Ahli Tarekat Menyelaraskan Syariat, Tarekat dan Hakikat

Syekh H. Andi Hidayat Puang Rukka menyampaikan tausiyah mudzakarah. Mursyid Tarekat Khalwatiyah Samman tersebut memberikan pencerahan melalui QS. Ar-Rum Ayat 30:

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ ٱللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahannya; Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,

Rasulullah Saw telah mewariskan sistem ibadah kepada Allah Swt secara sempurna dan tetap mampu diakses dalam mengemban amanah pengabdian secara lahiriah (syariat) dan batiniyah (hakikat).

Hadirnya ahli tarekat esensinya ialah untuk membuka akses jalan untuk menyelaraskan secara bersinergi antara syariat, tarekat dan hakikat.

Misalnya, hadis tentang shalat dan korelasinya dengan hadis ihsan yang memunculkan sebuah metode yang berangkat dari maqashid syari’ah.

Ahli tarekat mengikuti sistem yang telah dirintis Rasulullah Saw tersebut untuk memperoleh kebahagiaan.

Berdasarkan sabda nabi Muhammad Saw, ”Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku, lalu berbahagialah (Rasul mengulang tiga kali) orang yang tidak melihatku, tetapi beriman kepadaku.” (HR Ahmad dari Abi Sa`id al-Khudri).

Pemberi akses jalan menuju sistem Rasulullah Saw seperti yang diungkapkan melalui sabdanya:

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).

Khalifah menurut ahli tarekat adalah pemegang sanad mu’tabarah yang dibangun berdasarkan sistem Rasulullah Saw. Dalam perspektif hadis, dikenal dengan istilah sanad hadis al-musalsal bi al-musafahah. Sanad tarekat harus senantiasa terjalin koneksi dan tidak boleh terlepas agar tercipta yang di sebut al-ma’iah. Sebagaimana dijelaskan:

“Hendaklah kamu senantiasa bersama dengan Allah. Jika tidak bisa maka hendaknya kamu bersama. “orang yang selalu bersama dengan Allah”. Sesungguhnya dia me-wushul-kan kamu kepada Allah, apabila kamu beserta dengannya. (Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili, Khazinatul Asrar Juz 1, h. 194).

Guru Mursyid Sebagai Penerus

Eksistensi guru mursyid adalah ulama pewaris nabi. Sebagai perpanjangan tangan dari lisan Rasul Saw dan pandangan kerohanian, walaupun terdapat mursyid secara akademis belum mampu menguasai ilmu-ilmu alat kelimuan Islam.

Seruan ahli tarekat ialah manusia berjalan di atas fitrah (QS. Ar-Rum: 30). Fitrah yang dimaksud adalah fitrah tauhid atau ma’rifat. Tidak ada perubahan seruan sejak nabi Adam sampai Rasulullah Saw, yaitu agama hanif.

Ibadah ahli ma’rifat starting dari Allah dan kembali kepada Allah, bukan dari diri sendiri. Konsep yang digunakan Minallah, ila llah dan ma’allah, bukan hanya konsep iman yang sekedar hafalan.

Tetapi seorang hamba paham, yakin dan merasakan dimana saja ia berada selalu bersama-sama dengan Allah. Metode untuk menggapainya adalah dengan zikir. Zikir terdiri atas dua, zikir hasanat dan zikir darajat.

Zikir hasanat adalah mengingat Allah dimana saja. Sedangkan zikir darajat adalah mengingat Allah disertai dengan teknis tertentu berdasarkan pedoman-pedoman zikir secara jahr atau sir.

Zikir yang paling utama adalah laa ilaha illa llah memiliki banyak karakter, yaitu disebut kalimat tayyibah, kalimat ikhlas, nafi isbat, da’wah, taqwa, saman al-jannah (memperoleh surga dalam QS. Ar-Rahman: 64), dan kalimat ‘urwatul wusqa (QS. Al-Baqarah: 256).

Penamaan ahli zikir tarekat bisa berbeda dan dapat diibaratkan sungai yang dilewati berbeda-beda namun bermuara ke laut yang satu. Biarlah kita berlayar dari sungai yang berbeda tapi akan ketemu pada laut yang satu dan kapal yang sama, yaitu laa ilaha illa llah.

Zikir adalah sumber dan pokok. Zikir seyogyanya menjadi konsumsi makanan dan minuman. Karena seorang salik sementara berjalan menelusuri suatu rute perjalanan menuju Allah.

“Ahli tarekat seharusnya tampil sebagai penggagas persaudaraan lokal mupun global, pelopor kebaikan, pejuang dan benteng kebenaran,” ucapnya.

Dengan zikir laa ilaha illa llah menjadi agen perubahan kepada yang lebih baik. Dengan zikir dapat mengantar manusia menuju ridha Allah.

Silaturahim dan muzakarah secara virtual online menunjukkan bukti Allah Maha Meliputi segala sesuatu.

Acara diakhiri dengan tawassul dan doa Prof. Dr. Abdul Kadir Ahmad, selaku Mudir Idarah Wustha JATMAN Sulawesi Selatan memberikan penghargaan setinggi tingginya dan ucapan terima kasih kepada Habib Puang, Syekh Andi Hidayat Puang Rukka, Syekh Sahib Sultan Krg. Nompo dan Syekh Puang Dr. Baharuddin. Sekertaris LP Ma’arif NU PBNU Drs. Harianto Oghie, seluruh pengurus JATMAN, Ketua PW MATAN SULSEL, serta simpatisan ahli tarekat.

Kontributor: Hardianto

Baca Lainnya
Komentar
Loading...