Connect with us

Berita

Adakan Ta’aruf, Pembina MATAN IAINU Kebumen: Tidak Ada Kata Mantan MATAN!

Published

on

Kebumen, JATMAN Online – Pengurus Komisariat (PK) Mahasiswa Ahlith Thariqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (MATAN) Institut Agama Islam Nahdatul Ulama (IAINU) Kebumen telah mengadakan pengkaderan Taman Sufi (Ta’aruf MATAN) di PP. Al Islam Kewedusan pada Sabtu-Minggu, 13-14 November 2021.

Kegiatan yang berlangsung dua hari itu mengusung tema “Meneguhkan Identitas, Memperluas Intelektualitas, Memperdalam Spiritualitas di Era 5.0” dengan menghadirkan empat pemateri, Dr. Moh. Syakir S.Ag (Ketua PW MATAN Jawa Tengah), KH. Ali Mu’in Amnur, Lc, M.Pd.I (PP. Al Istiqomah Tanjungsari), Gus Mujasim SHI.MSI (PP. Al Ghufron Kuwarasan), dan Gus Fachrudin Achmad An-Nawawi (Ketua PC RMI NU Kebumen).

Acara yang bertempat di PP Al Islam ini dihadiri oleh Kyai A. Mufaqih Khozi selaku Idarah Syu’biyah JATMAN Kebumen, KH. Mulyani selaku aminussunduk JATMAN, lembaga Muslimat Thoriqoh diwakilkan oleh Nyai Farida Sya’roni, Santri PP Al Islam Kewedusan, PK PT IPNU IPPNU IAINU Kebumen, UKM Dakwah IAINU Kebumen, UKM Racana IAINU Kebumen dan segenap keluarga besar MATAN IAINU Kebumen.

Tidak hanya itu, peserta yang hadir sekitar 30 orang tidak hanya diikuti oleh mahasiswa IAINU Kebumen, tapi juga dari luar IAIN seperti, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN SUKA) Yogyakarta, Universitas Ma’arif Nahdlatul Ulama ( UMNU) Kebumen, Remaja Masjid Kewedusan, dan santri dari Pondok Pesantren Al Islam.

Pembina PK MATAN IAINU Kebumen Gus Mujasim, SHI.MSI menuturkan, bahwa tidak ada mantan MATAN sekali bergabung selamanya tetap keluarga dimanapun berada, semampunya pengurus bisa openi anggotanya yang sudah bergabung.

“MATAN itu bukan hanya sekedar Ta’aruf kemudian keluar, Tidak. Namun sebisa mungkin aktif dalam kegiatan. Sekali bergabung selamanya tetap keluarga tidak ada istilah mantan MATAN”. Tuturnya.

Sementara, Ketua PK MATAN IAINU Kebumen, Syukur Riyadin menegaskan agar pengurus dan angota dapat menjadi pembangunan MATAN di Kebumen.

“Mari bersama-sama kita membangun MATAN khususnya di Kebumen. Tentunya dengan niat berkhidmat lillah, memiliki ghiroh yang tinggi, dan solid kita mampu menjalankan roda organisasi ini dengan mudah. Jalin komunikasi dengan baik, sebesar apapun masalahnya diselesaikan bersama maka akan mudah dilalui,” tegas Syukur Riyadin.

Maulana Yusuf selaku ketua panitia taman sufi menambahkan, bahwa di dalam MATAN bukan orang-orang suci, tapi orang yang bersama-sama belajar membersihkan hati.

“Taman Sufi (Ta’aruf MATAN) ini merupakan agenda MATAN IAINU Kebumen yang pertama kali diselenggarakan, dalam rangka memperkenalkan thoriqoh dikalangan mahasiswa atau kaula muda untuk bersama-sama belajar membersihkan hati dengan nilai-nilai ketasawufan dan selalu mendekatkan diri kepada ulama melalui MATAN ini,” pungkasnya.

Acara taman sufi (taaruf matan) IAINU Kebumen sukses dengan berbagai keterbatasan dan kekuranganya. Ada beberapa mandat yang disampaikan oleh sekertaris JATMAN Kebumen (Ky. A. Mufaqih Khozi). Atas dawuh Rois JATMAN Kebumen (KH. Saefudin). Ada 4 poin. Pertama, apresiasi penuh kepada matan yang telah menyelenggarakan ta’aruf MATAN. Kedua, hal yang luar biasa mengenalkan thoriqah pada kawula muda. Tiga, mendukung penuh membentuk Pengurus Cabang MATAN Kebumen. Empat, sabar dalam berjuang karena MATAN berbeda dengan organisasi lain.

Berbagai kegiatan dan program JATMAN yang akan di jalankan nantinya MATAN dapat membantunya. Bersinergi dan berkolaborasi, kerjasama dengan organisasi lainya dalam lingkungan kampus maupun luar kampus. (red. Maghfur Huda)

Berita

Tasyakuran Gelar Pahlawan Nasional H. Umar Ismail, Gus Zastrow: Beliau Petarung Hebat!

Published

on

By

Depok, JATMAN Online – Budayawan tanah air Ngatawi Al-Zastrow atau lebih akrab disapa Gus Zastrow pada gelaran tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan nasional bagi Ketua Lesbumi pertama H. Usmar Ismail mengutarakan bahwa sosok sutradara film, sastrawan, dan wartawan itu mencontohkan apa yang telah dilakukan oleh wali songo dalam hal berdakwah.

Ketua kelompok musik Ki Ageng Ganjur yang masih terus aktif sampai sekarang itu mengatakan bahwa H.Usmar Ismail mencoba masuk menguasai teknologi dan mendalami perfilman sehingga di tangannya itulah film dijadikan sebagai alat penyadaran sekaligus membangun pendidikan.

“Hal itu sama persis dengan wali songo yang sukses membuat wayang untuk dakwah Islamiyyah dan tarbiyah Islamiyyah, itulah dakwah bi tsaqofah,” ujar Gus Zastro di hadapan 1500 nahdliyin yang memadati lapangan di Jl Telaga Golf, Sawangan Raya, Kota Depok, Rabu (01/12).

Gus Zastrow menambahkan, maka di tangan H. Usmar Ismail pula film dijadikan sebagai sarana dakwah untuk membangun kesadaran kebangsaan dan nilai spirit kebangsaan.

“Kalau kita mau meniru Almarhum H. Usmar Ismail di zaman sekarang kita harus gunakan gadget untuk membangun kesadaran Islam ala an-Nahdliyah, mendidik dengan dakwah Ahlisunnnah dan membangun karakter bangsa melalui wasilah ini,” terangnya.

“Beliau petarung yang hebat, pernah mengalami dilema untuk membuat film. Membuat film bermutu tapi tidak laku, atau membuat film kacangan tetapi laku,” imbuhnya.

Gus Zastrow juga mengungkapkan bahwa H. Usmar Ismail pernah membuat film dengan judul Perjamuan Agung. Film dengan adegan dan cerita yang sangat bagus, mendapat penghargaan di Ajang FFA tingkat Asia, tetapi penontonnya tidak ada.

“Karena penonton kelas bawah tidak paham terkait isinya dan kalangan kaum kaya dan terpelajar tidak mau menonton karena film tersebut mengandung kritikan bagi mereka,” tandasnya.

Acara yang diselenggarakan oleh alumni Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) Bogor, Depok, Bekasi, Tanggerang dan sekitarnya itu menjadi lebih khidmat karena kehadiran cucu dari H. Usmar Ismail, Alvin Rizky Ismail memberikan yang memberikan sambutan hangat atas nama keluarga.

“Sangat bangga bisa berada di tengah-tengah warga NU dan terima kasih banyak atas dukungan selama ini hingga Alm H Usmar Ismail dinobatkan sebagai pahlawan Nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua panitia Dr. Ahmad Faqihuddin mengatakan rasa syukurnya karena acara tersebut diselengarakan di Kota Depok.

“Menjadi sohibul wilayah dan terima kasih kepada jajaran Kapolres, reses Intel Kapolres kota Depok, Ansor Banser dan untuk lembaga serta banom NU yang hadir dari Debotabek,” pungkasnya

Hadir pada acara tersebut Rais Syuriah PBNU KH Manarul Hidayat, KH Zainuddin Ma’shum Ali, KH Fakhruddin Murodi, Ketua PCNU Kota Depok Ustadz Ahmad Solechan, Ketua, Sekretaris dan pengurus inti PCNU se-Bodetabek. (red. Abdul Mun’im Hassan)

Continue Reading

Berita

Mursyid Hanya Untuk Kalangan Petani, Habib Puang Makka: Itu kesombongan Belaka!

Published

on

By

Jakarta, JATMAN Online – Kajian Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al-Mu’tabaroh An-Nahdliyyah (JATMAN) Sulawesi Selatan dengan tema “Posisi Mursyid Bagi Salik”, Minggu (28/11), menjelaskan kedudukan Mursyid dalam Thoriqoh.

Sebagai pemateri dalam kajian ini yaitu Dr. KH. Ali M. Abdillah, M.A. (PW MATAN DKI JAKARTA), Dr. KH. Ruslan Wahab, M.A. (Wakil Rois Syuriah JATMAN Sulses) dan Pensyarah kajian ini adalah Guru Mulia Habib Abdurrohim Assegaf Puang Makka (Rois Awwal Idaroh Aliyah JATMAN).

Acara ini dibawakan oleh moderator Muhammad Ikhsan (Plt. Sekretaris PW MATAN Sulses) yang kemudian dimulai dengan sambutan yang disampaikan Prof. Dr. H. Abd Kodir Ahmad, MS. MPU. (Mudir IW JATMAN Sulses) juga Plt. Pengurus Pusat MATAN yaitu Dr. Hasan Chabibie.

Menurut Kiai Ali Abdillah, mursyid adalah guru bagi kalangan Tarekat di dalam tasawuf yang mampu mengantarkan seorang murid wushul ilallah. Jika mursyid diartikan dan didefinisikan secara liberal maka ini berbahaya.

“Jika Mursyid didefinisikan secara liberal, maka ini sangat berbahaya” kata Kiai Ali, pada saat memberikan materi pertama tema “Posisi Mursyid Bagi Salik” melalui Virtual Zoom, (28/11).

“kalau ada yang mengatakan bahwa google saja merupakan mursyid, ini yang sangat berbahaya sekali”, Tegasnya.

Tidak hanya itu, kiai Ali juga menjelaskan bahwa Mursyid (guru) Kamil Mukammil memiliki ciri-ciri tertentu.

“ciri-ciri mursyid yaitu pertama, berpegang teguh terhadap ayat-ayat Allah swt yakni berpegang kepada al-quran dan hadis. Kedua, Para mursyid mengajarkan sesuatu dari al-quran dan hadis juga mengajarkan hikmah pencerahan kepada murid-muridnya. Dan ketiga, para mursyid yang kamil mukammil mengajarkan pencerahan hikmah yang tak bisa dilakukan oleh orang sembarangan”, Jelasnya.

Selain itu, pada kesempatan terakhir Habib Abdurrohim Assegaf Puang Makka sebagai pensyarah memberikan pencerahan kepada audiens tentang esensi seorang mursyid.

“Fungsi Mursyid bukan hanya sebagai konsultan akan tetapi sebagai dokter yang mengetahui suatu penyakit murid yang kemudian akan dituntun agar penyakit itu segera pergi dari tubuh seorang murid”, Pungkasnya.

Ia juga mengkritisi pemahaman tokoh agama atau ustadz-ustadz yang menyatakani hadirkan Allah Swt ke dalam diri bukan diri yang dihadirkan untuk menghadap Allah.

“Yang pertama diajarkan mursyid kepada murid yaitu menghadirkan diri kita kepada Allah Swt bukan Allah yang hadir kepada kita seperti yang diajarkan para ustadz zaman sekarang”, Beber Puang Makka.

Ia pun menganggap orang yang menyatakan mursyid itu hanya untuk kalangan petani adalah suatu kesombongan.

“jikalau ada yang mengatakan Mursyid hanya untuk kalangan petani saja maka itu adalah suatu kesombongan belaka”, Tegasnya.

Puang Makka juga menceritakan seorang wali allah murid Syekh Abul Hasan As-syadzili yaitu Abul Abbas Al Mursi yang memiliki murid yang sekarang tidak jarang menjadi kiblat kajian tasawuf dunia yakni Ibn Athoillah As-Sakandari. Ibn Athoillah mencari mursyid dengan kurun waktu yang cukup panjang dalam dhidupnya kemudian ia menemukan Abul Abbas Al-Mursi dan dijadikan Abul Abbas sebagai Mursyidnya.

Hal ini merupakan perjalanan seorang guru mencari seorang Mursyid dan Mursyid langsung menuntun muridnya hingga wushul ilallah dan menjadi tokoh hebat yang karyanya terkenal diseluruh penjuru dunia hingga sekarang.

Continue Reading

Berita

MATAN IAIN Pekalongan dan MATAN UNSIQ Wonosobo Perkuat Ukhuwah

Published

on

By

Wonosobo, JATMAN Online – Perkuat Ukhuwah Islamiyah, Pimpinan Komisariat (PK) Mahasiswa Ahli Thoriqoh Mu’tabaroh An-Nahdliyah (MATAN) Instutut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan bersama  PK MATAN Universitas Sains dan Ilmu Qur’an (UNSIQ) Wonosobo adakan silaturohim dan ziarah makam pendiri Pondok Pesantren Al-Asy’ariyah, Kalibeber, Kec. Mojotengah, Kab. Wonosobo, Jum’at (27/11).

Kegiatan ini diawali dengan Silaturrohim antara PK MATAN IAIN Pekalongan dengan PK MATAN UNSIQ Wonosobo, lalu dilanjutkan sowan (ziarah) ke maqbaroh auliya’ para pendiri pondok pesantren Al-Asy’ariyyah yang menjadi cikal bakal besarnya nama ponpes Al-Asy’ariyah dan berjaya hingga sekarang, diantaranya adalah sowan (ziarah) ke komplek makam K.H. Muntaha Awal(Karangsari), K.H. Asy’ari dan K.H. Muntaha Alhafidz (Deroduwur) diisi dengan bacaan Tahlil dan Sholawat nariyah, kemudian dilanjutkan sharing-sharing ilmu keorganisasian seputar MATAN di sekertariat PK MATAN UNSIQ.

Ketua PK MATAN UNSIQ Syafri Fajarwanto mengatakan, silaturohim dan ziarah adalah amaliyah warga nahdliyyin yang harus kita lestarikan, karena silaturrahim di samping banyak keutamaannya diantara lain dimurahkan rezeki dan dipanjangkan umurnya, juga dari segi tasawuf sebagai penyambung hubungan lahir maupun batin (nyambung roso handarbeni) antar sesama, dari segi sosial kemanusiaan pun sebagai sarana untuk menyenangkan perasaan orang lain dengan bertegur sapa menanyakan kabar.

Sedangkan ziarah kubur sendiri itu dianjurkan, sebagai media untuk mengingat mati juga untuk mempersiapkan bekal untuk akhirat, terlebih lagi jika ziarah ke makam para wali dan sholihin, itu merupakan ibadah yang disunnahkan. “Silaturrahim adalah media untuk menyambung raga, sedangkan ziarah (kubur) adalah silaturruh atau menyambung ruh kita kepada para auliya’ yang telah mendahului kita” Ujarnya.

Koordinator Departemen Dakwah dan Jurnalistik PK MATAN UNSIQ Muhammad Falahudin memberikan dukungan penuh dan apresiasi terkait adanya kegiatan ini, yang menunjukan adanya hubungan baik antar lembaga MATAN lintas Universitas demi mewujudkan sinergitas yang solid antar MATAN lintas Universitas. “Adanya kegiatan silaturrohim seperti ini semoga bisa terus berlanjut sampai generasi MATAN di masa-masa mendatang, karena dapat merekatkan rasa sosial-humanis antar kader MATAN” Ucapnya.

Anggota PK MATAN IAIN Pekalongan M. Nailul ‘Ulum mengatakan ajang silaturrohim ini sangat bagus untuk saling tukar pikiran dan sharing ilmu tentang kemajuan dan berkembangnya MATAN ke depan, “Dengan sowan (ziarah) ke makam K.H. Muntaha bin K.H. Asy’ari, kita bisa menjadikan beliau sebagai teladan dalam mengamalkan ilmu-ilmu Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, maupun diamalkan kepada generasi MATAN di masa mendatang pada khususnya untuk kemajuan organisasi, ataupun generasi muda millenial pada umumnya” Pungkasnya. (red. Arif Subhi)

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending