Connect with us

Artikel

Ajaran Martabat Tujuh, Mutiara Hilang yang Ditemukan Kembali

Hamzah Alfarisi, Redaktur JATMAN Online

Published

on

JATMAN.OR.ID – Sabtu, 17 April 2021 pukul 20.30 WIB, PW MATAN DKI Jakarta menyelenggarakan pengajian ramadhan yang bertajuk “Kajian manuskrip kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah” karya Syekh Fadhl Allah al-Burhanpuri via Zoom. Kajian ini merupakan bagian dari program Kajian Sufi Ramadhan yang diselenggarakan di bulan ramadhan kali ini. Sebagai anak kandung dari JATMAN, MATAN memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan tarekat di kalangan anak muda dan kajian ini dalam rangka mewujudkan tanggung jawab tersebut. Selain kajian manuskrip ini, MATAN DKI Jakarta juga menyelenggarakan kajian kitab “Bidayatul Hidayah” karya sufi besar Imam Al-Ghazali setiap Kamis dan Jum’at pukul 20.20 WIB.

Kajian manuskrip ini diampu oleh Dr KH Ali M Abdillah, yang merupakan ketua PW MATAN DKI Jakarta sekaligus Sekretaris Komisi Pengakajian, dan Penelitian MUI Pusat. Dalam kajiannya, beliau memaparkan bahwa kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah adalah penafsiran dari Tauhid Wujudiah Ibnu Arabi, yang bercorak tasawuf falsafi. Ajaran tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara bersumber dari ajaran Ibnu Arabi, yang diantaranya adalah ajaran Martabat Tujuh dalam kitab Al-Tuhfah Al-Mursalah karya Syekh Fadl Allah al-Burhanpuri (w 1630) dari Gujarat India.

Dalam perkembangannya, ajaran Martabat Tujuh ini mengalami pasang surut. Pada masa Syekh Syamsuddin al-Sumatrani, ajaran martabat tujuh mengalami puncak kejayaannya karena mendapat dukungan dari Kesultanan Aceh Iskandar Muda (1607-1636). Namun pada masa Syekh Nuruddin Al-Raniri yang saat itu menjadi Mufti Kesultanan Iskandar Tsani yang menggantikan Syekh Syamsuddin, beliau mengeluarkan fatwa sesat terhadap ajaran Martabat Tujuh yang dianggap menyimpang (ilhad).

Tuduhan sesat yang dialamatkan oleh Syekh Nuruddin Al-Raniri kepada ajaran Martabat Tujuh diselesaikan secara dialogis oleh ulama muda Sayfurrijal. Akhirnya, beliau mendapat simpati dari Sultanah Safiyyat al-Din (1641-1674), kemudian diangkat sebagai mufti menggantikan Syekh Nuruddin Al-Raniri. Sejak saat itulah, ajaran Martabat Tujuh berkembang kembali di tanah Aceh. Perkembangan ajaran Martabat Tujuh di Nusantara tidak dapat dipisahkan dari Syekh Abdul Rauf Al-Sinkili yang memiliki murid diantaranya Dawud Al-Jawi al-Rumi, Burhanudin Ulakan, Muhyi Pamijahan, dan Abdul Malik Trengganu.

Ajaran Martabat Tujuh pada zaman kolonial Belanda ditumpas habis berdasarkan fatwa sesat oleh Mufti Betawi. Ulama-ulama yang mengajarkan Martabat Tujuh dilarang mengajarkannya atau jika mengajarkannya akan ditangkap. Selain itu, manuskrip ulama-ulama yang mengembangkan ajaran Martabat Tujuh ini dibawa oleh Kolonial Belanda. Akhirnya, kini kita hanya dapat berziarah, namun tidak bisa mempelajari ilmu dari Syekh Muhyi Pamijahan, karena manuskrip-manuskrip beliau dibawa ke Belanda.

Di akhir sesi, Kyai Ali menuturkan: “Ini (ajaran Martabat Tujuh) adalah mutiara yang hilang, yang sekarang pada abad ke-21, kita temukan kembali. Mari kita pelajari kembali karena sekarang sudah tidak ada lagi hambatan untuk mempelajarinya”.

Sumber tambahan: Sufisme Jawa: Ajaran Martabat Tujuh Sufi Agung Mangkunegaran Kyai Muhammad Santri.

Baca juga: Launching Buku Sufisme Jawa: Kyai Muhammad Santri Mitos atau Fakta?

Artikel

Firasat Murid ke Gurunya

Published

on

Firasat Murid ke Gurunya

Mursyid Khalwatiyah Syekh Yusuf al-Makassariy, al-Habib Syekh Sayyid Abd Rahim Assegaf Puang Makka atau yang kerap disapa dengan Habib Puang Makka, memiliki sejumlah guru tarekat.

Ada tiga gurunya di Makassar yang sangat berjasa, abahnya sendiri yakni Habib Puang Ramma, Habib Thahir Assegaf dan Allamah Nashirus Sunnah AG. KH. Muhammad Nur.

Saat haul ke-10 AGH. Muhammad Nur (29/06/2021) puang Makka masih di Jakarta, Duren Sawit kediaman gurunya juga, maulana Habib Luthfi bin Yahya. Selama seminggu Puang Makka di Jakarta dan kemarin (kamis/01/07) Puang sudah tiba di Makassar, Alhamdulillah.

Puang Makka mengenang 10 tahun gurunya Allahuyarham AGH. M. Nur dengan doa khusus dan kembali mengingat momen-momen kebersamaanya antara lain saat bersama di Muktamar NU ke-27 tahun 1984 di Situbondo.

Saat puang makka hendak mengantar jamaah umrah tahun 2011, seminggu sebelumnya ada firasat dalam hati akan kepergian sang guru ahli hadis dengan gelar Nashirus Sunnah ini sehingga Puang Makka bergegas ke RS Faisal Makassar menjenguk gurunya, AGH. M. Nur

Tabe Puang Anre gurukku, “kidoakan nga”. Demikian kata puang Makka di hadapan AGH. M. Nur sambil digenggamnya tangannya tanpa bicara tapi ada isyarat khusus yang disampaikan.

Setelah didoakan dan izin pamit, Puang Makka berangkat umrah keesokan harinya dan saat tiba di Mekka, Puang Makka mendapat berita tentang wafatnya sang guru AGH. Muhammad Nur. [Dr. K. M. Mahmud Suyuti, MAg.]

Continue Reading

Artikel

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Published

on

Ngaji Ihya Ulumiddin Bersama KH. Ali M. Abdillah: Suluk untuk Membersihkan Kotoran Batiniah

Manfaat Uzlah/Suluk adalah selamat dari segala bentuk kemaksiatan. Sebagaimana orang yang melakukan mukhalatah (hidup di tengah masyarakat namun tahan pada pengaruh buruk). Imam al-GHazali menerangkan ada empat penyakit kronis yang dapat dihindari saat seorang Uzlah yaitu: ghibah (bergosip), namimah (fitnah), riya (terpesona dengan kehendak diri sendiri) dan suqut anil amri wa nahi ala munka (diam dari perintah berbuat benar dan melarang kemungkaran).

Dalam bab riya, Imam al-Ghazali menjelaskan riya adalah melakukan sesuatu untuk mencari perhatian makhluk bukan karena Allah. Biasanya pelakunya jika melakukan sesuatu akan semangat apabila dilihat dan disanjung banyak orang. Riya ini termasuk penyakit kronis yang sulit dihilangkan. Bahkan wali abdal dan autad merasa kesulitan menghadapinya.

Riya termasuk syirik yang tersembunyi (syirik khafi). Rasulullah saw. telah mengingatkan bahwa yang paling beliau takutkan dari umatnya adalah bila seorang terjangkit syirik asghar yaitu riya. Riya bisa dihilangkan dengan mengamalkan ilmu tarekat yakni riyadhah mujahadah dan dzikir nafi isbat لا إلهَ إِلاَّ اللهُ

Jika sudah memahami makna substansi zikir nafi isbat, maka riya akan tergeser. Setelah istikamah dzikir nafi isbat kita juga akan memahami siapa diri kita dan mudah mengucapkan لاحول ولاقوة الا بآلله العلي العظيم

Selain itu, manfaat istikamah zikir nafi isbat, riyadhah dan mujahadah (suluk) adalah menguatkan ruhani sehingga memiliki filter bagi diri dari pengaruh lingkungan buruk. Karena karakter seseorang terbentuk dari keadaan lingkungannya. Maka ada ungkapan kalau kita berteman dengan tukang abu kita akan ketiban abunya dan bila kita berteman dengan tukang minyak wangi maka kita juga akan wangi.

Penyakit buruk akan menjadi penyakit yang terpendam. Maka sedikit sekali orang yang mengerti, apalagi dia orang yang ghofilin atau lalai. Jika orang yang istikamah zikir dan ia memiliki power saat berkumpul dengan orang yang karakter buruk, maka efek dari zikir ini akan bisa menjaga kita dari ketularan tabiat buruknya. Seolah-olah kita diberi penjagaan Allah untuk tidak mengikuti. Ini jika memiliki tameng ruhani. Jika kita tidak istikamah maka akan mudah mengikuti.

Selanjutnya Imam al-Ghazali mengutip sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda bahwa kamu akan menemukan manusia yang paling buruk yaitu yang memiliki dua wajah, dia datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan pada yang lain dengan satu wajah. Inilah ciri oraang yang terjangkit riya, yaitu mudah menjadi orang munafik. Dia tidak memiliki prinsip.

Ada satu cara lain untuk merubah watak yang buruk yaitu dengan sering mendengarkan kebaikan maupun keburukan, terlebih menyaksikan perbuatan itu langsung. Kalau kita berkumpul dengan orang yang biasa bohong maka bisa dilihat kalau ia sehari tidak bohong rasanya kurang lengkap. Kalau berkumpul dengan orang baik, ia akan mengambil banyak hikmah darinya.

Inilah rahasia sabda Rasulullah saw. bawa ketika kita duduk bersama-sama mengingat orang salleh dan ilmunya maka akan turun rahmat pada kita. Yang bentuknya kita diberi pemahaman baik buruk sehingga tidak melakukannya. Dan masuk ke dalam surga dan berjumpa dengan Allah.

Dengan mengkaji ilmu orang saleh dan mengingatnya dalam diri kita akan muncul sifat rahmat dan tergerak memiliki kesungguhan untuk mengikuti langkah mereka dalam melakukan kebaikan.           Maka dari itu penting untuk istikamah mengkaji ilmu tasawuf dan praktek suluk tarekat (zikir, riyadhah mujahadah) agar kita dapat menaikkah vibrasi positif di dalam diri dan memulai untuk melakukan kebaikan. Tentu saja dengan proses yang tidak sebentar dan tahan dengan segala dinamika perjalanan pengamalannya. [Silvia Bidayah Nafsani]

Al-Rabbani Islamic College Cikeas, 10 Juni 2021

Continue Reading

Artikel

Fase Kehidupan di Alam Dunia (3)

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Fitrah dan Potensi Manusia

Fitrah dan Potensi Manusia

Agar manusia mampu melaksanakan berbagai tugas dan tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada mereka sesudah aqil baligh (dewasa), maka sejak lahir di alam dunia, bahkan sejak hidup di alam ruh, setiap manusia telah diberikan fitrah (potensi) keyakinan terhadap adanya Allah SWT, Dzat Yang Maha Esa, Tuhan yang Maha Mencipta, Mengatur kehidupan dan Menganugerahkan seluruh kebutuhan manusia inilah yang disebut fitrah beragama.

Sebagaimana difirmankan dalam surat Ar-Rum ayat 30;

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Pengertian fitrah pada ayat di atas adalah naluri yang diciptakan oleh Allah SWT. Yakni manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan memiliki naluri beragama, yaitu agama tauhid, agama yang mengakui keesaan Allah SWT. Oleh karena itu, kalau ada manusia tidak beragama tauhid, maka hal itu tidaklah wajar dan merupakan penyimpangan dari fitrahnya. Mereka tidak beragama tauhid tersebut hanyalah semata-mata karena pengaruh lingkungan hidup mereka, terutama pendidikan yang ditanamkan oleh kedua orang tua mereka. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam hadits shahih:

“Setiap bayi yang dilahirkan pasti membawa fithrah (agama Islam). Kedua orang tuanya-lah yang menjadikan bayi tersebut memeluk agama Yahudi , Nasrani atau Majusi”.

Selain membawa potensi agama Islam, setiap bayi yang dilahirkan juga telah dilengkapi dengan berbagai potensi jasmani dan rohani yang dalam perkembangannya berbagai potensi tersebut teraktualisasi dalam bentuk pendengaran, penglihatan, daya berpikir dsb. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Nahl (16) ayat 78:

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberikamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Dalam mengarungi kehidupan di alam dunia ini, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari bayi, masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, masa setengah baya, masa tua dan tua renta, akhirnya wafat. Sungguh pun demikian ada di antara manusia yang wafat dalam usia muda belia atau sangat tua renta. Sebagaimana difirmankan dalam surat al -Nahl (16) ayat 70:

“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu. Dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”.

Jadi pada dasarnya, masa kehidupan manusia di alam dunia ini sangat relatif. Akan tetapi pada umumnya, kehidupan umat Nabi Muhammad SAW di alam dunia ini, rata-rata berkisar antara 60 (enam puluh) hingga 70 (tujuh puluh) tahun. Ada yang kurang ada pula yang lebih. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW:

“Umur umatku (rata-rata) adalah berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun.”[]

Bersambung….

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending