Portal Berita & Informasi JATMAN

4 Poin Pernyataan Bersama PBNU dan PP Muhammadiyah Sita Perhatian Publik

0 221

Jakarta – Rabu (31/10), Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jakarta bertemu di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat. Kedua Ormas Islam terbesar di Indonesia tersebut membincangkan situasi terkini, terutama sepakat meneguhkan kembali Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami.

Prof. H. Muhammad Haedar Nasir menyatakan dalam konferensi persnya bahwa pertemuan itu dalam rangka membangun ta’awun dan kerjasama yang lebih aktif lagi antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai ormas Islam tertua dan termasuk pendiri bangsa. “Semangat kita adalah semangat maju bersama saling berbagi. Kita juga ingin ada suasana kondusif. Jadi itulah semangat kami tadi bersilaturahmi,” ungkap Ketum PP Muhammadiyah tersebut.

Kepada wartawan di tempat yang sama Prof. KH. Said Aqil Siraj membeberkan, “Bahkan saya baca kalau tidak salah ada rencana tahun 2024 harus sudah ada khilafah di ASEAN ini, termasuk Indonesia. Mudah-mudahan mimpi itu tidak terjadi, tidak akan terlaksana berkat adanya NU dan Muhammadiyah”.

“Jati diri kita adalah umat yang ramah, toleran, pemaaf, menjaga persaudaraan, mementingan kebersamaan, mementingkan persamaan bukan perbedaan. Kok ada sebagian saudara kita jadi beringas, keras, radikal. Ini sama sekali tidak menunjukkan jati diri bangsa Indonesia,” Ketum PBNU itu melanjutkan konferensi persnya.

Menurut beliau, selama ini sering ada gesekan antara umat Islam akibat suatu kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak. Namun semua itu mudah diredam dan cepat selesai. Tidak seperti di Timur Tengah terjadi perang saudara selama puluhan tahun. “Kita bersyukur Indonesia tidak mengalami kondisi demikian”, ujar tokoh muslim yang dinobatkan sebagai salah satu dari 50 tokoh yang paling berpengaruh di dunia.

Beliau kembali melanjutkan, “NU dan Muhammadiyah berkewajiban, meski tidak diperintah siapapun, terpanggil berkewajiban mengawal ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, ukhuwah insaniah. Mari kita jaga itu semuanya karena jika tidak, maka ancaman disintegrasi ancaman perang saudara ada,” ujar Kiai Said.

Dalam pertemuan tersebut sejumlah anggota PBNU seperti Sekjen Helmy Faishal Zaini, Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas serta beberapa anggota PBNU lainnya tampak akrab dengan anggota PP Muhamamdiyah diantaranya Sekretaris Umum Abdul Mu’ti dan sejumlah anggota PP Muhammadiyah lainnya.

Berikut empat poin pernyataan bersama yang ditandatangani oleh Ketua Umum PBNU dan Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Pertama, berkomitmen kuat menegakkan keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan atas Pancasila sebagai bentuk dan sistem kenegaraan yang Islami. Bersama dengan itu menguatkan dan memperluas kebersamaan dengan seluruh komponen bangsa dalam meneguhkan integrasi nasional dalam suasana yang damai, persaudaraan, dan saling berbagi untuk persatuan dan kemajuan bangsa.

Kedua, mendukung sistem demokrasi sebagai mekanisme politik kenegaraan dan seleksi kepemimpinan nasional yang dilaksanakan dengan professional, konstitusional, adil, jujur dan berkeadaban. Semua pihak agar mendukung proses demokrasi yang substantif serta bebas dari politik yang koruptif dan transaksional demi tegaknya kehidupan politik yang dijiwai nilai-nilai agama, Pancasila, dan kebudayaan luhur Indonesia.

Ketiga, meningkatkan komunikasi dan kerjasama yang konstruktif untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, membangun masyarakat yang makmur baik material maupun spiritual, serta peran politik kebangsaan melalui program pendidikan, ekonomi, kebudayaan, dan bidang-bidang strategis lainnya. Komunikasi dan kerjasama tersebut sebagai perwujudan ukhuwah keumatan dan kebangsaan yang produktif untuk kemajuan Indonesia.

Keempat, pada tahun politik ini semua pihak agar mengedepankan kearifan, kedamaian, toleransi, dan kebersamaan di tengah perbedaan pilihan politik. Kontestasi politik diharapkan berlangsung damai, cerdas, dewasa serta menjunjung tinggi keadaban serta kepentingan bangsa dan negara. Hindari sikap saling bermusuhan dan saling menjatuhkan yang dapat merugikan kehidupan bersama. Kami percaya rakyat dan para elite Indonesia makin cerdas, santun dan dewasa dalam berpolitik. (eep)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

twelve + ten =