapa berhijrah semata-mata untuk memperoleh harta atau menikahi wanita, maka ia tidak memperoleh pahala apa-apa (karena hijrahnya tidak bernilai ibadah)”.
  2. Syukur dalam memperoleh anugerah nikmat dari Allah SWT. Umat Islam, khususnya para santri wajib bersyukur atas nikmat yang dianugerahkan oleh Allah SWT.           Seorang hamba  yang  tidak  pandai  bersyukur, alias mengkufuri nikmat, sejatinya adalah orang-orang sombong yang pantas dimasukkan ke dalam api neraka, karena Allah SWT telah memerintahkan para hambaNya  untuk  mengingat-Nya  dan  bersyukur  atas  nikmat-nikmatNya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 152 :

    “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

    Prof. Dr. Syaih Mohammad Ali Ash-Shabuni dalam menafsirkan ayat di atas menyatakan; “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan ibadah dan taat, niscaya Aku akan mengingat kalian dengan cara memberi pahala dan ampunan. Sedangkan maksud firman Allah SWT,” bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah  kamu mengingkari nikmat-Ku”, bermakna: “Bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat yang telah Aku berikan kepadamu dan jangan mengingkarinya dengan melakukan dosa dan maksiyat.

    Berdasarkan ayat di atas,  mak bersyukur  atas  nikmat  Allah  merupakan  kewajiban setiap muslim. Namun, seorang muslim harus memahami bagaimana cara merefleksikan rasa syukur secara benar. Betapa banyak orang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara-cara yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syukur itu sendiri. Misalnya, ada orang yang mewujudkan rasa syukurnya dengan cara mabuk-mabukkan, pesta pora, pergi ke tempat-tempat maksiyat, bernyanyi-nyanyi hingga melupakan kewajibannya, dan seterusnya. Adapula yang merefleksikan rasa syukurnya dengan cara menyediakan sesaji dan persembahan kepada pohon dan tempat-tempat keramat. Refleksi syukur seperti ini jelas-jelas bertentangan dengan prinsip Islam.

    Imam Ibnu Katsir menyatakan bahwa syukur harus direfleksikan dengan cara beribadah dan memupuk ketaatan kepada Allah SWT serta meninggalkan perbuatan maksiyat.         Pendapat senada juga dikemukakan oleh Imam ‘Ali Al-Shabuni. Ibadah dan taat kepada Allah SWT serta meninggalkan larangan-larangan-Nya adalah perwujudan rasa syukur yang sebenarnya. Seseorang yang selalu taat kepada Allah SWT dengan menjalankan seluruh aturan-aturanNya dan sunnah Nabinya pada hakekatnya adalah orang-orang yang senantiasa bersyukur kepada-Ny. Sebaliknya, orang yang menolak melaksanakan syari’at Islam, adalah termasuk orang-orang yang ingkar terhadap nikmat yang dianugerahkan Allah kepadanya.
  3. Sabar ketika tertimpa musibah (cobaan/ujian). Secara literal, sabar adalah habsu al-nafs ‘an al-jaza’ (menahan diri dari keluh kesah (ketidak sabaran).[1] Setiap orang pasti akan diuji oleh Allah SWT dengan berbagai macam ujian. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 155 – 156 :

    “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

    Apabila seseorang mampu menahan diri dari keluh kesah, kegelisahan, dan kegundahan akibat berbagai macam ujian dan cobaan, maka ia tergolong orang-orang yang sabar. Sebaliknya, tatkala seseorang suka mengeluh, mengaduh, dan selalu merasa jengah serta khawatir atas berbagai macam musibah, maka ia bukanlah termasuk bagian orang-orang yang sabar. Jamaluddin al-Qasimi menyatakan, “Barangsiapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan hawa nafsunya secara terus-menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.”[Al-Qasimi, Mau’idlaat al- Mukminiiin].

    Kesabaran merupakan perhiasan hati yang sangat agung dan mulia. Kesabaran akan menjadikan seseorang bersifat qana’ah, mulia dan dihormati oleh siapapun.  Selain itu, kesabaran juga merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh seseorang agar mendapatkan keberhasilan dan kemenangan. Sebaliknya, sifat tergesa-gesa, gelisah dan berlebihan akan menjatuhkan seseorang ke dalam kegagalan dan kemurkaan Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat Hud ayat 115 :

    “Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik”.

    Demikian juga firman-Nya dalam surat Ali Imran ayat 200 :

     “Hai orang-orang yang beriman, berlakulah sabar dan perkuat kesabaran diantara  sesama  kalian,  dan  bersiagalah  kalian  serta  bertaqwalah  kepada Allah, supaya kalian memperoleh kemenangan.”[Ali Imran:200]

    Kesabaran yang dimaksud pada ayat di atas adalah kesabaran dalam menghadapi segala bentuk kesulitan dan penderitaan tatkala menjalankan perintah Allah SWT. Kesabaran dalam menunut ilmu harus diwujudkan dengan cara menjalankan seluruh proses, dimulai dengan niat yang ikhlas, semangat yang kuat, kemudian mempersiapkan strategi belajar yang tepat, melengkapi diri dengan berbagai sarana dan prasarana yang memadai, serta mentaati instruksi-instruksi para pendidik. Selanjutnya, ia menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.

    Kesabaran dalam  bekerja harus   direfleksikan   dengan cara mengorganisasikan segala sesuatu yang bisa menunjang keberhasilan pekerjaannya. Ia mempersiapkan seluruh potensi dirinya untuk meraih rizki yang halal, dan berserah diri kepada Allah atas semua hasil yang diterimanya. Kesabaran  dalam  berdakwah  harus  diwujudkan  dengan  cara berjalan  sesuai  dengan  manhaj  dakwah  Rasulullah SAW  walaupun  jalan  itu terasa  sulit,  panjang,  berliku  dan  penuh  dengan  cobaan  dan  musibah. Selanjutnya, ia membuat rencana-rencana program yang terarah, realistis, dan jelas. Seorang da’i juga harus kreatif dalam menciptakan uslub-uslub yang sesuai dengan kondisi dan fakta yang ada, yang secara logis akan mengantarkan kepada keberhasilan. Ia juga selalu mencari dan menciptakan cara-cara baru yang bisa mempermudah akses dakwahnya di tengah-tengah masyarakat. Atas dasar itu, kesabaran harus diwujudkan dengan cara mempersiapkan diri menghadapi segala macam kesulitan dan derita dalam menjalankan seluruh perintah Allah swt.

    Secara umum, kesabaran dibagi  menjadi  2 (dua) macam. Pertama,  kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat  fisik. Kedua, kesabaran  dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik. Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat fisik adalah tabah dalam memikul tugas-tugas yang berat, tabah dalam menghadapi kemiskinan, cacat, atau menderita rasa sakit (akibat penyakit maupun siksaan).

    Kesabaran dalam menghadapi cobaan yang bersifat non fisik terbagi menjadi beberapa hal. Di antaranya adalah sbb. :
  • Sabar dalam menahan hawa nafsu dan kecenderungan seksual. Kesabaran semacam ini disebut dengan ‘iffah.’
  • Sabar dalam menghadapi musibah, kesulitan, dan bencana tanpa ada keluh kesah, mengumpat, rasa kesal dan sebagainya. Kesabaran semacam ini sering dianggap sebagai bentuk kesabaran secara umum.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kehidupan mewah pada waktu sedang kaya.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari sifat pengecut di medan peperangan yang dalam akhlak Islam disebut syaja’ah (keberanian),.     Lawan kata dari sifat syaja’ah adalah al-jubun (pengecut).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari marah dalam menghadapi musuh atau orang yang berbeda pendapat, yang disebut tasamuh (toleran).
  • Sabar dalam bentuk menahan diri untuk tidak menyampaikan suatu ‘aib atau rahasia –baik rahasia diri sendiri, orang lain dan negara– kepada pihak lain, yang disebut kitman al-sirr.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari kenikmatan dan kesenangan dunia untuk memperoleh kesenangan akherat, yang disebut zuhud.
  • Sabar dalam bentuk menahan diri dari pola hidup yang berlebih-lebihan (berfoya-foya), dan merasa puas dengan kehidupan yang sederhana sesuai dengan kemampuan, yang disebut qana’ah.
  1. Tawakkal. Ditinjau dari segi bahasa, kata tawakkal berasal dari kata wakkala – yawakkilu – taukiilan – wa tawakkalan (وكل – يوكل – توكيلا – وتوكلا) yang berarti mewakilkan. Sedangkan pengertian tawakkal dalam ajaran agama Islam adalah; “Menyerahkan semua kejadian yang telah, sedang dan akan terjadi pada diri kita kepada Allah SWT, karena yakin dan percaya bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Mencipta dan Mengatur hidup dan mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih saying. Sikap tawakkal ini dilakukan sesudah melakukan usaha secara maksimal”.

    Definisi di atas menunjukkan, bahwa bertawakkal kepada Allah SWT  bukan berarti bersikap pasif dan apatis tanpa melakukan sesuatu usaha dan aktivitas apapun, melainkan tetap berusaha secara maksimal dan bekerja dengan baik, tetapi menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Dengan demikian tidak benar asumsi sementara orang yang menyatakan, bahwa sikap tawakkal telah menjadikan umat Islam malas belajar, bekerja dan berusaha, sehingga mereka mengalami kebodohan kemiskinan dan keterbelakangan.

    Jika ada sebagian masyarakat yang memahami sikap tawakkal adalah menyerahkan semua persoalan kepada Allah SWT. tanpa melakukan usaha sama sekali, maka perlu diluruskan, karena pemahaman  tersebut sama sekali tidak benar dan bertentangan dengan ajaran agama Islam yang memerintahkan pemeluknya bersungguh-sunggguh memperjuangkan tegaknya ajaran agama Islam yang dikenal dengan istilah jihad (الجهاد); bersungguh-bersungguh dalam menggali dan mengembangkan ilmu pengetahun dengan rajin belajar, melakukan penelitian dan analisa yang dikenal dengan istilah ijtihad (الاجتهاد); serta berusaha dan bekerja keras untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT yang dikenal dengan istilah mujahadah (المجاهدة); Ketiga istilah tersebut berasal dari akar kata yang sama yakni al-juhdu (الجهد); yang berarti usaha dengan sungguh-sungguh. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69  :

    “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (mencari keridhaan) Kami, pasti (benar- benar) akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

    Jangankan mencari ilmu yang sulit, hal-hal yang mudah saja tidak akan berhasil jika tidak diusahakan dan dikerjakan. Sebagai contoh, nasi dan lauk pauk yang sudah dihidangkan di meja makan, tidak akan menghilangkan rasa lapar jika tidak dimakannya. Air mineral yang sudah dihidangkan di atas meja, tidak akan menghilangkan rasa haus dan dahaga jika tidak diminumnya. Oleh karena itu Allah SWT memerintahkan semua manusia untuk mencari rizki di muka bumi ini, tidak boleh berpangku tangan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Jum’ah ayat 10  :

    “Apabila telah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia (rizki) Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya, supaya kamu beruntung”.

    Demikian juga Rasulullah memerintahkan umatnya yang sakit untuk berobat agar sembuh dari sakitnya. Jika sudah berobat ternyata tidak tertolong dan akhinya meninggal dunia, maka harus menerima kenyataan dengan penuh keimanan bahwa Allah SWT. telah mentakdirkan kematiannya pada saat itu. Akan tetapi tidak boleh membiarkannya tanpa berobat dengan alasan tawakkal kepada Allah. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Ahmad bin Hambal, al-Hakim dkk dari sahabat Usamah sebagai berikut:

    “Berobatlah kamu sekalian wahai para hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, melainkan pasti menyediakan obatnya, kecuali satu penyakit yakni penyakit pikun”.

    Demikian juga Rasulullah saw memerintahkan umatnya untuk menyimpan harta benda di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian. Oleh karena itu beliau memarahi seorang sahabat yang meninggalkan ontanya di tengah jalan tanpa diikat, dengan alasan bertawakkal kepada Allah. Kemudian beliau memerintahkan sahabat tersebut untuk mengikat ontanya, sesudah itu baru bertawakkal kepada Allah swt.

    Seluruh ajaran agama Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan al-Hadits, baik yang berupa perintah dan anjuran maupun yang berupa larangan untuk mengerjakan sesuatu, pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif bagi pelakunya serta bagi orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Tawakkal sebagai salah satu ajaran Islam yang diperintahkan oleh Allah SWT. kepada para hamba-Nya yang beriman pasti mengandung dampak positif serta menghindarkan dampak negatif.

Di antara dampak positif tawakkal adalah sbb. :

  • Meningkatkan keimanan kepada Allah SWT. Dengan bertawakkal kepada Allah serta menyerahkan persoalan dan permasalahan yang kita hadapi kepada-Nya, maka berarti kita yakin dan percaya bahwa Allah SWT adalah Dzat yang berkuasa untuk memberikan keputusan yang terbaik kepada kita dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Allah SWT adalah Dzat yang mencipta dan mengatur hidup serta mati manusia dengan penuh hikmah, kebijaksanaan dan kasih sayang. Sebaliknya, jika kita tadak bertawakkal, maka berarti kita tidak atau kurang beriman kepada-Nya. Karena salah satu ciri orang yang benar-benar beiman adalah orang yang bertawakkal kepada Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Anfal ayat 2 :

    “Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman ialah; mereka yang apabila disebutkan sifat-sifat Allah, maka gemetarlah hati mereka, apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka bertambahlah iman mereka, dan kepada Allah-lah mereka bertawakkal”.

    Bahkan Allah SWT. telah menjadikan tawakkal sebagai salah satu syarat beriman kepada-Nya. Dengan demikian seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak bertawakkal, maka pada hakekatnya ia belum beriman, karena tawakkal merupakan salah satu konsekuensi logis dari keimanan kita kepada AllahSWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 23 :

    “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”.
  • Menumbuh-kembangkan jiwa pemberani dan optimism. Seseorang yang bertawakkal kepada Allah SWT, maka dapat dipastikan bahwa ia adalah seorang pemberani. Ia berani memperjuangkan kebenaran, karena tidak merasa takut terancam kedudukannya atau menghadapi kesulitan hidup. Ia juga tidak takut mati, jika harus berperang melawan musuh-musuh Islam, karena yakin bahwa kematiannya tidak ditentukan oleh peperangan dan perjuangan, tetapi semata-mata ditetapkan oleh Allah SWT. Sekalipun berada dalam benteng yang dikelillingi pagar besi baja, kalau sudah tiba masa kematiannya, maka seseorang tidak akan mampu menghindarinya. Sebaliknya, walaupun seseorang ikut berperang atau naik pesawat terbang yang mengalami kecelakaan, kalau belum tiba masa kematiannya, maka ia tidak akan mati. Oleh karena itu sebagai orang yang beriman kita harus bertawakkal kepada Allah sehingga kita mempunyai keberanian untuk memperjuangkan kebenaran, tanpa dibayang-bayangi rasa takut mati, terancam kedudukan serta kesulitan hidup. Karena kita yakin bahwa nasib kita tidak berada di tangan atasan kita dan musuh-musuh kebenaran, tatapi semata-mata berada dalam kekuasaan Allah SWT. Sepanjang kita beriman dan bertawakkal kepada-Nya, maka tidak perlu ada yang ditakutkan. Karena Allah telah berjanji akan memberikan kecukupan dalam segala hal kepada orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Thalak ayat 3 :

    “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi semua kebutuhannya”.
  • Memberikan ketenaangan batin. Jika seseorang sudah berusaha semaksimal mungkin, bekerja secara profesional, kemudian bertawakkal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT., maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Demikian juga jika seseorang telah menyimpan hartanya di tempat yang aman serta menjaganya dari kerusakan dan pencurian, kemudian ia bertawakkal kepada Allah, maka batinnya akan selalu tenang dan tenteram. Karena ia yakin dan percaya bahwa Allah akan menjaganya dan memberikan sesuatu yang terbaik, bermanfaat dan penuh hikmah kepadanya. Sebagaimana janji Allah dalam surat al-Ahdzab ayat 3 :

    “Bertawakkal-lah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai wakil”.
  • Menghilangkan stress dan frustasi. Dengan selalu bertawakkal kepada Allah, maka seseorang yang gagal dalam mencapai cita-cita dan keinginannya, seperti gagal dalam bercinta, gagal dalam memperoleh kejujuran, gagal dalam menduduki suatu jabatan, gagal dalam berbisnis dan sebagainya, atau kehilangan sesuatu yang disenanginya, atau ditinggal mati oleh seseorang yang sangat dicintai, atau tertimpa musibah yang lain, maka ia tidak akan stress dan frustasi. Karena ia yakin bahwa semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah SWT yang pasti banyak hikmah dan manfaatnya. Sebaliknya jika ia sukses dalam mencapai sesuatu, ia tidak akan sombong dan lupa diri, karena menyadari bahwa walaupun memiliki kecerdasan yang tinggi, menguasai sains dan teknologi, mampu memprediksi segala sesuatu yang akan terjadi, tapi tanpa pertolongan Allah SWT. semuanya itu tidak akan mempunyai arti apa-apa. Oleh karena itu semua orang mukmin harus bertawakkal kepada Allah SWT. dengan menghayati dan mengamalkan makna Kalimat Hauqalah (LA HAULA WALA KUWWATA ILLA BILLAH AL-‘ALIYYI AL-ADZIM) yang berarti tiada daya untuk melakukan sesuatu kebaikan, dan tiada kekuatan untuk menghindari kejahatan, kecuali dengan pertolongan Allah Dzat Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Dengan tawakkal tersebut maka seseorang tidak akan frustasi karena gagal dalam mencapai sesuatu, serta tidak akan sombong jika sukses dalam meraih prestasi. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Hadid ayat 23 :

    “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan frustasi (berduka cita) dalam menghadapi kegagalan, serta jangan lupa diri (terlalu gembira) dalam menghadapi kesuksesan yang diberikan oleh Allah kepadamu. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”.
  • Menumbuh-kembangkan sifat dermawan. Seseorang yang benar-benar bertawakkal kepada Allah SWT pasti bersifat dermawan. Karena ia tidak akan takut kekurangan rizki. Ia yakin dengan sepenuh hati, bahwa Allah tidak akan menelantarkannya. Allah akan selalu memberikan rizki yang cukup untuk diri dan keluarganya. Allah akan mengganti setiap harta yang disedekahkan kepada para fakir miskin dan atau untuk kepentingan perjuangan agama Islam, dengan balasan yang berlipat ganda, baik di dunia maupun di akherat. Oleh karena itu jika seorang mukmin bersifat pelit hingga tidak mau bersedekah dan bahkan tidak mau membayar zakat karena takut jatuh miskin, maka pada hakekatnya ia tidak (belum) bertawakkal kepada Allah SWT. Jika ia bertawakkal pasti tidak akan pelit karena yakin bahwa Allah akan menjamin hidupnya dan mengganti sedekahnya dengan balasan yang berlipat ganda. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 261 :

    “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang meumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui”.

    Sebaliknya, seseorang yang tidak atau kurang bertawakkal kepada Allah SWT pasti akan merasakan dampak negatif. Antara lain adalah sbb. :
  1. Berjiwa kerdil dan penakut. Seorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT akan berjiwa kerdil dan penakut. Oleh karena itu, ia tidak berani memperjuangkan kebenaran karena takut menghadapi kesulitan hidup. Tidak berani berkompetinsi secara sportif karena takut kalah. Tidak berani berdagang karena takut rugi dan sebagainya.
  2. Suka meminta bantuan kepada dukun. Sebagai akibat dari jiwa kerdil dan penakut, maka seseorang tidak memiliki rasa percaya diri. Akibatnya bisa terjemurus pada praktek perdukunan atau mendatangi dukun serta meminta bantuan kepada jin dan setan utnuk menghadapi berbagai problem kehidupan. Padahal mendatangi dukun yang meminta bantuan kepada jin dan setan adalah haram karena dapat menjerumuskan kepada kemusyrikan.
  3. Bersifat hasad (iri hati/dengki). Jika seseorang tidak bertawakkal dan menyerahkan semua kejadian kepada Allah SWT, maka ia akan mudah terserang penyakit hasad ketika melihat orang lain yang dianggap rivalnya memperoleh kesuksesan. Sehingga ia melakukan sesuatu yang dapat merugikan rival tersebut.
  4. Bersikap takabbur dan mudah frustasi. Jika seseorang yang tidak bertawakkal kepada Allah SWT. meraih sukses, maka akan bersikap sombong (takabbur) dan lupa diri, karena merasa bahwa kesuksesan tersebut semata-mata karena kehebatan dirinya. Sebaliknya jika gagal, ia akan mudah frustasi. Sebagai pelariannya ia akan terjerumus mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan terlarang, bahkan terkadang sampai melakukan bunuh diri. Di samping itu, orang yang tidak bertawakkal kepada Allah akan bersifat pelit, karena takut jatuh miskin.

[1] Abu Bakar Al-Raziy, Mukhtaar al-Shihaah, hal.354.

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (3)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA

(Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.

Selain itu, para santri juga harus menghindari akhlak tercela (al-akhlak al-madzmumah) yang bersemayam di dalam dirinya. Di antaranya adalah sbb. :

  1. Pembohong. Bohong adalah menyampaikan informasi yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan kejadian yang sebenarnya. Apabila kita ingin menjadi manusia yang sukses, maka pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menjauhi kebohongan serta berpegang teguh pada kejujuran. Jika seseorang suka berdusta maka ia akan terjerumus pada kemunafikan sehingga layak disebut sebagai orang munafik.
  2. Munafik. Yaitu orang yang lahiriahnya berbeda batiniahnya. Performen lahiriahnya tampak bagus tetapi hatinya busuk, sehingga banyak orang yang tertipu.  Sifat munafik sangat tercela, sehingga  Al-Qur’an menyebutkan, bahwa orang-orang munafik itu kelak berada di neraka paling bawah. Pada masa Rasulullah SAW, orang-orang munafik sangat merepotkan karena mengganggu perjuangan beliau. Secara lahiriah mereka menampakkan seperti seorang muslim yang taat kepada Nabi, tetapi pada kenyataannya mereka berusaha merusak dan menghancurkan perjuangan beliau dari dalam. Rasulullah dalam hadistnya menyebutkan bahwa di antara ciri-ciri orang munafik adalah apabila  berbicara, suka berbohong; apabila berjanji, suka menginkari, dan apabila diberi amanah (dipercaya), suka berkhianat.

    “Ciri-ciri orang munafiq itu ada tiga; jika berbicara bohong, jika berjanji mengingkari, dan jika diberi amanat berkhianat”.
  3. Bermuka dua. Di antara bentuk lain dari sifat munafiq adalah bermuka dua, yaitu ketika bertemu seseorang dia memujinya, tetapi di belakangnya ia menjelek-jelekkan bahkan mencaci makinya. Sebagaiman disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukahri dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

    “Dan engkau akan menjumpai sejahat-jahat manusia adalah orang yang bermuka dua. Dia menghadapi suatu kelompok dengan satu muka dan menghadapi kelompok yang lain dengan muka yang lain pula”.

    Demikian juga ucapan sahabat Abdullah ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

    “Dari Muhammad ibn Zaid bahwa ada sekelompok orang yang bertanya kepada kakeknya, yakni sahabat Abdullah ibn Umar RA.: Sesungguhnya kami, jika  menghadap para pejabat kami akan mengatakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang kami bicarakan ketika kami telah keluar dari ruangan mereka. Sahabat Ibnu Umar berkata; Menurut hemat kami, perbuatan tersebut pada masa Rasulullah SAW dinilai sebagai perbuatan munafiq.”
  4. Egois, yaitu sifat yang hanya mementingkan diri sendiri dan sama sekali tidak memperdulikan penderitaan orang lain, terutama penderitaan yang dialami oleh umat Islam. Orang seperti ini pada hakikatnya tidak layak dikelompokkan sebagai bagian dari umat Islam. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW :

    “Barangsiapa tidak memperdulikan nasib ummat Islam, maka ia tidak  termasuk golongan mereka”.
  5. Konsumtif dan berlebih-lebihan  dalam mengkonsumsi makanan dan minuman, karena hal itu sangat berpotensi menambah berat badan dan kegemukan (obesitas) sehingga mudah mengantuk dan malas beribadah serta belajar, bahkan berpotensi menimbulkan berbagai macam penyakit.

    Demikian juga berfoya-foya dalam membelanjakan dan mempergunakan harta sehingga mubaddzir. Bentuk lain dari sifat tabdzir adalah membuang sisa-sisa makanan yang tidak habis karena terlalu banyak dalam memasak atau mengambil makanan melebihi kebutuhan. Sifat tabdzir dinilai oleh Allah SWT sebagai sifat dan prilaku syaitan. Mereka dengan gampang membuang-membuang makanan, padahal di tempat lain banyak orang yang kelaparan karena tidak memiliki bahan makanan. Sebagaimana telah difirmankan Allah dalam surat al-Isra’ ayat 26 – 27:

    “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya para pemboros adalah teman syetan dan syetan sangat ingkar kepada Allah”.
  6. Pelit (bakhil) dalam membayar zakat, infak dan sedekah serta dalam membantu kaum yang lemah. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali Imran ayat 180:

    “Janganlah sekali-kali orang-orang yang pelit (bakhil) dengan harta yang Allah telah anugerahkan kepada mereka menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya pada hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) dilangit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”.
  7. Takabbur (sombong), yaitu suatu sifat buruk yang bersemayam dalam diri seseorang karena merasa bahwa dirinya adalah orang hebat atau merasa memiliki keunggulan-keunggulan di atas orang lain. Sifat ini bisa muncul karena berbagai faktor. Bisa jadi karena merasa berasal dari keturunan orang-orang yang terhormat, bisa jadi karena merasa kaya, pandai, mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi dsb. Takabbur atau sombong merupakan sifat buruk yang dibenci oleh Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Isra’ ayat 37:

    Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu tidak akan mampu menembus bumi dan tidak akan mampu mencapai puncak gunung”.

    Takabbur  terbagi menjadi  3 (tiga) macam; yaitu (1). Takabbur kepada Allah SWT, yang tercermin dalam sikap menolak untuk beribadah serta tidak mau memperdulikan ajaran-ajaran-Nya. (2). Takabbur kepada Rasulullah SAW yang tercermin dalam sikap menolak untuk mematuhi ajaran-ajarannya serta mengikuti sunnah-sunnahnya. (3). Takabbur kepada sesama manusia yang tercermin dalam sikap dan prilaku yang menganggap dirinya lebih hebat dari orang lain.

    Untuk menghilangkan atau mengurangi sifat takabbur (sombong) yang bersemayam di dalam hati serta menumbuh kembangkan sifat tawadlu’, dapat dilakukan dengan beberapa cara sbb.:

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa manusia pada mulanya tercipta dari sperma (air mani) yang menjijikkan dan sama sekali tidak berharga, kemudian pada akhir kehidupannya, sesudah wafat akan menjadi bangkai yang lama kelamaan membusuk dan baunya sangat menyengat sehingga tidak ada seorang pun yang mau mendekati apalagi menemaninya, meskipun istri atau suami dan anak-anaknya. (الانسان اوله نطفة واخره جيفة). 

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa semua kelebihan yang dimilikinya, baik berupa wajah yang tampak atau cantik, harta benda yang melimpah ruah, ilmu pengetahuan dan gelar atau prestasi akademiki, pangkat, jabatan dsb. adalah karunia atau anugerah dari Allah SWT  yang wajib disyukuri, bukan untuk disombongkan; sekaligus juga  amanah yang kelak akan dimintakan pertanggung-jawaban.

    – Memandang orang lain dengan kelebihannya serta memandang diri sendiri dengan kekurangannya. Di antara nasehat Sulthan al-Auliya’ al-Syeh Abdul Qadir al-Jilani kepada para muridnya adalah sbb. ”Jika engkau bertemu orang yang berilmu (ulama), maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau beribadah didasarkan pada ilmu, sedangkan engkau beribadah hanya ikut-ikutan tanpa ilmu. Jika engkau bertemu orang yang bodoh, engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Dia berbuat maksiat dan dosa karena kebodohannya. Sedangkan engkau sudah berilmu, tapi masih berbuat maksiat dan dosa. Jika engkau bertemu orang yang lebih tua, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena beliau sudah banyak amal ibadahnya, sedangkan engkau masih muda sehingga belum banyak beribadah. Jika engkau bertemu orang yang lebih muda, maka engkau harus merasa bahwa orang tersebut lebih baik dari pada dirimu. Karena dia masih muda sehingga belum banyak dosanya, sedangkan engkau sudah tua sehingga sudah banyak berbuat dosa dan maksiat.

    – Menanamkan kesadaran dalam dirinya, bahwa sifat takabbur (sombong) dapat menyebabkan penolakan terhadap kebenaran, bahkan penolakan terhadap perintah Allah SWT. Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud (menghormat) kepada Adam, karena sifat sombong. Iblis yang diciptakan dari api merasa lebih baik dari pada Adam yang diciptakan dari tanah. Akibatnya Allah SWT membencinya dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-A’raf 12 – 13 :

    Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu aku menyuruhmu?” Iblis menjawab “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surge, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
  8. Hasad (Iri Hati atau Dengki) adalah sifat atau rasa tidak senang atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, baik berupa harta, jabatan, pangkat, kesehatan maupun yang lain, kemudian dia ingin atau berusaha menghilangkan kenikmatan tersebut dari orang lain tersebut, baik dengan maksud supaya kenikmatan itu berpindah kepadanya atau tidak. Hasad adalah termasuk akhlak yang tercela (al-akhlaq al-madzmumah), bahkan sangat berbahaya karena dapat mencelakakan orang lain. Seseorang yang hasad kepada orang lain akan berusaha menghilangkan kenikmatan yang diperoleh orang tersebut dengan berbagai cara, termasuk mencelakakan bahkan membunuhnya.

    Pada hakikatnya, seseorang yang bersifat hasad  adalah orang yang kurang beriman karena dia tidak rela terhadap kehendak dan ketentuan Allah SWT yang menganugerahkan kenikmatan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Oleh karena itu, untuk meredam sifat hasad yang bersemayam dalam diri manusia, diperlukan peningkatan dan penguatan iman sehingga dia menyadari bahwa kenikmatan adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Perlu ditanamkan juga bahwa sifat hasad itu akan menggerogoti pahala amal kebaikan, bagaikan api yang melahap kayu bakar.[]

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak kepada Diri Sendiri
Foto @alasantri

Akhlak kepada Diri Sendiri; berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum )ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta(علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri  (علاقة الانسان لنفسه).

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Keempat, Menjaga kehormatan diri (al-‘iffah). Para santri harus menjaga kehormatan diri (al-‘iffah) dengan tidak bersikap thama’ terhadap harta atau kedudukan orang lain.

“Barangsiapa merasakan kelezatan ilmu dan mengamalkannya, dapat dipastikan bahwa dia tidak akan silau atau memiliki keinginan(thama’)  terhadap harta atau jabatan orang lain”

Oleh karena itu para santri harus memiliki sikap mandiri dan menerima serta menikmati anugerah Allah SWT apa adanya (bersikap qonaah). Jangan membiasakan diri meminta-minta atau mengemis, karena agama Islam sangat mencela orang yang berprofesi sebagai pengemis, serta menghargai orang yang bekerja untuk mencari nafkah secara halal, baik dengan bertani, berdagang, menjadi karyawan, buruh dsb. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 273 :

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya. Mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui”.

Firman Allah SWT  di atas, memuji para sahabat Rasul yang tidak mau “menjadi pengemis”, meskipun mereka miskin karena tidak bisa berdagang lantaran sedang berperang membela agama Allah SWT melawan orang-orang kafir. Berhubung mereka tidak mau “menjadi pengemis”, maka masyarakat menyangka mereka adalah orang-orang kaya yang berkecukupan, padahal sebenarnya mereka adalah orang-orang miskin. 

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari sahabat Hakim ibn Hizam RA.:

“Tangan di atas adalah lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan di atas ialah tangan yang memberi dan tangan di bawah ialah tangan yang meminta”

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA.

“Sungguh jika salah seorang di antara kamu pada waktu pagi-pagi buta mengambil tali kemudian mencari kayu bakar dan menjualnya sehingga ia memperoleh makanan secukupnya dan bersedekah, maka hal itu lebih baik baginya dari pada meminta-minta kepada manusia”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Ibnu Umar RA.

“Mengemis (meminta-minta) itu senantiasa merupakan cacat bagi seseorang di antara kamu sehingga dia menemui Allah di hari kiamat tanpa sepotong daging yang melekat di mukanya”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud dari sahabat Abdullah ibn Adi :

“Ada dua orang sahabat yang datang kepada Rasulullah SAW untuk  meminta sedekah. Setelah Rasulullah SAW memperhatikan keadaan mereka, ternyata keduanya bertubuh kekar (kuat). Maka beliau  bersabda: Kalau kamu berdua meminta, saya akan memberi, tetapi ketahuliah bahwa orang-orang kaya dan mampu berusaha (kuat) tidaklah berhak menerimanya”.

Pernah salah seorang penduduk Madinah (kaum Anshor) datang meminta sedekah kepada Nabi. Beliau bertanya: Apakah anda mempunyai sesuatu benda di rumah? Orang Anshor itu menjawab: Saya hanya mempunyai sehelai tikar yang sebagian saya jadikan alas dan sebagian lainnya saya jadikan selimut, serta sebuah mangkok tempat air minum. Bawalah padaku, perintah Nabi. Setelah orang Anshor itu kembali kepada Rasulullah SAW dengan membawa barang-barang yang dimiliki, beliau melelang barang-barang tersebut kepada para sahabat, dan laku dua dirham. Kemudian beliau menyerahkan uang dua dirham tersebut kepada pemiliknya sambil berkata: Pergunakanlah satu dirham untuk membeli makananmu dan satu dirham lagi belikan sebuah kampak, dan bawalah padaku!. Setelah pemuda itu menyerahkan kampaknya kepada Rasulullah, maka beliau memasang tangkainya kemudian menyerahkannya kepada pemuda itu sambil bersabda; Pergilah mencari kayu bakar, dan juallah! Dua minggu kemudian kembalilah melapor padaku!. Dengan patuh pemuda itu keluar dan demikianlah, dua minggu kemudian dia kembali menghadap Nabi melaporkan bahwa dia telah berhasil menerima keuntungan 10 dirham. Lima dirham di antaranya telah dibelikan pakaian, sedang sisanya dipergunakan untuk persediaan membeli makanan mereka sekeluarga. Mendengar laporan itu Nabi bersabda: Bukankah itu lebih baik bagimu dari pada meminta-minta yang menjadikan cacat hitam di mukamu ketika menghadap Allah di hari kiamat nanti?”. Hadits Riwayat Abu Daud.

Kelima, Bersifat Wara’. Para santri harus bersifat wara’, yaitu bersikap hati-hati agar tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram atau diperoleh dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, korupsi dsb. Demikian juga pakaian, kendaraan, tempat tinggal dsb. Seseorang yang bersifat wara’ insya Allah hatinya akan bersinar sehingga mudah menangkap ilmu dari Allah SWT serta doa yang dipanjatkan akan mudah diijabah oleh Allah SWT. Sebaiknya seseorang yang suka mengkomsi makanan atau minuman yang haram, atau memakai pakaian dan menggunakan barang-barang yang haram atau diperoleh secara tidak halal, maka hatinya akan gelap gulita sehingga sulit menangkap ilmu Allah SWT, bahkan doa-doanya pun tidak akan dijabah. Sebagai telah difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 188:

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”.

Demikian juga dijelaskan oleh hadits shahih yang diriwayatkan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah :

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Suci, yang tidak akan menerima, kecuali sesuatu yang suci. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para rasul-Nya. Maka Allah SWT berfirman; ‘Wahai para rasul, makanlah kamu dari sesuatu yang baik dan beramallah yang baik’. Dan Allah pun berfirman; ‘Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang telah Kami anugerahkan kepada kalian’. Kemudian Rasul mengkisahkan seorang laki-laki yang sudah lama sekali berdo’a memohon sesuatu kepada Allah. Begitu lamanya berdo’a sampai rambunya acak-acakan (tidak rapi), pakaiannya kotor terkena debu. Akan tetapi, bagaimana mungkin doanya dikabulkan kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan sejak kecil diberi makanan yang haram”.[1]

Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia juga akan mempengaruhi kehidupannya di alam akhirat. Jika halal dan thayyib, maka akan mengantarkan manusia ke surga. Sebaliknya, jika bersumber dari atau diperoleh dengan cara yang haram, maka akan mengantarkannya ke dalam neraka. Sebagimana disabdakan Rasulullah dalam hadits hasan:

“Setiap daging (manusia) yang tumbuh dari (makanan dan minuman) yang haram, maka lebih berhak untuk masuk neraka” (HR. Imam Tirmidzi dari Ka’ab ibn ‘Ajazah). [2]

Para santri juga harus menghindari makanan dan minuman yang syubhat (belum jelas halal atau haram),  karena seseorang yang terjerumus dalam hal-hal yang syubhat pasti akan terjerumus dalam hal-hal yang haram. Sebagaimana telah disabdakan Rasulullah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Abdillah Nu’man Ibnu Basyir RA.

“Dari sahabat Abu Abdillah Nu’man ibn al-Basyir RA. beliau berkata, bahwa beliau mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya sesuatu yang halal itu sudah jelas. Demikian pula, sesuatu yang haram juga sudah jelas. Akan tetapi, di antara yang halal dan yang haram itu terdapat sesuatu yang samar (syubhat) yang tidak banyak diketahui oleh umat manusia. Barangsiapa menjaga diri dari hal-hal yang syubhat, maka berarti ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Sebaliknya barangsiapa terjatuh dalam sesuatu yang syubhat, maka ia pasti akan terjatuh pada sesuatu yang haram. Seperti pengembala yang mengembalakan hewan ternak di sekitar tanah larangan, maka dapat dipastikan hewan ternak tersebut memasuki tanah larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya setiap raja mempunyai larangan. Ingat, bahwa sesungguhnya larangan Allah adalah hal-hal yang telah diharamkan. Ingat, sesungguhnya di dalam jasad manusia terdapat segumpal daging, yang jika baik maka seluruh anggota badannya menjadi baik. Sebaliknya, jika segumpal daging tersebut buruk, maka seluruh anggota badan menjadi buruk. Ingat, segumpal daging tersebut adalah hati. (H.R. Imam Bukhari dan Imam Muslim).[3]

Keenam, Rajin dan Bersungguh-sungguh dalam Belajar

Para santri harus bersungguh-sungguh dalam belajar secara istiqomah (kontinu/ terus-menerus). Hal ini antara lain dilakukan dengan mengulang-ulang pelajaran (tikrar) agar memiliki pemahaman yang lebih mantap sehingga tidak mudah melupakan ilmu pengetahuan yang telah dipelajari.  Sebagaimanadifirmankandalam surat al-Ankabut ayat 69 :

“Dan Orang-orang yang mencari keridhaan Kami, niscaya Kami tunjukkan mereka kepada jalan-jalan Kami” (Surat 29, Al-Ankabut 69).

Pepatah Arab mengatakan :

“Barangsiapa sungguh-sungguh dalam mencari sesuatu pastilah ketemu dan barangsiapa mengetuk pintu bertubi-tubi, pasti dapat memasuki”.

Pepatah lain mengatakan :

“Sesuai dengan kadar usahamu, engkau akan meraih cita-citamu”

Imam al-Syafi’i telah menggubah syi’ir sbb. :

Engkau mengidam-idamkan dirimu menjadi seorang ahli fiqh yang pandai berargumentasi, tetapi engkau tidak mau berpayah-payah belajar.Maka (hal itu adalah suatu kegilaan, karena) gila itu sangat banyak bentuknya.

Kalau untuk mencari harta benda saja harus berpayah-payah dan penuh derita, apalagi untuk meraih ilmu pengetahuan”

Ketujuh, Bersikap Sabar dan Istiqomah

Para santri hendaknya bersikap sabar dan istiqomah untuk belajar di sebuah lembaga pendidikan (pondok pesantren) hingga menamatkan pendidikannya. Juga istiqomah dalam mengkaji satu disiplin ilmu, sehingga tidak berpindah ke disiplin ilmu lainnya sebelum menguasai disiplin ilmu yang pertama. Dengan berpindah-pindah tempat belajar, maka akan mengganggu konsentrasi belajar, membuang-buang waktu, biaya, tenaga dan pikiran, bahkan menyakiti para guru yang ditinggalkannya.

Para santri juga harus bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam ujian hidup.Kesuksesan sebuah cita-cita sangat bergantung pada kesabaran dalam menghadapi ujian.

Kedelapan, Rajin Bangun Malam

Para santri hendaknya rajin bangun malam untuk melaksanakan shalat tahajjud, berdizkir dan berdo’a. Karena pada sepertiga malam terakhir Allah SWT menurunkan rahmat-Nya dan merupakan waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Jika para santri rajin melaksanakan tahajjud, maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya hingga meraih derajat yang terpuji. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 79:

“Dan pada sebahagian malam hari bershalat tahajjudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.

Imam al-Syafi’i membagi waktu malam hari menjadi tiga bagian. Sepertiga malam untuk tidur (istirahat); sepertiga malam untuk mengkaji ilmu atau mengajar; sepertiga malam untuk ibadah (tahajjud). Agar mudah bangun malam, maka hendaklah para santri mengurangi konsumsi makanan.


[1] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawai, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah,  (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.)  h. 18 – 19

[2] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad Al-Ghozali, Ihya’ Ulum al-Din,  (Beirut: Daar al-Fikr, 1995 M./1405 H.),  juz 2, h. 80

[3] Imam Yahya ibn Syarafuddin al-Nawawi, Matan al-Arba’in al-Nawawiyah Fi al-Ahadits al-Shahihah al-Nabawiyah, (Riyadl: Daar al-Ilmiyah Li al-Kitab al-Islami, 1413 H./1992 M.), h. 13-15; Dr. Mustafa al-Bugha dan Muhyiddin Mastu, Al-Wafi Fi Syarah al-Arba’in al-Nawawiyah, (Damaskus: Daar Ibnu Katsir, 1998 M./1418 H.) Cetakan ke-10, h. 35

Bersambung….

Baca juga: Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

Kunjungi koleksi pustaka digital JATMAN

Continue Reading

Akhlak Santri

Akhlak kepada Diri Sendiri (1)

DR. H. M. Hamdan Rasyid, MA (Khadim al-Ma’had BAITUL HIKMAH Depok)

Published

on

Akhlak
Pesantren Tebuireng

Berbeda dengan etika atau moral di luar Islam yang hanya mengatur atau menekankan etika social (hubungan seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bermasyarakat), akhlak dalam Islam memiliki spektrum (ruang lingkup pembahasan) yang sangat luas. Selain mengatur hubungan antar sesama manusia dalam kehidupan masyarakat (علاقة الانسان للغير في الحياة الاجتماعية ), akhlak dalam Islam juga mengatur hubungan manusia kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Pencipta dan Pengatur kehidupan manusia dan alam semesta (علاقة الانسان لله)  serta hubungan manusia dengan dirinya sendiri (علاقة الانسان لنفسه).

Pada dasarnya, akhlak manusia  terhadap diri sendiri adalah sifat yang melekat dalam diri seseorang yang mencerminkan komitmen dan tanggung jawabnya terhadap keselamatan, kebaikan, dan kemuliaan dirinya yang bertujuan untuk mewujudkan hal-hal sbb.:

  1. Memelihara  agama (حفظ الدين), yaitu komitmen seseorang untuk melaksanakan seluruh ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya, baik dalam bidang aqidah, syari’ah maupun akhlak dan tasawuf. Hal ini dapat terjadi, jika dalam dirinya telah tertanam kewajiban untuk melaksanakan shalat, berpuasa, membayar zakat, menunaikan ibadah haji dsb serta meninggalkan perbuatan dosa seperti ghibah, namimah dan menebar fitnah. Dengan demikian dia akan merasa bersalah atau merasa berdosa jika meninggalkan perintah agama atau melakukan perbuatan maksiat yang dilarang oleh agama, karena menyadari bahwa hal itu akan mendatangkan murka dan ‘adzab Allah SWT. Sebagaimana difirmankan dalam surat An-Nisa’ ayat 59: 
    “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu”
  2. Memelihara jiwa  (حفظ النفس), yaitu komitmen seseorang untuk melindungi jiwanya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر)  dengan mencampakkan dirinya pada kerusakan (kebinasaan), melukai diri sendiri, usaha pembunuhan atau bunuh diri. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Baqarah ayat 195 :
    “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

    Juga firman-Nya dalam surat al-Nisa’ ayat 29 :
    Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.
  3. Memelihara akal  (حفظ العقل), yaitu komitmen seseorang untuk memanfaatkan akal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT untuk berpikir logic dan ilmiah; mengali dan mengembangkan ilmu pengetahuan setinggi mungkin serta melindunginya dari hal-hal yang membahayakan (ضرر) seperti minuman keras, narkoba dan zat-zat adiktif lainnya. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Maidah ayat 90 – 91:
    “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)”.
  4. Memelihara keturunan  (حفظ النسل), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara keturunan dengan cara menghindari pezinaan. Karena, selain merupakan perbuatan keji yang dimurkai Allah SWT dan menimbulkan berbagai macam penyakit kelamin seperti HIV AIDS, zina juga menjadi penyebab lahirnya anak-anak atau keturunan yang lahir dengan cara haram, meskipun mereka tidak ikut memikul beben dosa akibat perbuatan orang tuanya. Oleh karena itu, Allah SWT secara tegas mengharamkan perbuatan zina sehingga wajib dihindari. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Isra’ ayat 32 :
    “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”.
  5. Memelihara harta atau properti  (حفظ المال), yaitu komitmen seseorang untuk memelihara harta atau properti yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadanya dengan cara membelanjakan atau memanfaat harta benda di jalan yang benar sesuai dengan petunjuk-Nya, tidak merusaknya, juga tidak tabdzir atau berfoya-foya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Furqon ayat 67 :
    “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian”.

Akhlak terhadap Diri Sendiri  

Akhlak manusia terhadap diri sendiri  (علاقة الانسان لنفسه), tercermin pada sifat-sifat positif sbb.

Pertama: Shidiq, yakni jujur dan benar baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Umat Islam khususnya para santri harus menghiasi diri dengan kejujuran, karena jujur merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Di antara contoh kongkret dari sifat al-shidqu adalah bersatunya ucapan dengan perbuatan sehingga perbuatan tidak berbeda apalagi bertentangan dengan ucapan. Jika berjanji maka akan dipenuhi, tidak diingkari. Seseorang yang tidak jujur, maka akan terjermus dalam kemaksiatan, kemunafikan, bahkan akan terjerumus ke dalam neraka jahannam. Na’udzu Billahi dan dzalik. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasululah SAW dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah ibn Mas’ud RA. :

 “Sesungguhnya kejujuran akan menunjukkan kepada kebaikan. Dan sesungguhnya kebaikan akan menunjukkan kepada surga. Jika seseorang bersikap jujur, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat  jujur. Dan sesungguhnya kebohongan akan menunjukkan kepada kejahatan. Dan sesungguhnya kejahatan akan menunjukkan kepada neraka. Jika seseorang bersikap pembohong, maka akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang sangat pembohong”. (Hadits disepakati oleh Imam ala-Bukhari dan Imam Muslim).[1]

Kedua: Amanah, yakni dapat dipercaya. Umat Islam khususnya para santri harus bersifat amanah atau memiliki integritas moral sehingga tidak menipu, tidak berkhianat, tidak menyalah-gunaan jabatan dan kekuasaan serta selalu berusaha mengemban tugas yang dibebankan kepadanya dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya. Sebagaimana sifat al-shidqu (jujur), al-amanah juga merupakan sifat yang akan memperkokoh dan menjamin integritas kepribadian seseorang, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial. Kedua sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang yang beragama Islam karena merupakan kunci kesuksesan seseorang dalam hidup bermasyarakat. Jika sesorang menghiasi dirinya dengan kedua sifat ini, dapat dipastikan hidupnya akan sukses. Sebaliknya, jika mengabaikan kedua sifat ini, pasti hidupnya akan gagal. Sehubungan dengan itu, Allah SWT telah memerintahkan ummat Islam untuk melaksanakan amanat dengan baik. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Nisa’ ayat 58 :

 “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Ketiga: Tawadlu’ (rendah hati). Umat Islam khususnya para santri harus bersifat tawadlu’ atau rendah hati, sehingga semakin banyak ilmunya, semakin tinggi pangkat dan kedudukannya, semakin banyak harta dan pengaruhnya akan semakin bersikap tawadlu’ karena menyadari, bahwa semua yang dimiliki adalah karunia sekaligus amanah dari Allah SWT sehingga wajib disyukuri bukan untuk disombongkan. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Sulaiman ketika beliau berhasil memindahkan singgasana Ratu Bilqis dari Yaman ke Palestina. Hal ini dikisahkan dalam surat an-Naml ayat 40 :

 Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab (Taurat dan Zabur) “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk menguji aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia”.

Bahkan Rasulullah SAW pun diperintahkan oleh Allah SWT agar bersikap tawadlu’ (rendah hati) kepada orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Syu’ara ayat 215:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, Yaitu orang-orang yang beriman.

Para santri harus bersikap rendah hati, karena sikap rendah hati merupakan cermin dari sifat-sifat orang yang bertaqwa kepada Allah SWT. Para santri tidak boleh menyombongkan diri dengan ilmu pengetahuan yang telah diperolehnya, karena kesombongan merupakan watak dari syetan yang menolak perintah Allah SWT untuk bersujud (menghormati) Nabi Adam AS. Selain itu, para santri tidak boleh bersikap sombong karena mereka tidak akan tahu nasibnya di akhirat kelak, apakah termasuk orang yang beruntung dengan menjadi penghuni surga, atau termasuk orang yang celaka karena menjadi penghuni neraka, na’udzu billahi min dzalik.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Abbas, Said ibn Jubair, Amr ibn Dinar, Sufyan ibn al-Humaid, Rasulullah SAW mengkisahkan bahwa pada suatu hari Nabi Musa AS berpidato di hadapan kaumnya dari Bani Israil. Nabi Musa mengajak mereka untuk mensyukuri ni’mat dan karunia Allah SWT dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Untaian kalimat-kalimat dakwah yang disampaikan oleh Nabi Musa kepada kaumnya tersebut begitu memukau dan menyejukkan hati mereka. Sesudah menyampaikan dakwah, ada salah seorang kaum Bani Israil bertanya kepada beliau; “Wahai Nabi Musa AS, siapakah hamba Allah SWT yang paling pintar di muka bumi ini? Maka Nabi Musa pun menjawab; “Aku lah orangnya yang paling pintar di antara hamba Allah di muka bumi”.

Jawaban itu wajar saja.Karena pada zaman itu hanya Nabi Musa yang berhasil membawa Bani Isra’il kepada hidayah ilahi. Dialah yang telah menaklukkan Raja Fir’aun dengan segala kekuasaan dan kesombongannya.Dia juga telah menaklukkan para tukang sihir istana sehingga mereka mengikuti agama Nabi Musa.Ia juga telah dikaruniai nikmat terbesar sebagai Rasul-Nya yaitu nikmat berupa kesempatan berbicara langsung dengan Allah. Selain itu, beliau juga telah berhasil membongkar rahasia tentang pembunuhan yang kejam.

Baru saja Nabi Musa mengingat kelebihan dan jasa dirinya atas kaumnya itu, datanglah wahyu Allah berupa teguran atas tindakan yang tak sepatutnya dilakukannya.Allah memperingatkannya bahwa seluas apapun ilmu pengetahuannya, itu semua niscaya hanyalah karunia pemberian Allah semata. Dan, tidak menutup kemungkinan bahwa ada hamba-Nya yang lain yang dianugerahi pengetahuan melebihi apa yang diberikan pada Nabi Musa.

Untuk lebih menekankan peringatan-Nya ini, Allah juga memerintahkan Nabi Musa untuk menemui hamba-Nya yang lain, di suatu tempat yang dalam Al-Qur’an disebut “bertemunya dua lautan”.Mendapat perintah itu, Nabi Musa bertanya, “Ya Allah, siapakah hamba-Mu itu? Dan bagaimana aku bisa menemuinya?” Allah menjawab dengan wahyu-Nya, “bawalah seekor ikan yang kau letakkan dalam sebuah keranjang.Di mana pun ikan itu mulai menghilang, maka di sekitar situ lah tempat tinggal orang tersebut”.

Setelah mendapat kejelasan, Nabi Musa segera menyiapkan bekal perjalanannya. Ia juga mengajak serta salah seorang pengikutnya yang paling setia dan dipercaya, Yusya’ bin Nun. Sebagai orang yang bertugas memastikan kelengkapan dan kelancaran perjalanan Nabi Musa, Yusya’ dipesani oleh Nabi Musa, agar dia memberitahu kepada Nabi Musa begitu ikan yang dibawanya menghilang.

Singkat cerita, ketika keduanya beristirahat di suatu tempat di dekat batu besar, di saat itulah ikan yang tadinya sudah mati, tiba-tiba hidup, bergerak-gerak, lalu meloncat dan mengarah ke lautan.

Setelah Yusya’ bin Nun melaporkan kejadian ini kepada Nabi Musa, Nabi Musa pun berkata, “inilah tempat yang kita cari”. Tak lama kemudian, ia pun menyambung, “aku mencium bau manusia. Pasti di sinilah kita akan menemui hamba Allah itu.”

Ternyata hamba Allah itu adalah seorang laki-laki tua yang kurus badannya, tetapi wajah dan sorot matanya menampakkan cahaya kenabian yang terpancar ke hadapan Nabi Musa. Setelah mengulukkan salam, ternyata orang tersebut sudah mengetahui seluk-beluk identitas Nabi Musa, seperti namanya dan statusnya sebagai pemimpin Bani Israil. Nabi Musa mulanya heran akan hal ini. Namun ia segera menyadari bahwa orang ini mungkin memang orang yang dimaksudkan oleh Allah. Karenanya, ia segera saja mengemukakan, “tujuanku kemari adlah untuk memenuhi perintah berguru kepadamu, apakah engkau berkenan mengajariku ilmu-ilmu yang sudah dianugerahkan Allah kepadamu?

Lalu laki-laki yang kemudian diketahui bernama Khidir itu berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar diri bersamaku.Allah telah mengajariku ilmu pengetahuan tentang sesuatu yang ghaib, yang engkau sendiri belum diajari oleh-Nya.Tetapi, jika engkau memang ingin belajar bersmaku, syaratnya, jangan sekali-kali menanyakan tentang sesuatu yang aku lakukan, kecuali akan aku jelaskan sendiri kepadamu”.Setelah syarat ini disepakati, Nabi Musa mulai mengikuti perjalanan dan segala gerak-gerik Khidir AS.

Ketika keduanya menyusuri tepi pantai, Nabi Khidir mengatakan, “wahai Musa, ketahuilah sesungguhnya perbandingan dan perumpamaan ilmu Allah dengan ilmu manusia adalah ibarat seluruh air di lautan dan sedikit air yang membasahi kakimu sebagai karunia-Nya kepada manusia. Dan kelak, manusia akan dimintai pertanggungjawaban akan ilmunya kelak”.

Setelah itu, Nabi Khidir naik ke atas perahu dan justru merusak dinding perahu itu. Melihat perbuatan yang janggal itu, Nabi Musa spontan menegurnya, “apakah engkau hendak merugikan orang lain dan menenggelamkan perahu ini dan awaknya?”. Nabi Khidir hanya menjawab, “bukankah sudah ku katakana bahwa jangan menanyakan sesuatu hingga aku menjelaskannya sendiri?”.

Setelah meminta maaf, Nabi Musa kembali mengikuti perjalanan Khidir AS. Hingga ketika mereka sampai di suatu perkampungan, lalu bertemu dengan anak kecil di kampong tersebut, Khhidir AS justru mencekik bocah itu hhingga mati di tangannya sendiri.Nabi Musa yang kaget melihat itu kontan bereaksi, “mengapa engkau membunuh anak tak berdosa ini, bukankah kau sudah melakukan kemungkaran”.Namun, Nabi Khidir hanya menjawab sebagaimana pada kesempatan sebelumnya.

Lalu keduanya meneruskan perjalanan sampai ketika mencapai suatu daerah yang penduduknya tak mau menghormati keduanya selayaknya tamu.Tetapi, ketika keduanya melihat suatu dinding rumah yang hamper rusak, Nabi Khidir justru memperbaikinya hingga tegak kembali.Nabi Musa yang keheranan kkembali bertanya, “kenapa engkau memperbaiki rumah itu, padahal pemiliknya sama sekali tak menghargai kita”.Nabi Khidir yang sudah merasa cukup hanya menanggapi, “sepertinya ini menjadi perpisahan antara aku dan engkau, karena engkau telah berkali-kali melanggar kesepakatan dan syarat yang sudah ditentukan tadi. Namun sebelum berpisah, akan aku jelaskan alasan-alasan kenapa aku mengerjakan hal-hal yang ku lakukan tadi.

Pertama, tindakanku merusak kapal, itu karena aku tahu bahwa di pulau seberang, tempat para nelayan akan berlabuh, ada seorang penguasa yang akan merampas kapal-kapal di sana. Dengan merusaknya, maka penguasa itu jadi tak berminat mengambil kapal itu, dan pemilik kapal bisa memperbaikinya kembali tanpa ia harus kehilangan kapal. Sedangkan anak kecil yang aku bunuh tadi, ia adalah anak yang ketika dewasa kelak akan menjadi seorang yang ingkar dan durhaka kepada Allah dan orang tuanya. Dengan membunuhnya, aku justru menyelamatkan nasibnya dari siksa Allah di akhirat kelak.Yang terakhir, tembok rumah yang aku perbaiki tadi, di bawahnya terdapat harta benda orang tua yang diwariskan kepada anak yatim pemilik sesungguhnya dari rumah tersebut.Kalau sampai dinding rumah itu rubuh dan lalu ketahuan di bawahnya terdapat harta peninggalan, niscaya harta itu akan diambil lebih dulu oleh walinya dan penduduk kampong itu, tanpa pernah sampai kepada si anak yang berhak mewarisinya”.

Bersikap rendah hati (tawadlu’), bukan berarti bersikap rendah diri (minder) dengan takut menyampaikan pendapat dan aspirasi; takut berpakaian yang bagus dsb.Imam Abu Hanifah mengajarkan,  sebagai orang yang berilmu, para santri harus tampil dengan pakaian yang bagus dan rapi, agar tidak direndahkan orang lain. Demikian juga, para santri harus berani menyampaikan pendapat dan aspirasi serta menghadapi siapa pun,dengan tetap menjaga sopan santun dan al-akhlak al-karimah.


[1] Al-Imam Abi Zakaria Yahya ibn Syaraf al-Nawawi al-Dimasyqi, Riyadu al-Sholihin, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Jakarta, 2010, h. 33

Bersambung ke Akhlak kepada Diri Sendiri (2)

Baca juga: Karakteristik Akhlak dalam Islam

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending