4 Hujjah Allah Pada Hari Kiamat

0

Di dalam Kitab Ihya Ulumiddin karya Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali (1058-1111 M) tepatnya jilid ke-4, Bab al-Shabr wa al-Syukr dengan sub bab Ijtima’ al-Shabr wa al-Syukr ‘ala Syaiin Wahid. Beliau mengutip ucapan Imam Hatim Al-Ashamm; “Sesungguhnya nanti pada hari kiamat, Allah berhujjah dengan empat orang terhadap empat golongan manusia yang lain. Allah berhujjah kepada orang-orang yang kaya dengan kekayaannya Nabi Sulaiman, Allah berhujjah kepada orang-orang fakir dengan kefakirannya Nabi Isa, Allah berhujjah kepada hamba sahaya dengan Nabi Yusuf, dan Allah berhujjah kepada orang yang sakit dengan sakitnya Nabi Ayyub.”

Syaikh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Jawi (1813-1897 M) ulama Internasional kelahiran Banten menjelaskan kutipan tersebut di dalam karyanya Nashaihul Ibad.

Menurut Syaikh Nawawi, ada dialog antara Allah SWT dengan empat macam golongan hamba-Nya.

Yang pertama, Allah bertanya kepada orang-orang kaya di dunia, “Mengapa kalian tidak beribadah kepada-Ku?”. Kemudian mereka yang tidak beribadah ini menjawab, “Ya Allah kami sibuk dengan banyaknya harta dan tahta kekuasaan kami.”

Kemudian Allah SWT menjadikan Nabi Sulaiman sebagai hujjah bagi mereka, “Tahta kekuasaan manakah yang lebih besar dari kerajaan Nabi Sulaiman? Dan harta milik siapa yang lebih banyak daripada harta yang dimilikinya? Sedangkan ia tetap beribadah kepada-Ku.”

Yang kedua Allah bertanya kepada orang-orang fakir di dunia, “Mengapa kalian tidak beribadah kepada-Ku?”. Kemudian mereka yang fakir ini menjawab, “Kami menderita di dunia dengan pedih dan pahitnya kefakiran.”

Allah SWT pun menjadikan Nabi Isa sebagai hujjah bagi mereka, “Hamba-Ku, Nabi Isa adalah orang yang paling fakir, ia tidak memiliki sesuatu apapun di dunia, ia tidak memiliki rumah, harta dan istri sekalipun, tetapi ia tidak meninggalkan ibadahnya kepada-Ku.”

Yang ketiga Allah bertanya kepada para hamba sahaya, “Mengapa kalian tidak beribadah kepada-Ku?”. Mereka yang menjadi hamba sahaya menjawab, “Kami terlalu sibuk melayani pemimpin-pemimpin kami.”

Maka Allah jadikan Nabi Yusuf sebagai hujjah bagi mereka, “Hamba-Ku, Nabi Yusuf adalah budak dari seorang raja, tetapi ia tidak sekalipun meninggalkan beribadah kepada-Ku.”

Yang keempat Allah bertanya kepada orang-orang yang sakit di dunia, “Mengapa kalian tidak beribadah kepada-Ku?” Kemudian mereka menjawab, “Kami ini merasakan sakit yang parah di dunia”.

Maka Allah menjadikan Nabi Ayub sebagai hujjah bagi mereka, “Hamba-Ku, Nabi Ayub merasakan sakit begitu perih dan parah, tetapi tak sekalipun ia meninggalkan beribadah kepada-Ku.”

Apa yang tergambar di atas menjadi nasihat penting bagi kita untuk memprioritaskan penghambaan dan ibadah kita kepada Allah SWT. Dengan senantiasa menghubungkan qalbu kita kepada-Nya dan tunduk patuh atas perintah-Nya dalam kondisi apapun. Sehingga tak ada alasan apapun untuk tidak beribadah kepada-Nya.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Oleh: Achmad Fadilah

Comments
Loading...