5 Pilar Kiai Asrori

Semua ajaran Kiai Achmad Asrori al-Ishaqi, dalam hal praktek ketarekatan, telah tersusun melalui 5 (lima) pilar utama yang telah ditetapkan sebagai soko guru, tuntunan, bimbingan dan wasiatnya sebagai mursyid tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah Utsmaniyah.

Pilar I: Ketarekatan
Kiai Achmad Asrori al-Ishaqy memahami, bahwa masih banyak yang anti terhadap tarekat. Diantaranya masih banyak yang memandang bahwa amalan-amalan tarekat sangat ketat dan berat. Kemudian, untuk memasuki tarekat, seseorang haruslah memiliki tingkat kesucian lahiriah dan batiniah tertentu. Padahal, menurut Kiai Asrori, akan terjadi dampak negatif yang luar biasa dalam umat Islam, jika mereka enggan memasuki tarekat. Antara lain: Pertama, merosotnya penghayatan keagamaan, Kedua, melemahnya dimensi spiritualistik. Ketiga, melemahnya kesalehan sosial. Oleh karena itu, diperlukan institusi yang khusus menangani masalah spiritualitas yaitu tarekat. Maka berdirinya Jama’ah al-Khidmah bertujuan untuk mewadahi mereka yang belum siap secara mental dan spiritual untuk bertarekat, tetapi sangat membutuhkan dzikir-dzikir dengan bimbingan orang-orang yang memiliki genealogi spiritual yang jelas.

Pilar II: Kependidikan
Kiai Achmad Asrori al-Ishaqy menjadi mursyid TQN ketika baru berusia 30 tahun. Ia ditunjuk langsung oleh ayahnya, Kiai Usman al Ishaqy. Sebelum menjadi mursyid, beliau mendirikan pondok pesantren, yang bermula dari jama’ah kecil di masjid dekat rumahnya. Kemudian, setelah pesantren berdiri, ia melanjutkan program pembinaannya, sesuai dengan gaya ketarekatan. Perkembangan TQN sampai saat ini, salah satunya karena didukung oleh keberadaan pesantren yang didirikan oleh Kiai Asrori, yaitu pesantren Al-Fithrah. Untuk mewujudkan misinya, pondok pesantren ini membuat kegiatan sendiri yang lain dari pada yang lain. Secara umum, kegiatan-kegiatan yang ada pada Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah digolongkan menjadi tiga, yaitu syiar, wadlifah dan tarbiyah.

Pilar III: Keorganisasian
Berdirinya organisasi al-Khidmah, secara umum dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa demikian sulitnya mencetak generasi saleh yang dapat menyenangkan kedua orang tua, sahabat, tetangga, guru-guru sampai Rasulullah saw. Serta banyaknya persoalan yang mendasar, sehingga mendesak didirikannya sebuah organisasi. Organisasi itu, tidak langsung bernama tarekat, tapi dengan nama lain yang lebih bisa diterima masyarakat awam. Oleh karenanya, didirikanlah Yayasan al-Khidmah. Melalui al-Khidmah, beliau menetapkan sistem kepengurusan yang jelas dan aplikatif. Manajemen organisasi ditata sedemikian rupa, mengikuti sistem modern. Hal ini terlihat dari struktur organisasi al-Khidmah yang minimal terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, koordinator dan seksi-seksi sesuai kebutuhan.

Pilar IV: Keumatan
Sampai akhir hayatnya, Kiai Asrori belum sempat menunjuk salah seorang murid atau keluarganya untuk menggantikan kedudukannya sebagai mursyid TQN. Namun, ia menjelaskan tentang syarat-syarat menjadi mursyid. Persoalan keumatan telah diserahkan oleh Kiai Asrori kepada para Imam Khususi. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap umatnya di wilayahnya masing-masing. Kiai Asrori mencoba membuat sistem baru dalam keorganisasian tarekat. Sistem baru itu berbentuk sebuah organisasi modern yang memiliki struktur dan pembagian kerja, yang jelas-jelas kolektif – kolegial. Demokratisasi pun juga melekat dan system ini, dan akan sangat berbeda dengan sistem kepemimpinan tarekat sebelumnya. Namun yang lebih menarik lagi, mursyid tarekat masih berpusat padanya. Dengan demikian, sampai kapan pun posisi tertinggi dari kepemimpinan TQN Usmaniyah, tetap akan mengacu kepadanya. TQN Usmaniyah akan terus berkembang melalui para Imam Khususi yang akan terus bertambah, mengikuti perkembangan jama’ah al-Khidmah. Dari sini, persoalan keumatan (khususnya jama’ah TQN) akan dapat terayomi dan terpelihara dengan baik.

Pilar V: Kekeluargaan
Bahwa yang dimaksud dengan keluarganya adalah Istri dan putra-putrinya. Akan tetapi, Kiai Asrori telah memberikan suatu pengertian yang berbeda dengan yang pernah ada. Ketika berbicara tentang kekeluargaan, maka dapat ditelusuri melalui term “jama’ah” dalam istilah “Jama’ah al-Khidmah”. Term Jama’ah, yang ditulis dengan ”J” (huruf besar) menunjuk kepada organisasi atau keluarga besar yang meliputi dewan penasehat, pengurus dan jama’ah (dengan j huruf kecil). Sedang jamaah dengan ”j” (huruf kecil) menunjuk pada anggota al-Khidmah, yang dikategorikan menjadi muridin, muhibbin. Menurut Kiai Asrori, bahwa istilah Jamaah di sini merujuk kepada seluruh keluarga, sedang istilah yang merujuk pada aspek keorganisasiannya, merujuk kepada pengelolaan organisasi secara profesional. Sementara istilah al-Khidmah mengacu kepada pelayanan yang memang sangat ditekankan di dalam jamaah ini. Baik pelayanan dalam pengertian ruhaniah, maupun dalam bentuk jasmaniah.

Demikian ketentuan lima pilar utama yang merupakan pemikiran Kiai Asrori al-Ishaqy, yang sampai saat ini tetap dijadikan sebagai soko guru dalam menjalankan aktifitas. Kelima pilar tersebut adalah TQN Usmaniyah, Pesantren Al-Fithrah, Yayasan Al-Khidmah, Jama’ah al-Khidmah dan Keluarganya.

Disarikan dari sinopsis Tesis “PEMIKIRAN K.H. ACHMAD ASRORI AL-ISHAQY (Studi Atas Pola Pengembangan Tarekat Qadiriyah Wan Naqsyabandiyah Utsmaniyah Surabaya)”, R. Achmad Masduki Rifat, Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...