Connect with us

Artikel

Ajaran Thariqah Syattariyah: Tujuh Nafsu yang Harus Diperangi

Published

on

Jakarta, JATMAN Online – Pada masa Turki Ustmani (kerajaan Ottoman), thariqah Syattariyah disebutkan dengan thariqah Bisthomiyyah, sedangkan di Iran dan Transoksania (Asia Tengah) dikenal dengan thariqah ‘Isyqiyyah, karena Abu Yazid al-‘Isyqi dianggap sebagai tokoh utamanya, namun pengamalan thariqah ini tetap satu dan tidak ada perubahan yang prinsipil.

Thariqah ini telah dibawa dan dikembangkan pula di Indonesia melalui Aceh oleh Syekh Abdurrouf Singkel (1615-1693). Kemasyhuran Abdurrauf Singkel (as-Singkili) tidak hanya terbatas di Aceh saja, tetapi juga diberbagai kawasan di Indonesia. Murid-muridnya kemudian menyebarkan thariqah yang dibawanya. Diantaranya Syekh Burhanuddin dari pesantren Ulakan Sumatra Barat.

Di Jawa Barat, thariqah ini di kembangkan oleh Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, dan kemudian thariqah ini menyebar ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Baca juga: Tujuh Macam Dzikir Tarekat Syatthariyah

Di Sulawesi Selatan, thariqah ini disebarkan oleh salah seorang tokoh thariqah Syattariyah yang cukup terkenal, yakni Syekh Yusuf Taajul Khalwati (Moncong Lowe, Gowa, Sulawesi Selatan, 3 Juli 1626 / Syawwal 1036 – Capetown Afrika Selatan, 23 Mei 1699 M).

Beliau seorang ulama, mufti, pendiri thariqat dan penulis. Ia lahir 21 tahun setelah Islam diterima sebagai agama resmi di kerajaan Gowa (1605).

Dalam ajaran thariqah Syattariyah, selain memiliki tujuh macam dzikir, ia juga memiliki ajaran tujuh macam nafsu yang harus diperangi. Menurut KH. A. Aziz Masyhuri, dalam bukunya, 22 Aliran Tarekat dalam Tasawuf, ketujuh macam nafsu yang harus diperangi tersebut adalah:

  1. Nafsu Ammarah, letaknya di dada sebelah kiri. Nafsu ini memiliki sifat-sifat berikut: senang berlebihan, hura-hura, serakah, dengki, dendam, bodoh, sombong, pemarah, dan gelap, tidak mengetahui Tuhannya.
  1. Nafsu Lawwamah, letaknya dua jari di bawah susu kiri. Sifat-sifat nafsu ini: enggan, acuh, pamer, ‘ujub, ghibah, dusta, pura-pura tidak tahu kewajiban.
  2. Nafsu Mulhimah, letaknya dua jari dari tengah dada ke arah susu kanan. Sifat-sifatnya: dermawan, sederhana, qana’ah, belas kasih, lemah lembut, tawadlu, taubat, sabar, dan tahan meng- hadapi segala kesulitan.
  1. Nafsu Muthmainnah, letaknya dua jari dari tengah-tengah dada ke arah susu kiri. Sifat-sifatnya: senang bersedekah, tawakkal, senang ibadah, syukur, ridha, dan takut kepada Allah SWT.
  1. Nafsu Radhiyah, letaknya di seluruh jasad. Sifat-sifatnya: zuhud, wara’, riyadlah, dan menepati janji.
  2. Nafsu Mardliyah, letaknya dua jari ke tengah dada. Sifat-sifatnya: berakhlak mulia, bersih dari segala dosa, rela menghilangkan kegelapan makhluk.
  3. Nafsu Kamilah, letaknya di kedalaman dada yang paling dalam. Sifat-sifatnya: Ilmul yaqin, ainul yaqin, dan haqqul yaqin.

Adapaun dzikir khusus dengan nama-nama Allah (Al-Asma Al- Husna), tarekat syattariyah membagi dzikir jenis ini ke dalam tiga kelompok, yakni:

a) Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan keagungan-Nya, seperti Al-Qahhar, Al-Jabbar, Al- Mutakabbir, dan lain-lain.

b) Menyebut nama Allah SWT yang berhubungan dengan keindahan-Nya seperti, Al-Malik, Al-Quddus, Al-‘Alim, dan lain-lain.

c) Menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan gabungan dari kedua sifat tersebut, seperti Al-Mu’min, Al- Muhaimin, dan lain-lain. Ketiga jenis dzikir tersebut harus dilakukan secara berurutan, sesuai urutan yang disebut- kan di atas.

Artikel

Pesan Habib Luthfi bin Yahya Tentang Kebangkitan Tasawuf melalui Pemuda, Pedagang dan Wanita

Published

on

Pekalongan, JATMAN Online – Rapat Persiapan Multaqo Sufi Dunia yang digelar di Hotel Santika Pekalongan pada Rabu (01/02) menitikberatkan pada persoalan kebangkitan tasawuf sebagai salah satu isu utama.

Menurut beliau, ada tiga elemen yang perlu menjadi perhatian ahli tasawuf agar mampu bersaing di kancah internasional, di antaranya kebangkitan pemuda, kebangkitan pedagang dan peran wanita.

“Saya sudah sekian tahun tetap mengawasi bagaimana perkembangan thariqah itu sendiri sedangkan thariqah, tasawuf ke depan tantangannya luar biasa. Dan banyak lagi tantangan-tantangan kita terutama sufi-sufi kita yang ulama il barokah. Belum tentu ulama yang barakah itu akan campur tangan dengan perkembangan pemuda, paling hanya memberikan support. Dan seorang pemuda yang kita khususkan dari dunia sufi supaya bisa mengembangkan (kreatifitasnya), seperti dunia pemberitaan, surat kabar dan lainnya, istilahnya sekarang itu media sosial, sehingga (tasawuf) bisa berkembang dengan baik,” kata Dewan Pertimbangan Presiden.

Sambungnya, “Dan yang tidak kalah penting adalah mengumpulkan at-tijariyah, pedagang yang cukup bisa kita pahami yang cenderung kepada dunia tasawuf, sehingga tasawuf tidak ketergantungan dengan tangan di bawah bagaimana caranya supaya tangan itu selalu di atas. Perkembangan ekonomi dan pertanian perlu dikembangkan, didorong, didukung oleh pengetahuan tasawuf ini pentingnya. Dan di antara tasawuf-tasawuf itu bisa mengembangkan di dalam ekonominya, bisa berhubungan antar negara dengan negara, menjadi fasilitas atau jembatan antar negara tapi terlepas dari kepentingan politik. Maka dari itu mengapa perkembangan tasawuf dari setiap kota atau negara tidak begitu maju terus pesat, coba kita melihat status jangan hanya dari satu sisi aqidah tapi kekompakan satu golongan tertentu.  Bagaimana perkembangan keuangannya. Kita orang tasawuf sudah di atas itu bukan hanya di bawah terus. Mampu tidak kita berhubungan antar negara-negara kita masing-masing untuk meminta bantuan lapangan kerja yang bisa dikerjakan oleh santri-santri kita di dalam perekonomian.”

Di samping itu, Habib Luthfi juga menyampaikan bahwa masih banyak orang yang belum memahami tasawuf secara utuh.

“Banyak orang memahami tasawuf itu seolah-olah hanya memikirkan akhirat saja. Padahal kalo kita melihat Imamuna Asy Syadzili, beliau seorang ahli tasawuf yang luar biasa, tapi (juga) orang yang kaya luar biasa. Bagaimana juga Syekh Abdul Qadir al-Jilani mempunyai kuda-kuda yang baik, (sehingga) ketika dia dimintai tolong oleh seorang yang mempunyai penyakit dan harus diobati dengan hati kuda, dengan mudah Sayyidi Syekh Abdul Qadir al-Jilani menyuruh untuk memotong (kuda itu) satu hari satu. Inilah tanggung jawab kita semuanya ahli-ahli tasawuf, terutama Indonesia, karena Islam berkembang di Indonesia dengan sebab ahli tasawuf yang jumlahnya ada Sembilan yang ahli ekonomi, ahli pertanian, ahli kedokteran dan ahli obat-obatan. ini harapan saya untuk thoriqoh dan tasawuf ke depan sebagai orang yang bertanggung jawab atas perkembangan dunia tasawuf,” kata Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Terakhir, tokoh yang masuk dalam jajaran 50 muslim paling berpengaruh di dunia tersebut juga mengemukakan bagaimana peran wanita dalam dunia tasawuf.

“Di Indonesia mungkin berbeda dengan Timur Tengah. Kalau di Timur Tengah, seorang wanita dapat pembatasan-pembatasan keluar dan sebagainya. Tapi di Indonesia berbeda, seperti Solo, Yogya contohnya, banyaknya pasar itu dikuasai sama ibu-ibu pedagang yang hebat-hebat. Dari pedagang yang paling kecil seperti jamu sampai toko, semangat ibu-ibu luar biasa sekali. Seperti membicarakan masalah kaum wanita harus dimasukkan kepada tasawuf ini, apakah kita tidak bisa memanfaatkan kaum wanita sesuai dengan porsinya. Maka dari itu kita minta dengan hormat jangan sepelekan tentang peranan kaum wanita, khususnya di Indonesia untuk membantu perkembangan sufisme, perkembangan pesantren-pesantren. Karena seperti di Aceh sendiri, orang lelakinya tahunya sebagian minum kopi, bangun tidur dan kopi lagi dan setiap hari seperti itu. Sedangkan ibu-ibunya ke sawah, ke pasar, itu peranan wanita,” ungkap Rois Am JATMAN.

Sambungnya, “Pengalaman-pengalaman yang bisa kita lihat, bahwa kaum wanita itu banyaknya ‘gemi’ yaitu kalau pegang uang hemat, tahu persis perhitungannya. Maka apabila salah satu dari mereka kita masukkan dalam segi keuangan untuk kontrol keuangan dan sebagainya saya kira beliau-beliau itu lebih baik daripada kita-kita ini. Dan banyak di Indonesia kaum wanita yang pegang PT, CV yang cukup berhasil. Maka dari itu, kalau tadi masih diperbincangkan masalah kaum wanita, mau kita tolak, kita tidak bisa, sebab di Indonesia sendiri kita masih memerlukan sekali tentang perkembangan keuangan dan sebagainya. Kaum wanita memang kita angkat dan ternyata mereka lebih rapih daripada kita. Dan dia punya penghasilan sendiri dari mengelola makanan kecil, pakaian batik dan sebagainya. Dan apabila memerlukan keuangan, beliau-beliau itu lebih berani dari pada kita kita-ini. Maka kita tidak akan menyepelekan dan coba belajar menempatkan sesuai porsinya,”

Continue Reading

Artikel

Keharusan Ngaji Kepada Pewaris Nabi Menurut Syeikhul Azhar Imam Al-Syanwani

Published

on

Foto: Ilustrasi

Nama lengkapnya Muhammad bin Ali al-Syafi’i al-Syanwani. Lahir di Mesir di sebuah desa bernama Syanwan. Beliau belajar fikih madzhab Syafii kepada Syeikh Isa al-Barawi, pengarang Hasyiyah Minhaj, kemudian di al-Azhar dan Jami’ah Fakihani di Mesir.

Setelah Syeikh al-Azhar Imam al-Syarqawi yang merupakan guru al-Syanwani berpulang pada tahun 1227 H, al-Syanwani pergi meninggalkan kota Mesir karena enggan -merasa tidak pantas- diangkat menggantikan gurunya menjadi Syeikh al-Azhar (Guru Besar al-Azhar). Tetapi sebab beliau dianggap layak oleh otoritas kampus tertua di dunia itu akhirnya beliau dijemput oleh para ulama lalu didaulat menjadi Syaikh al-Azhar.

Imam al-Syanwani wafat tahun 1233 H dan dimakamkan di samping kampus al-Azhar. Imam al-Syanwani adalah seorang ulama besar bermadzhab Syafi’i di abad ke XIII. Beliau merupakan sosok alim yang produktif. Di antara karya-karyanya ialah Hasyiah al-Syanwani ala al-Mukhtasar Abi Jamrah dan Hasyiah Syarah Abd al-Salam.

Imam Abi Jamrah dalam Mukhtasharnya menyadur sebuah hadis riwayat Imam al-Bukhari tentang ilmu, Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين وانما العلم بالتعلم

“Barang siapa yang Allah kehendaki baik, maka Allah akan memberi pemahaman (ilmu) agama kepadanya, dan sesungguhnya ilmu itu dengan mengaji.”

Al-Syanwani selaku komentator kemudian membedah hadis tersebut, ungkap beliau,

“Sabda Nabi –shallallah alaihi wa sallam– “al-ta’allum” artinya seseorang tersebut belajar dari orang lain, yakni kepada para arif (kaum cendikia). Bukan dengan membaca buku-buku (otodidak). Jelasnya, ilmu yang mu’tabar (dianggap benar) tidak diperoleh kecuali dari para Nabi dan pewarisnya dengan cara mengaji.”

Demikian itulah tradisi yang dilakukan oleh para al-salaf al-shalih dari para sahabat, tabi’in serta tabi’it tabi’in dan juga ulama di generasi berikutnya. Misalnya saja, Imam al-Syafi’i –rahimahullah-. Meski Imam al-Syafi’i diberkahi kecerdasan yang luar biasa dan memiliki ilmu pemberian langsung dari Allah (al-faydh al-ilâhiyy) -atau lazim disebut ilmu laduni- beliau tetap berguru kepada ulama.

Imam Malik mengisyaratkan adanya ilmu itu pada diri al-Syafi’i yang saat itu masih belia dengan berkata,

اني أرى ان الله قد ألقى على قلبك نورا فلا تطفئه بظلمة المعصية

“Sungguh aku melihat kalau Allah Swt. telah menaruh dalam hatimu cahaya (ilmu), maka jangan engkau padamkan cahaya itu dengan kemaksiatan.”

Hal ini juga dirasakan sendiri oleh Imam al-Syafi’i yang kemudian beliau adukan kepada gurunya, Imam Waki’,

شكوت الى وكيع سوء حفظي

فأرشدني الى ترك المعاصي

وأخبرني بأن العلم نور

ونور الله لا يهدى لعاصي

Ku adukan kepada Syeikh Waki’ buruknya hafalanku

Tinggalkan saja maksiat katanya

Ilmu itu cahaya

Nur Allah tak mau menyinari pendosa

Begitu halnya dengan para ulama lain seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Imam al-Haramain, al-Ghazali, al-Nawawi, Jalaluddin al-Suyuthi, dan lainnya. Bahkan al-Suyuthi, sebagaimana hitungan Iyadh Khalid al-Thabba’, guru hadisnya saja berjumlah 195 ulama.

Dalam berguru pun tentu saja tidak boleh kepada sembarang orang sebab ilmu agama adalah ilmu warisan Nabi –shallallah alaihi wa sallam– yang diwahyukan oleh Sang Pemilik ilmu kepadanya. Ia bukan ilmu yang dihasilkan dari berpikir falsafi, pengalaman, atau eksperimen sebagaimana pengetahuan umum atau sains.

Al-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki mengungkapkan perihal karakteristik ilmu agama ini,

العلم تركة وميراث نبوي

“Ilmu agama adalah peninggalan dan warisan Nabi”

Oleh sebab itu, ilmu agama harus diambil dari jalur pewarisnya. Siapa mereka? Tentu saja dalam hal ini adalah ulama yang memiliki “nasab” (sanad pengetahuan) yang bersambung kepada Rasulullah –shallallah ‘alaihi wa sallam– dan mewarisi perilaku mulia beliau.

Mengenai pentingnya memperhatikan transmisi pengetahuan ini Imam Ibn Sirin ra. memperingatkan,

إن هذا العلم دين فانظروا عن من تأخذون دينكم

“Sesungguhnya ilmu ini merupakan bagian dari agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian”.

Wallâhu a’lam bi al-shawâb

Oleh : Habibiy Hasbullah (Wakil Sekretaris LTN PCNU Brebes)

Continue Reading

Artikel

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya: Perjalanan menuju Sayyidi Syaikh dalam Tarekat Naqsyabandiyah Kholidiyah

Fakhriati,
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Published

on

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, suatu sebutan bagi Tarekat Naqsyabandiyah yang dinisbatkan kepada salah seorang khalifah pemegang silsilah, Tarekat ini telah menyebar di nusantara dan harus menjadi perhatian pihak kolonial. Adalah salah seorang Ilmuwan, guru fisika, Prof. Dr. H. Kadirun Yahya yang tertarik dengan tarekat ini, bergabung dan menjadi pimpinan dari tarekat ini dan berhasil mengembangkan dan membesarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Di tangannya Tarekat Naqsyabandiyah tampil beda dari umumnya tarekat. Ciri khas Tarekat ini terletak pada nuansa keilmuannya. Beliau berusaha menjelaskan tarekatnya melalui teori eksakta, meskipun ia mengakui bahwa tidak mudah bagi semua orang untuk memahami persoalan metafisika lewat penjelasan ilmu eksata, kecuali oleh mereka yang memahami agama sekaligus sains dan teknologi.

Keberadaan ulama dalam dinamika sejarah Islam adalah suatu keniscayaan Ulama, yang disebut sebagai pewaris para nabi, bukan hanya menjadi tumpuan tempat bertanya umat tentang hukum dan ajaran Islam. Tetapi ia sekaligus berperan sebagai nahkoda yang menentukan ke arah mana umat akan dibawa. Pemikiran seseorang ulama banyak ditentukan oleh latar belakang historys, sosial, pendidikan, serta berbagai persoalan yang pernah atau sedang dihadapinya. Itulah sebabnya dipandang penting untuk mengetahui biografi seseorang ulama manakala hendak mengetahui pemikiran dan ajaran serta kiprahnya.

Prof. Dr. H. S.S. Kadirun Yahya, (1917-2001) ialah salah seorang ulama abad ke-20 yang memiliki latar belakang keilmuan yang tergolong berbeda dari kebanyakan ulama di Sumatera Utara. Ulama yang banyak mengecap pendidikan umum[1] dan pernah menjadi tentara dan pejuang kemerdekaan ini mencoba memadukan ilmu eksak dan metafisika dalam tarekat. Beliau berusaha agar tarekat yang dikembangkannya dapat dengan mudah dicerna oleh orang awam serta dapat diterima oleh orang-orang berpendidikan dengan cara memberikan contoh-contoh yang terdapat dalam lingkungan kehidupan sehari-hari serta dengan cara merasionalisasi ajaran Tarekat Naqsyabandiyah.[2]

Dilihat dari perkembangan dan jumlah pengikut Beliau dapat disebut cukup berhasil menanamkan ajarannya kepada umat. Surau di mana jamaah menimba ilmu serta melakukan ibadah dan ritual Tarekat berkembang bukan hanya di Indonesia, melainkan juga ke Malaysia dan Brunei Darussalam. Jamaah tarekatnya bukan hanya dari kalangan orang tua, sebagaimana lazimnya tarekat di Indonesia, melainkan juga dari kalangan kaum muda dan juga oleh kalangan berpendidikan tinggi.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Setting Sosial-historis dan Keagamaan

Kondisi sosial historis Sumatera Utara, khususnya Tapanuli Selatan bagian Selatan pada penghujung abad ke-19 hingga paruh pertama abad ke-20 ditandai oleh pergolakan mengiringi semangat yang semakin menggebu menentang kehadiran Belanda. Di kalangan masyarakat Tapanuli Selatan, kolonialis Belanda dicap sebagai orang kafir, musuh rakyat dan bangsa Indonesia. Para tokoh masyarakat, adat dan agama, nampaknya berhasil menanamkan kebencian terhadap penjajah, sehingga di Tapanuli Selatan tidak jarang terjadi pemberontakan sejak kehadiran belanda hingga masa agresi militer Belanda pasca kemerdekaan.[3]

Sejalan dengan upaya-upaya menanam kebencian terhadap penjajah, halaqoh-halaqoh keagamaan serta lembaga pendidikan keagamaan menjadi pilihan kaum pribumi. Pendidikan keagamaan inilah yang diakui sebagai sekolah yang mempersiapkan generasi akhirat. Sedangkan mereka yang memasuki pendidikan modern atau sekolah umum dipandang sebagai sekolah kafir yang melawan kehendak agama.

Pesantren sebagai pusat ilmu dan penyebaran ajaran Islam bukan hanya mengajarkan akidah dan ibadah, tetapi juga tentang tasawuf dan Tarekat. Di banyak pesantren di Tapanuli Selatan praktik Tarekat, terutama oleh mereka yang sudah lanjut usia, lazim dilakukan. Orang-orang Tapanuli Selatan yang sudah berusia lanjut banyak yang mondok di pesantren, dekat dengan rumah guru, untuk mendapatkan bimbingan rohani dan sang guru. Secara periodik, paling tidak tiga kali dalam setahun yaitu menyambut Ramadhan, menyambut hari raya haji, dan maulid nabi, mereka melakukan Tarekat yang mereka sebut dengan suluk.[4]

Kaum tarekat di Tapanuli Selatan mengatakan bahwa tarekat mereka adalah Naqsyabandiyah. Bila dilihat dari geneologi kemuryidan, standar ajaran, serta metode suluk pada tarekat yang berkembang di Tapanuli Selatan, nampaknya memang tarekat memiliki kaitan dengan tarekat ini.

Salah satu desa di Tapanuli Selatan yang telah dimasuki tarekat sejak lama ialah Desa Siharang-harang. Sejak lama desa ini telah menjadi tempat tujuan orang untuk mengikuti tarekat atau masuk. Dari desa inilah Sutan Sori Alam Harahap berasal. Ayahnya adalah seorang tokoh Tarekat sekaligus mursyid yang telah menyulukkan banyak orang di desa Siharang-harang dan sekitarnya. Praktik suluk di desa ini terus berjalan hingga saat ini, yang berlangsung diasuh secara turun menurun oleh keluarga klan atau marga Harahap.

Sutan Sori Alam Harahap merantau dan kemudian bekerja di kilang minyak Pangkalan Brandan. Di kota minyak inilah Beliau lahir dan dibesarkan. Dilihat dari situasi dan kondisi semangat kejuangan melawan penjajah maupun keberagamaan, kota kecil ini tidak jauh berbeda dari Tapanuli Selatan. Bisa jadi karena faktor penguasaan yang lebih kuat yang dilakukan oleh penjajah Belanda terhadap sumber-sumber ekonomi atau karena faktor geografis yang lebih dekat ke Aceh,[5] Semangat anti penjajahan di daerah ini bahkan lebih kuat dari pada di Tapanuli Selatan.

Pangkalan Brandan adalah daerah yang juga dikenal dengan daerah yang banyak penganut Tarekat. Kota kecil ini hanya berjarak sekitar dua puluh tujuh kilometer dari Kota Tanjung Pura, yang merupakan pusat Tarekat Naqsyabandiyah di Sumatera Utara. Di kota kecil ini terdapat pusat agama dan kegiatan tarekat yang bernama Babussalam atau yang lebih dikenal dikalangan masyarakat sekitar dengan sebutan Besilam.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Tarekat Naqsyabandiyah

Sejak awal, keberadaan tarekat seolah tidak dapat dipisahkan dari keberadaan agama Islam di Indonesia.  Penyebaran Islam yang terkenal damai dan berjalan cepat di nusantara adalah berkat kontribusi kaum sufi yang biasanya memiliki sifat dan sikap yang terkesan kompromis dan mengedepankan kasih sayang. Kaum sufi di Jawa maupun di berbagai daerah sejak awal terkenal dengan metode adaptifnya dalam menyikapi keberadaan budaya lokal. Hal ini dibenarkan oleh Alwi Shihab bahwa tasawuf telah membuka wawasan lebih luas bagi keterbukaan yang meliputi agama dan budaya lain, sesuai dengan hakikat agama Islam yang demikian terbuka dan tidak mempersoalkan etnis, ras, budaya, bahasa, serta letak geografis.”[6]

Pertumbuhan Tarekat di Indonesia cukup subur, kehadiran kolonial ternyata tidak menghentikan perkembangan tasawuf meskipun pemerintah penjajahan melakukan pengawasan yang ketat terhadap aktivitas para pengamal tarekat. Di antara tarekat yang paling berkembang di Indonesia ialah Tarekat Naqsyabandiyah. Meskipun kebanyakan penganut tarekat ini hanya mengetahui bahwa nama Tarekatnya adalah Naqsyabandiyah, Namun sebagian yang lain merasa memperjelas bahwa tarekat yang mereka anut di Indonesia adalah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Barangkali nama ini hanyalah sebutan bagi periodesasi perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah berdasarkan ketokohannya. Bagi sebagian, berhubungan tarekat ini semakin berkembang dan semakin luas penganut dan ajarannya,  sebutan ini juga menunjukkan ajaran dan faham Tarekat yang dianut dengan segala kekhasannya.

Berbeda dari sejumlah sufi yang mengutamakan hidup zuhud, Tarekat Naqsyabandiyah tidak menganut kebijaksanaan isolasi diri dalam menghadapi dunia maupun pemerintahan yang tengah berkuasa saat itu. Sebaliknya, ia gigih melancarkan ikhtiar dengan pelbagai kekuatan politik agar dapat mengubah pandangan mereka. Pelbagai kekuatan politik agar dapat mengubah pandangan mereka bahkan di kalangan Tarekat Naqsyabandiyah terdapat seorang Syaikh pemegang silsilah yang dijuluki mujaddid alfi sani (pembaru seribu tahun kedua), yaitu Syaikh Ahmad Sirhindi.[7]

Kedekatan Tarekat dengan politik dapat dilihat dalam sejarah Indonesia baik Qadiriyah wa Naqsyabandiyah maupun Naqsyabandiyah Khalidiyah senantiasa terlibat dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalam meningkatkan kehidupan sosial umat. Menurut Martin sejak pertengahan kedua abad ke-19 Tarekat Naqsyabandiyah telah menjadi kekuatan sosial keagamaan di nusantara setelah kembalinya Syaikh Ismail Al Minangkabawi dari Mekkah.[8]

Pertumbuhan yang cepat ini bisa jadi berkaitan dengan komitmennya sebagai anti penjajahan, namun yang jelas adalah bahwa pada periode ini telah terjadi peningkatan komunikasi yang dramatis antara Indonesia dan Hijaz. Seiring dengan ditemukannya kapal uap yang kemudian mempermudah pemberangkatan jamaah haji dari nusantara. Selain itu penyebaran tersebut ditunjang pula semakin banyaknya jamaah haji yang kembali dari tanah suci, yang kemudian turut mempopulerkan kharisma  dan kemasyuran para Syaikh-Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah seperti Syaikh Ismail al Minangkabawi, Syaikh Sulaiman Zuhdi, Syaikh Ahmad Khatib Sambasi dan Abdul Karim al Bantami. Faktor penunjang lainnya adalah kedekatan para elit politik kekuasaan terhadap tarekat.

Di Sumatera Utara, Syaikh Abdul Wahab Rokan adalah seorang tokoh Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah yang cukup masyhur. Menurut salah seorang cucu dari Syaikh tersebut, Syaikh Abdul Wahab Rokan membangun suatu perkampungan sekaligus pusat pengembangan tarekatnya, yang diberi nama Babussalam, atau dalam pengucapan masyarakat setempat disebut Basilam atau Besilam.[9] Suatu kampung atau pusat tarekat yang kemudian menjadi rujukan bagi Tarekat-Tarekat Naqsyabandiyah yang menyebar hingga ke polosok Tapanuli bagian Selatan.

Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya
Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Perjalanan menuju Mursyid

Dalam suasana perlawanan yang semakin meningkat terhadap kolonialisme serta pengaruh Tarekat yang sedang tumbuh berkembang. Prof. Dr. H. Kadirun Yahya lahir dari keluarga yang religius, dengan pendidikan umum yang memadai. Beliau yang semula diberi nama Muhammad Amin ini di lahir di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, pada hari Rabu tanggal 20 Juni 1917 / 30 Sya’ban 1335 H. Ayahnya bernama Sutan Sori Alam Harahap dan Ibunya bernama Siti Dour Siregar. Kakeknya dari ayah, Syaikh Yahya Harahap, dan kakek dari ibu, Syaikh Abdul Manan Siregar,”[10]  Keduanya adalah Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah di Tapanuli Selatan. Syaikh Abdul Manan Siregar, Bahkan ketika semasa berada di Besilam, pernah menjadi guru dari banyak guru tarekat, termasuk di antaranya Syaikh Muim Ibn Abd Al-Wahhab Rokan Al-Khalidi Al-Naqsyahbandi. Sedangkan Syaikh Yahya Harahap adalah guru Tarekat Naqsyabandiyah yang membuka tempat suluk di desa Siharang-harang.

Meskipun tidak pernah lama tinggal bersama kakeknya, namun secara keturunan, dalam darah Prof. Dr. H. Kadirun Yahya mengalir darah Tarekat baik dari jalur ayah maupun dari Ibunya, Itulah barangkali sebabnya di manapun ia berada untuk menuntut ilmu, perhatinnya kepada tasawuf dan tarekat, umumnya terhadap masalah keagamaan selalu muncul.

Sebagai keluarga Islamis religious, Muhammad Amin kecil telah dididik pendidikan akhlak dan tata krama berdasarkan agama dan tradisi Batak Angkola, yang diajarkan dalam keseharian kehidupan keluarga. Pelajaran mengaji telah diberikan sejak sebelum memasuki jalur pendidikan formal lewat ibunya, yang juga adalah seorang anak Syaikh Tarekat Naqsyabandiyah.

Menginjak usia tujuh tahun Prof. Dr. H. Kadirun Yahya mulai mengecap pendidikan formal. Jalur pendidikan formal dalam berbagai bidang ilmu Beliau tempuh selama kurang lebih 50 tahun, dari tahun 1924 hingga tahun 1974. Pendidikan formalnya Beliau dapatkan bukan hanya di tanah air, tetapi juga di Belanda, bukan hanya sekolah umum, tetapi juga dipadukan dengan sekolah agama.

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah sosok yang haus ilmu, Beliau tidak hanya mempelajari ilmu jiwa, tasawuf, filsafat dan fisika. Selama di Jawa, ia menyempatkan diri belajar agama, aliran kepercayaan, metafisika dan ilmu gaib lainnya. Ketertarikannya pada ilmu-ilmu ini terkait dengan berkembangnya aneka aliran mistisisme dan kebatinan, aliran teosofi, yang cukup berpengaruh di Jawa pada masa itu.

Berkenalan dengan Tarekat

Kedekatan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dengan Tarekat ditunjukkannya dengan berguru sesaat sekembalinya dari Belanda. Guru pertama yang Beliau temui ialah Syaikh Syahbudin Aek Libung, Sayur Matinggi, Tapanuli Selatan. Kepada Syaikh ini ia belajar tarekat dengan tekun selama lebih kurang tiga tahun, yaitu dari tahun 1943 hingga tahun 1946. Masa-masa sulit selama masa penjajahan Jepang hingga perjuangannya melawan agresi militer Belanda pasca kemerdekaan tidak memudarkan semangatnya untuk mengetahui lebih dalam tentang tarekat, jalan menuju Tuhan.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Tarekat di Tangan Sang Ayah

Salah seorang murid Prof. Dr. H. Kadirun Yahya yang setia, dan boleh jadi salah satu di antara yang paling berkompeten mensyarah ajaran Beliau ialah Prof. Dr. KH. Djamaan Nur. Pokok-pokok ajaran Prof. Dr. H. Kadirun Yahya disimpulkan oleh Djamaan Nur dalam bukunya yang berjudul Tasawuf dan Tarekat Naqsyabandiyah Pimpinan Prof. Dr. H. Saidi Syekh Kadirun Yahya, sebagai berikut:[11]

Tarekat Nasyabandiyah Kholidiyah pimpinan Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya berpegang pada Al-Qur’an, Hadist, Ijma’ ulama, Qiyas dan ilmu sunnatullah. Landasan tarekat ini menunjukkan bahwa Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya tidak ingin memisahkan antara Tarekat dengan syariat. Bagi sang professor Ilmu Fiqh mengatur Kesempurnaan hubungan hidup bernegara dan bermasyarakat, sedangkan Ilmu Tasawuf mengatur hubungan dengan Allah SWT sebagai sumber kekuatan dan ketenangan umat beragama. Beliau mengkritisi banyak orang yang merasa berpuas diri dengan mempelajari dan (merasa) menguasai Ilmu fiqh, padahal menurutnya dengan penguasaan itu ia baru mengenal salah satu sari dua ilmu bersaudara kembar.[12]

Poin terakhir dalam pedoman tarekat di atas, yakni ilmu sunnatullah adalah merupakan jalan masuk sang Professor membawa Tarekat ke ranah ilmiah dan rasio sebagaimana yang berulang kali Beliau kemukakan dalam buku tiga jilidnya yang berjudul Capita Selecta tentang : Agama Metafisika, Ilmu Eksakta serta bukunya yang berjudul Teknologi Al-Qur’an teknik Munajat Kehadirat Allah SWT.

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya menanamkan motto kepada para pengikut Tarekatnya berbunyi: Berprinsiplah sebagai pengabdi. Berabdilah sebagai pejuang. Berjuanglah sebagai prajurit. Berkaryalah sebagai pemilik. Beribadahlah sebagai Nabi beribadat.[13]

Hal ini menegaskan bahwa sang Professor sangat menjaga agar Tarekatnya tidak melenceng dari ajaran baku syariat Islam serta tidak bertentangan dengan peraturan kenegaraan maupun tradisi yang sesuai dengan agama. Namun karena menata hati menuju Tuhan tidak selalu dapat diperoleh dengan mudah, maka perlu ada jalan serta pembimbing yang mampu membawa seseorang salik melalui jalan dimaksud. Jalan itulah kaifat dan Penuntun jalan itulah mursyid. Sang professor juga nampaknya tidak ingin kelak para pengikutnya terjebak pada pengkulusan individu atau kelompok sehingga Beliau tidak memasukkan baiat sebagai salah satu jalan kesetiaan, sebagaimana terdapat dalam banyak kelompok keagamaan.

Selain itu, sang professor ingin menjaga kemurnian tarekatnya sebagai jalan menuju Tuhan. Mencampuradukkan tarekat dengan politik tentu dapat memperburuk citra tarekat tersebut, sehingga Beliau menghindari hal itu.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Ilmu Pengetahuan, Tarekat dan Syariat: Perpaduan Harmoni Menuju Hakekat dan Makrifat

Fenomena keilmuan dan keberagaman umat Islam belakangan, dalam pandangan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya memperlihatkan fenomena yang memperhatinkan. Kondisi ini menurutnya muncul akibat ketidakmampuan para kaum agamawan mengimbangi kemajuan sains dan teknologi, bahkan tidak mampu memanfaatkannya untuk keberagamaan. Di tengah bersinarnya kemajuan sains dan teknologi, agama masih saja dijabarkan secara tradisonal dan dogmatis.[14]

Dengan merujuk pada berbagai dalil, Beliau berpandangan bahwa agama Islam adalah agama yang ilmiah. Keyakinannya akan keilmiahan agama Islam Beliau tegaskan dalam Capita Selecta jilid I, dengan penegasan “Believe in God is no longer more a Believe but it has become to be a science; religion is science of the highest dimension”.”.[15]

Kemajuan sains dan teknologi dengan teori-teori ilmiah yang jika dipraktikkan atau diamalkan akan menghasilkan fenomena “Wonders of Mervels of physical Nature” (Kedahsyatan-kedahsyatan alam fisika). Kedahsyatan alam fisika ini oleh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya disebut sebagai “Pahala”. Pahala dunia ini sungguhnya, adalah rahmad Allah dari kekayaan-Nya, kerahamanan dan kerahiman yang dijolok keluar dengan motode ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pahaal dunia ini terabaikan akibat ketidakmampuan sebagian besar tokoh dan pemuka agama melihat isi terdalam dari ajaran agama yang ia sebut sebagai nyawa agama. Nyawa agama yang Beliau maksud tersebut ialah Tasawuf.

Beliau yakin sekali bahwa kedasyatan kekayaan, kerahmanan, dan kerahiman Allah tidak hanya diberikan Allah melalui praktik teori sains dan teknologi. Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam dan kemudian Hadist Nabi menyebutkan bahwa banyak hal tentang kebesaran dan kekuatan Islam. Sejalan dengan itu Beliau menyerukan agar umat Islam mampu merealisasikan kebesaran serta kemanfaatan dari kalimah Allah tersebut.

Dalam menjelaskan rasionalitas serta kedahsyatan kalimah Allah tersebut, Beliau mencoba menjelaskannya melalui rumus yang Beliau sebut Metafisika Eksakta atau Metafisika Ilmiah. Rumus metafisikanya bertumpu pada satu tenaga tak terhingga, yaitu kekuatan Tuhan, yang disimbolkan dengan tenaga tak terhingga ini jika digali dan kemudian dihadirkan niscaya akan dapat menghadapi atau menghentikan segala sesuatu apapun yang terjadi di bumi.

Baginya kehebatan dan kemanfaatan dari kalimat Allah tersebut hanya bisa diraih dengan ilmu dan metodologi (thoriqoh). Metodologi atau thoriqoh inilah agaknya yang dimaksud dengan tarekat, yakni metode atau jalan menuju Tuhan atau jalan untuk mendapatkan energi tak terhingga milik Allah SWT.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya nampaknya sangat bersemangat dalam menjelaskan keilmiahan ajaran Islam tersebut. Untuk mendapatkan energi tak terhingga milik Allah SWT.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya nampaknya sangat bersemangat dalam menjelaskan keilmiahan ajaran Islam tersebut. Untuk menghasilkan proyek ini Beliau membentuk lembaga Ilmiah Metafisika Tasawuf Islam (LIMTI), semacam lembaga riset dan pengkajian yang di dalamnya terhimpun sejumlah tenaga ahli yang ditugaskan untuk melakukan riset dan kajian tentang Metafisika ilmiah tersebut. Untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal, Beliau juga mengangkat sembilan orang asisten ahli yang bertugas membantunya mengkaji dan menganalisis secara mendalam perkawinan tasawuf dengan metafisika ilmiah.

Tidak puas sampai disitu, Beliau juga membuka Fakultas Ilmu Kerohanian dan Metafisika pada lembaga pendidikan yang dibangunnya yakni Universitas Pembangunan Panca Budi di Medan. Fakultas yang jarang ditemui di berbagai perguruan tinggi seantero tanah air bahkan dunia ini dirancang bukan hanya menjadi tempat belajar teori metafisika eksakta, tetapi juga sebagai tempat mempelajari metodik praktik metafisika itu sendiri.

Kegigihannya dalam menggali tenaga tak terhingga melalui metode Metafisika Eksakta tersebut tidak membuatnya lalai atau menjauh dari syariat. Baginya syariat meliputi seluruh aspek kehidupan baik dalam kaitan hubungan dengan Allah hubungan dengan sesama manusia, maupun hubungan dengan alam, yang kesemuanya harus terjalin dengan erat dan saling mengisi antara satu dengan lainnya. Mengamalkan syariat adalah salah satu jalan yang mesti dilalui dalam perjalanan menuju Tuhan. Hakikat ubudiyah guna mendapatkan kondisi haqqul yakin dan makrifatullah yang tahqiq tidak mungkin hanya dicapai dengan zikrullah melainkan harus dijalankan secara simultan dengan pelaksanaan syariat.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Wasilah dan Mursyid

Bagi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, tujuan pokok tasawuf yang paling tinggi ialah menggapai hadirat Allah SWT. Dan Meraih ridha dan kasih-Nya. Energi tak terhingga disediakan oleh Allah untuk makhluknya yang dikasihi-Nya dan yang dapat menggapai hadirat-Nya. Persoalannya adalah bahwa manakala semua orang mendapat kesempatan yang sama untuk mempelajarinya, namun tidak semua orang dapat memperolehnya. Dalam pandangan Beliau, yang mempusakai kalimah Allah atau energi tak terhingga itu ialah rohani bukan jasmani. Semua roh manusia berasal dari Tuhan Yang Maha Suci dan semua roh yang suci dapat bertemu dan bersahabat, meskipun terhadap roh yang jasadnya telah meninggal dunia.[16]

Namun demikian menurut Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, roh seseorang yang munajat kehadirat Tuhan, betapapun pintar dan banyak zikirnya, tidak akan mencapai sasaran tanpa melalui penghantar.[17] Penghantar, bukan perantara, Beliau dan kaum sufi lainnya sebut dengan wasilah. Menurut wasilah dalam ibadah adalah soal yang sangat pelik, sulit dan dapat digolongkan sebagai rahasia tertinggi, namun sangat penting. Menurutnya penjelasannya tentang wasilah berpedoman kepada ayat-ayat  Al-Qur’an antara lain surat Yusuf ayat 105, An Nur ayat 35 dan Al Maidah ayat 35 dan beberapa hadist nabi dan dijelaskan melalui pendekatan sains dan teknologi. Oleh karena itu, wasilah tidak bisa dipahami oleh orang yang hanya memahami fiqih tanpa dibarengi pengetahuan yang baik tentang sains dan teknologi, atau oleh orang mengerti sains dan teknologi tetapi tidak mengetahui Al-Qur’an dan hadist Nabi.

Wasilah Beliau gambarkan sebagai alat yang diberikan oleh Allah yang tiada terhingga, yang tidak dimiliki oleh siapapun termasuk Nabi Muhammad. Wasilah ialah media penyampaian dengan unlimited speed. Wasilah bukanlah manusia, sebab tidak ada manusia secara fisik yang bisa sampai kehadirat Allah. Namun jika seseorang manusia oleh Allah diberi suatu faktor tak terhingga, dalam hal ini berupa gelombang frekuensi atau nur, maka ia dimungkinkan untuk sampai kehadirat-Nya, sebagaimana Allah telah memberikannya kepada Nabi Muhammad SAW. Energi tak terhingga atau frekuensi inilah yang berperan sebagai wasilah.

Wasilah tidak mungkin diberikan kepada sembarang orang, melainkan kepada mereka yang telah mampu menerimanya atas iman dan takwanya. Wasilah tidak diletakkan dalam jasmani atau akal seseorang, sebab wasilah adalah produk super halus, sedangkan keduanya adalah benda kasar. Wasilah hanya diletakkan dalam ruh seseorang. Sebab meskipun ruh memiliki kemampuan terbatas, tetapi ruh yang suci, apabila kepadanya dipancarkan sesuatu nur dari zat yang tidak terbatas, yang dalam hal ini disebut nurun ‘ala nurin, maka ruh tadi akan memiliki kemampuan untuk menggapai asal muasal nurun ‘ala nurin tersebut, yaitu munajat ke hadirat Allah SWT.[18]

Nabi Muhammad dalam statusnya sebagai Rasulullah, pastilah menerima wasilah sebagai channel untuk alat komunikasi dalam bentuk nurun ‘ala nurin yahdillahu man yasya ‘u yang dimasukkan ke dalam ruh Rasulullah, dan tetap tertanam didalamnya. Abu Bakar Shiddiq r.a. berhasil menggabungkan ruhnya dengan ruh Rasulullah yang berisi nurun ‘ala nurin yang telah ditanam di dalamnya ilayhil wasilah, yaitu channel yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Kedua ruh itu, yakni ruh Rasulullah, yang telah tertanam di dalamnya ilayhil wasilah,  dengan ruh Abu Bakar, bergabung dalam satu frekuensi yang sama. Abu Bakar kepada Rasulullah disebut wasilah. Setiap ruh yang menggabungkan dirinya kepada ruh silsilah yang terakhir akan memiliki wabtahgu ilaihil wasilah.

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya menjadi pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah adalah Syaikh atau khalifah pada silsilah yang ke-35 dihitung dari Abu Bakar Shiddiq r.a. Tiga puluh lima silsilah tersebut dapat diibaratkan dengan 35 stasiun televisi atau radio yang menggabungkan gelombangnya dengan stasiun induk.  Kegelombang tersebut akan hilang lenyap dalam gelombang induk yang satu tersebut. Jika penyiar bersuara dari stasiun induk, maka seluruh 35 stasiun tersebut akan turut bersuara persis seperti suara dan seperti apa yang diucapkan oleh penyiar dari stasiun induk tersebut.[19]

Karena itu bagi seorang mukmin yang ingin bermunajat ke hadirat Allah, tidak ada jalan kecuali menggabungkan ruhnya dengan ruh muqaddasah rasulullah melalui arwahul muqaddasah waliyam mursyida sebagai silsilahnya.[20]

Manusia hidup yang dapat membantu menghantar penggabungan frekuensi dimaksud disebut mursyid. Mursyid bukanlah perantara, tetapi sebagai penghantar, penerus, atau penyalur wasilah energi tak terhingga atau nurun ‘ala nurin-Nya Allah SWT kepada hamba-hambanya yang  layak untuk mendapatkannya.[21]

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya

Suluk sebagai Media Latihan

Tarekat adalah cara atau teknis untuk mendapatkan hakikat ilmu tauhid dalam upaya mencapai haqqul yaqin. Tarekat merupakan jalan panjang dalam perjuangan membersihkan lahir batin dari segala anasir iblis untuk mendapatkan kemenangan hakiki yang kekal abadi saat mana kalimah Allah telah penuh bersemayam dalam diri hati sanubari. Salah satu cara yang ditempuh dan diajarkan oleh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya dalam menjalani tarekat adalah Suluk. Suluk adalah usaha yang sungguh-sungguh untuk membersihkan diri dan rohani, dengan bertobat, dari sifat buruk dan mengisinya dengan sifat baik, dengan selalu mendekatkan diri padanya. Setiap orang yang suluk, meyakini benar bahwa dirinya akan bersih dan tobatnya bakal diterima Allah. Dalam pandangan tarekat, hati seseorang tidak mungkin bersih dan bercahaya sehingga mencapai. Makrifatullah kecuali dengan jalan suluk.

Suluk disebut juga berkhalwat, karena seseorang yang sedang menjalankan suluk harus berada di tempat sunyi atau hening yang disediakan oleh mursyid, sehingga ia dapat beribadah dengan khusuk dan sempurna. Selain istilah suluk dan berkhalwat, Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya suka memakai istilah i’tiqaf biasanya Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya melaksanakan I’tiqaf di masjid yang Ia bangun, yang lebih lazim disebutnya dengan pengikutnya dengan nama surau.

Surau Sebagai Sarana Suluk

Pada umumnya di Sumatera Utara, surau dimaknai sebagai bangunan masjid kecil untuk tempat melaksanakan shalat. Biasanya surau dibangun dekat sungai atau pemandian wanita, guna memudahkan mereka untuk melaksanakan shalat setelah mandi atau bersuci. Dalam tarekat yang dikembangkan oleh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, surau adalah pusat tarekat pelaksanaan dan  pengembangannya. Oleh karena itu surau bukan sekedar bangunan, melainkan juga lembaga.

Semua surau berada di bawah satu badan yang bernama Badan Koordinasi Kesurauan (BKK). Keberadaan BKK ini dibentuk untuk menghindari penyelewengan dari standar pelaksanaan tarekat atau suluk seiring semakin berkembangnya tarekat Prof. Dr. H. Kadirun Yahya. Sejalan dengan itu pula BKK menetapkan standar pengelolaan surau, Pengelolaan asset, wakaf/hibah, hingga kepada pengembangan surau. BKK membentuk lembaga di bawahnya yaitu Badan Kerjasama (BKS). BKS menetapkan pengurus tempat wirid, yang bertugas menjembatani hubungan antar tempat wirid dalam satu kabupaten atau propinsi.[22]

Bidang Pendidikan

Yayasaan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya membawahi beberapa institusi pendidikan yang diberi nama Panca Budi. Perguruan Pembangunan Panca Budi dibangun dengan semangat pengabdian, sebagaimana ditanamkan dalam tarekatnya. Hal ini terlihat dalam Piagam Panca Budi yang berbunyi: 1. Devotion or worship to god-pengabdian kepada Allah SWT; 2. Devotion or worship to the nation-pengabdian kepada Bangsa; 3. Devotion or worship to the country-pengabdian kepada negara; 4. Devotion or worship to the world-pegabdian kepada dunia; 5. Devotion or worship to mankind and humanity-pengabdian kepada manusia dan perikemanusiaan.

Perguruan Pembangunan Panca Budi saat ini mengelola pendidikan mulai dari taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Perguruan Pembangunan Panca Budi yang dikelola Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya ada di Medan dan di Perdagangan, Simalungun. Perguruan ini termasuk perguruan yang terbesar di Kota Medan dengan ribuan murid. Universitas Pembangunan Panca Budi adalah salah satu universitas tertua di Kota Medan. Universitas ini dibangun pada tanggal 19 Desember 1961, mendahului semua jenjang pendidikan yang berada dalam lingkungan Perguruan Pembangunan Panca Budi Medan. Universitas ini bahkan memiliki Fakultas Metafisika, sekarang berubah nama menjadi Fakultas Filsafat, yang khusus dibangun untuk menjadi wadah pengkajian dan pengembangan Metafisika Eksakta dan Metafisika Ilmiah, yang menjadi ciri khas Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah Prof. Dr. H. Kadirun Yahya.

Kiprah di Bidang Sosial

Prof. Dr. H. Kadirun Yahya adalah contoh sosok yang berjiwa sosial. Keperduliannya terhadap masyarakat Beliau tunjukkan dari misi dan berbagai kegiatan sosialnya. Menurutnya kemampuan pendekatan kepada Tuhan harus juga bermanfaat untuk orang lain.  Menurut energi tak terhingga pemberian Tuhan dapat dimanfaatkan untuk membantu orang lain seperti pengobatan orang sakit. Keyakinan ini Beliau wujudkan dengan melakukan pengobatan atau berbagai penyakit yang diderita oleh masyarakat. Beliau juga turut berusaha mengobati kecanduan obat bius, seperti narkotika. Beliau tidak hanya melakukan pengobatan sendiri, tetapi Beliau mengajari murid-muridnya dan menugaskan mereka yang dianggap mampu melakukan pengobatan.

Untuk memudahkan pelayanan pengobatan, Beliau membuka praktik pengobatan yang biasanya, ditempatkan di surau atau di tempat khusus dekat surau. Beliau melalui yayasannya juga berusaha membantu peningkatan ekonomi masyarakat dengan cara melakukan pelatihan-pelatihan ekonomi berbasis syariah. Selain pendidikan yang dibangunnya, membentuk kelompok ekonomi seperti usaha madu dan sebagainya.

Sang Ayah di Mata Masyarakat

Barangkali berkaitan dengan ajaran tentang wasilah, di mana mursyid menempati posisi penting dalam upaya seorang salik menuju Tuhan, terdapat sikap kepatuhan dan ketundukan murid terhadap guru. Mursyid memiliki kharisma yang luar biasa di mata murid, di sisi lain terdapat batin pada banyak murid yang menggagungkan keberadaan sang mursyid. Mengenai hal ini tidak sulit untuk mendapatkan pengakuan dari para murid yang pernah mengaku pernah menemui Beliau.

Umumnya murid Beliau percaya adanya berbagai kejadian luar biasa yang dialami oleh sang ayah (Prof. Dr. H. Kadirun Yahya), seperti batu sijjil yang telah diisi oleh sang Syaikh dapat memadamkan letusan Gunung Galunggung atau air tawajuh bisa mengobati berbagai macam penyakit.[23]

Namun demikian, usaha dan perjuangan dalam mengembangkan ajarannya bukan tanpa tantangan. Banyak yang tidak sekedar menolak, melainkan juga menyebut tarekatnya dan pemikirannya sebagai jalan sesat. Menghadapi itu semua, sang professor berulang kali menegaskan bahwa tarekatullah masuk dalam kategori Ilmu teknologi Al-Qur’an, karenanya hanya bisa diterangkan dan dipahami dengan ilmu teknologi tinggi, tidak mungkin diterangkan dengan ilmu sosial atau ilmu fiqh.[24]

Dengan keyakinan bahwa iman kepada Allah lebih dari sekedar kepercayaan tetapi merupakan ilmu yang memiliki dimensi yang tinggi, lalu Beliau justru balik bertanya kepada kaum intelektual tentang apa bukti nyata yang sudah mereka tunjukkan atas keilmiahan Islam itu. Beliau juga mengkritisi ulama-ulama yang takut keluar dari dogma yang telah mengikatnya, tanpa berani memanfaatkan akal sehat untuk berfikir lebih logis tentang ajaran agama yang sesungguhnya logis dan rasional.[25] Dalam uraiannya tentang teknologi Al-Qur’an, Beliau berharap agar mereka yang mendiskredikan Tarekatnya agar mencoba memahaminya dengan kepala dingin, namun pada saat yang sama Beliau juga mengingatkan agar senantiasa berhati-hati agar tidak terjerumus kepada pemahaman yang keliru, yang dapat menyeret mereka ke lingkaran setan yang mengatasnamakan jalan menuju Tuhan.

Inilah jalan Beliau tempuh dan diperjuangkan dengan penuh semangat dan konsisten, hingga Beliau wafat dan dimakamkan di Arco, Depok pada hari Rabu tanggal 9 Mai 2001/15 Safar 1422 H.

Prof. Dr. H. SS. Kadirun Yahya adalah salah seorang  ilmuwan, guru fisika, yang berhasil mengembangkan dan membesarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Di tangannya Tarekat Naqsyabandiyah tampil beda dari umumnya tarekat. Ciri khas tarekat ini terletak pada nuansa keilmiahannya. Beliau berusaha menjelaskan tarekatnya melalui teori eksakta, meskipun ia mengakui bahwa tidak mudah bagi semua orang untuk memahami persoalan metafisika lewat penjelasan ilmu eksakta, kecuali oleh mereka yang memahami agama sekaligus sains dan teknologi.

Kemasan tarekat seperti ini memberi daya tarik tersendiri bagi banyak orang mulai dari kalangan ilmuan hingga orang awam. Bagi kalangan ilmuwan, tarekat seperti ini mendatangkan tantangan tersendiri untuk membahas dan penjelasan tentang tarekat seperti ini memberikan kekaguman tersendiri di balik ketidaktahuan mereka.

Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya bukan hanya pintar dalam memahami dan menjelaskan tarekatnya. Beliau juga memiliki kharisma yang mengagumkan bagi kalangan pengikutnya. Syaikh yang dikalangan pengikutnya dipanggil ayah ini diyakini memiliki kelebihan, sebagai buah dari pendekatannya kepada Tuhan, seperti dapat mengobati orang sakit dengan izin Allah, mampu meredam kekuatan nuklir. Hal ini  menurutnya dapat diperoleh setiap orang yang ruhnya mendapatkan nurun ‘ala nurin yakni tenaga tak terhingga yang diberikan tuhan atas kasihnya tatkala seseorang telah mampu mencapai hadirat Allah. Namun demikian, Beliau mengajarkan bahwa seseorang tidak akan mampu mencapai itu kecuali melalui penghantar, yang dalam tarekat disebut wasilah. Wasilah bukan orang, tetapi media penghantar yang diperoleh atas bantuan mursyid.

Kiprah sosialnya di tempuh lewat pengobatan, upaya-upaya peningkatan ekonomi masyarakat, selain membangun lembaga pendidikan formal. Melalui jalur pendidikan ini pula Beliau membangun mendirikan Fakultas Metafisika yang kemudian berubah menjadi Fakultas Filsafat. Fakultas ini dibangun sebagai pusat kajian dan pengembangan tarekat, yang menggabungkan metafisika dan ilmu-ilmu eksakta.  Suatu hal yang penting dicatat bahwa tarekat yang dikembangkannya tetap berpedoman kepada syariat sebagaimana dianut oleh umumnya ahlusunnah wal jamaah.

Fakhriati
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan
Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI

Download Jurnal Lektur Keagamaan


[1] Prof. Dr. K.H. Djamaan Nur, Tasawuf dan Tarekat Naqsyahbandiyah Pimpinan Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, Medan:USU Press, Medan,  2008, halaman  337-338

[2] Lihat contoh penjelasan tentang wasilah dan mursyid dalam Kadirun Yahya, 1989 : 25-52), Universitas Pembangunan Panca Budi juga menerbitkan buku saku berjudul : Penjelasan Singkat Tentang : Wasilah dan Mursyid, Universitas Pembangunan Panca Budi, tp, tt

[3] Mengenai kebencian orang Tapanuli Selatan terhadap penjajah Belanda, lihat (H.M.D. Harahap, 1993)

[4] Mengenai hubungan tarekat dengan pesantren, lihat (Bruinessen, 1995)

[5] Seperti diketahui bahwa perlawanan rakyat Aceh terkenal dengan kegigihannya melawan penjajah, yang mereka sebut dengan Kafer (kafir), sebutan yang sama dengan yang terdapat di Tapanuli Seletan. Kegigihan perlawanan ini tentu memberikan inspirasi bagi daerah-daerah lain. Terutama daerah tetangganya.

[6] Alwi Shihab, “Al-Tashawwuf al  Islami wa Atsaruhu fi Al-Tashawwuf Al-Indunisi Al-Mu’ashir”, Terj, Muhammad Nursamad, Antara Tasawuf Sunni dan Tasawuf Falsfi : Akar Tasawuf di Indonesia, Pustaka Iman, Depok, 2009 : 21

[7] Gelar ini diberikan berkaitan dengan pandangannya bahwa seribu tahun telah berlalu sejarah umat Islam sejak Nabi Muhammad, telah banyak yang harus disesuaikan dengan kondisi kekinian, karenanya penting merumuskan format pemikiran barau untuk seribu tahun berikutnya. Pandangan tentang perlunya keterlibatan kaum sufi dalam urusan dunia dan politik dia simpulkan dalam sepenggal kalimat bahwa: Raja adalah jiwa dan masyarakat adalah tubuh. Jika sang Raja tersesat, rakyat akan ikut tersesat

[8] Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat, Bandung : Mizan, 1995 : 99

[9] Fuad Said, Syeikh Abdul Wahab Rokan, Tuan Guru Babussalam, Pustaka Babussalam, Medan, 1983 : 134 : 172

[10] Efi Brata dalam Harian Analisa Medan Mimbar Islam-Jumat, 06 Jan 2012. Menurutnya Syeikh Abdul Manan Siregar kemudian menjadi seorang ulama mursyd di Padang Sidempuan

[11] Djamaan Nur, halaman 343-6

[12] Ibid., halaman 17

[13] Kadirun Yahya, Teknologi Al-Qur’an (Teknik Munajat Kehadirat Allah S.W.T.), Lembaga Ilmiah Metafisika Islam (LIMTI), Medan, 1989, halaman 5

[14] Yahya, Capita Selekta Tentang : Agama, Metafisika, Ilmu Eksakta, Jilid I dan II, halaman 16

[15] Ibid., halaman 3

[16] Yahya, Teknologi  Al-Qur’an (Teknik Munajat Kehadirat Allah S.W.T., halaman 34

[17] Yahya, Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW Ditinjau dari Sudut Ilmu Fisika Eksakta, halaman 1000

[18] Yahya, Isra ‘Miraj …, halaman 103

[19] Yahya, Isra ‘Miraj …,  halaman 109-111

[20] Yahya, Isra ‘Miraj …, halaman 25-39

[21] Yahya, Teknologi Al-Qur’an …, halaman 25-27

[22] Djamaan Nur, 2008, halaman 342-349

[23]Djamaan Nur dalam bukunya Taawuf dan Tarekat Naqsyahbandiyah Pimpinan Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya, pada Suplemen bukunya menjelaskan berbagai peristiwa menakjubkan dari kehebatan tarekat sang Ayah. Dan bahkan mengutip beberapa bukti dari permohonan gubenur Jawa Barat kepada YM Ayah untuk menghentikan ledakan Gunung galunggung. Dan juga permintaan Menteri Pertahanan Malaysia agar diberi batu sijjil untuk membasmi Partai Komunis di negerinya.

[24] Yahya, Teknologi Al-Qur’an … , halaman 37

[25] Yahya, Teknologi Al-Qur’an … , halaman 43

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending