Connect with us

Pustaka

162 Masalah Sufistik

al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad ra.

Published

on

162 MASALAH SUFISTIK

1

Habib Abubakar bin Syeikh Asseggaf ra. bertanya: “Bagaimanakah perasaan yang timbul dalam hati seseorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala. Apakah ia harus membuangnya jauh-jauh dan hanya bersandar kepada perasaan Rabbani saja atau apa yang seharusnya ia kerjakan?

al-‘Allamah al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad ra. menjawab: “Seseorang yang telah sampai kepada Allah atau seseorang yang mengenal Allah dengan ilmu yang ia miliki, sebagaimana yang dimiliki pula oleh para ulama, memiliki berbagai tingkatan yang tidak terhitung banyaknya.

Seseorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala mempunyai dua keadaan: Pertama, yang dikenal dengan nama al-Jam’u, dan yang kedua adalah yang dikenal dengan nama al-Farqu.

al-Jam’u adalah tingkatan atau keadaan yang dicapai oleh seorang yang telah mengenal Allah secara terus menerus tanpa terputus sesaat pun di dalam keadaan yang sedemikian ini. la adalah seseorang yang akan terus-menerus fana’ dan tenggelam di alam ketuhanan secara keseluruhan secara terus-menerul tanpa terputus sesaat pun.

Sehingga ia tidak lagi mengenali dirinya maupun yang lain selain Allah Ta’ala. Tentang keadaan atau tingkatan seperti ini pernah diucapkan oleh seorang penyair: “Andaikata hatiku pernah mengingat selain-Mu karena kelalaianku, maka aku rela jika dihukum dengan kemurtadan.”

Penyair lain mengatakan: “Dahulu hatiku mencintai-Mu, akan tetapi tidak terus-menerus. Namun setelah aku mengenal-Mu lebih jauh, maka aku tidak dapat melupakan diri-Mu sedetikpun.”

Adanya perasaan kepada selain Allah Ta’ala bagi seseorang yang telah mengenal Allah Ta’ala dengan baik tidak mungkin akan terjadi. Karena perasaannya telah benar-benar menyatu dengan Dzat Allah Ta’ala, sehingga ia tidak dapat memalingkan perasaan tersebut sesaatpun daripada-Nya. Keadaan yang seperti ini pernah disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam sabdanya:

“Aku mempunyai waktu yang tidak cukup bagiku, kecuali hanya untuk Tuhanku.”

Perasaan semacam ini sulit didapat oleh seseorang. Akan tetapi jikalau perasaan ini telah hadir pada diri seseorang secara terus-menerus, maka ia akan melihat berbagai keajaiban dan kemisterian alam ghaib yang menakjubkan.

Perasaan semacam ini pernah dialami seorang tokoh sufi di Irak. Ia pernah tenggelam dalam perasaan seperti ini selama tujuh tahun dan selama itu ia tidak sadar. Kemudian ia sadar dalam waktu pendek, tetapi ia tenggelam kembali dalam perasaan ketuhanannya itu selama tujuh tahun lagi. Dan selama itu ia tidak pernah makan, minum, tidur maupun shalat, ia hanya berdiri di sebuah tempat dan matanya selalu memandang ke langit.

Disebutkan juga bahwa salah seorang tokoh sufi di Mesir pernah juga mengalami keadaan atau perasaan seperti itu. Ia berwudhu, kemudian ia berbaring dan ia berkata kepada pembantunya: “Jangan engkau membangunkan aku, sampai aku bangun sendiri.”

Maka, ia tidak sadarkan diri selama tujuh belas tahun. Dan selama itu pula ia tidak makan dan tidak minum. Kemudian ia bangun dan ia melakukan shalat dengan wudhu’nya yang dahulu. Perlu diketahui, para ‘arifin billah selalu merindukan untuk mendapatkan keadaan seperti itu.

Tetapi Allah Ta’ala jarang sekali memberikan perasaan semacam itu kepada hamba-hambaNya, karena Allah Ta’ala kasihan kepada mereka dan agar hambanya yang terdekat dapat mengerjakan segala kewajibannya kepada Allah Ta’ala, agar pahala mereka senantiasa bertambah serta agar tubuh mereka tidak rusak karenanya.

Sebab, jika perasaan ketuhanan telah mempengaruhi hati seseorang dan ia tenggelam dalam perasaan seperti itu, maka kekuatannya sebagai manusia tidak akan dapat menanggulanginya. Sebab, Gunung Tursina menjadi terbakar dan meletus ketika cahaya Allah Ta’ala tumbuh di puncaknya, maka bagaimana jika cahaya Allah Ta’ala itu telah bersemayam di hati seseorang.

Karena itu, tidak pantas jika kita percaya kepada sebagian orang yang telah disesatkan oleh setan yang mengaku bahwa mereka telah mengalami masa tenggelam di alam ketuhanan, sehingga mereka meninggalkan semua kewajiban agama, seperti puasa, shalat, serta mereka melakukan segala bujuk rayu hawa nafsunya dan larangan-larangan Allah Ta’ala.

Andaikata mereka termasuk wali-wali Allah, tentunya mereka akan dipelihara oleh Allah dari segala perbuatan yang tidak baik. Dan secara logika, andaikata mereka benar-benar mengalami masa tenggelam di alam ketuhanan, tentunya mereka tidak akan terpengaruh oleh hal-hal selain Allah Ta’ala.

Kiranya kami cukupkan sampai disini keterangan kami tentang keadaan atau masa ketenggelaman seseorang di alam ketuhanan yang memfana’kan dirinya dari selain Allah Ta’ala. Kini, mari kita bicarakan tentang keadaan al-Farqu, yaitu keadaan atau perasaan yang di alami oleh seseorang yang telah tenggelam di alam ketuhanan, tetapi tidak terus-menerus.

Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini, maka Allah Ta’ala akan senantiasa memeliharanya dan memperhatikannya. Untuk selamanya, ia akan merasa selalu diawasi dan diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, sehingga ia tidak berani berbuat sesuatu, kecuali yang telah diajarkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Yang menurut istilah kaum sufi, perasaan semacam itu disebut perasaan malaki atau ilham Rabbani.

Adapun perasaan setan, tidak akan timbul dan tidak akan berpengaruh sedikitpun kepada seseorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala. Sebab, setan yang terkutuk tidak akan dapat mendekati hati seorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala.

Karena Allah Ta’ala akan senantisa meneranginya dengan cahaya petunjuk-Nya. Mungkin setan dapat mempengaruhi seseorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala, tetapi orang itu akan diselamatkan oleh Allah Ta’ala dari gangguan setan. Hal ini sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.:

“Aku mempunyai setan, tetapi Allah memenangkan aku daripadanya, sehingga aku selamat dari godaannya, sehingga ia tidak menyuruhku kecuali yang baik.”

Adapun perasaan nafsu tidak mungkin dapat mempengaruhi hati seseorang yang telah sampai kepada Allah Ta’ala, karena hatinya telah tunduk dan telah dekat kepada Allah Ta’ala. Bahkan nafsunya pun dapat ia kendalikan, sehingga ia taat kepada Tuhannya dan telah dimasukkan dalam golongan hamba-hambaNya yang pantas menghuni surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan hanya bagi orang-orang yang bertakwa.[Majelis Dzikir Baitul Fatih]

Pustaka

Fase Kehidupan di Alam Rahim (Arham) 2

Kupas Tuntas Perjalanan Hidup Manusia dalam Lima Alam

Oleh: DR. KH. M. Hamdan Rasyid, MA

Published

on

Alam Rahim

Berhubung manusia tercipta dari unsur tanah yang rendah serta unsur roh Allah yang tinggi, maka di dalam diri manusia selalu terjadi pergulatan dan tarik menarik antara bisikan-bisikan yang mengajak untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif yang dapat merendahkan derajat manusia–seperti memuja-muja atau menuhankan benda-benda mati (kayu, batu, patung dan karya seni serta hasil teknologi manusia), harta, tahta dan wanita, berzina, berjudi, dan korupsi, dengan bisikan-bisikan yang mendorongnya untuk berbuat baik yang dapat mengangkat harkat dan martabatnya di atas makhluk-makhluk Allah yang lain seperti beribadah dan mengabdi kepada Allah SWT; memenuhi nafkah dan berbagai kebutuhan hidup dengan cara-cara yang halal sesuai dengan petunjuk Allah SWT; serta berbuat baik dan saling tolong menolong dengan sesama manusia. Oleh karena itu, tugas kita sebagai umat Islam adalah berusaha semaksimal mungkin agar dorongan-dorongan ke arah hal-hal yang positif mampu mengalahkan dorongan-dorongan yang mengajak kepada hal-hal negatif.

Hadits di atas juga menjelaskan, bahwa sesudah roh ditiupkan dalam tubuh janin ketika masih berada di alam rahim, maka Allah SWT memerintahkan malaikat untuk mencatat empat kalimat yang merupakan ketentuan-Nya terhadap janin tersebut. Yaitu rizki, ajal, amal, dan nasib baik atau buruk (bahagia atau sengsara).

Pertama; Rizki. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telahmenetapkan rizki bagi seluruh makhluk-Nya, dan setiap makhluk tersebut tidak akan mati sebelum rizkinya terpenuhi dengan sempurna. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Hud/11 ayat 6:

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Ankabut/29 ayat 60:

“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rizkinya sendiri. Allah-lah yang memberi rizki kepadanya juga kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa pada hakikatnya, rizki para makhluk–termasuk manusia telah ditetapkan oleh Allah SWT sejak zaman azali dan telah tercatat di Lauh Mahfudz kemudian ditulis kembali oleh malaikat ketika manusia berusia 4 (bulan) dalam kandungan. Sungguh pun demikian, manusia tidak boleh bersikap apatis dan fatalistik. Untuk mendapatkan rizki, manusia harus bekerja keras dengan cara yang halal disertai dengan doa serta sikap tawakkal kepada-Nya. Oleh karena itu, Allah SWT telah memerintahkan hamba-hamba-Nya berjalan mencari maisyah (pekerjaan/usaha) untuk mendapatkan rizki-Nya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Mulk 15:

Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan”.

Demikian juga sabda Rasulullah SAW:

“Wahai  manusia,  bertakwalah  kepada  Allah  dan  sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati  hingga  sempurna  rizkinya,  meskipun  (rizki  itu)  bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allah dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram”5

Rasulullah  SAW  telah  memberikan  petunjuk  kepada  kita semua tentang cara yang tepat untuk mendapatkan rizki dari Allah SWT, yaitu dengan melakukan usaha maksimal disertai doa dan sikap tawakkal sebagaimana yang dilakukan oleh burung.

Hendaknya kita dapat mengambil pelajaran darinya dalam mencari rizki. Beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Dia akan memberi kalian rizki sebagaimana Dia memberikan rizki kepada burung, yang pergi pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang”6

Rizki akan mengejar manusia, seperti halnya ajal (masa kematian). Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti halnya ajal juga mengejarnya”7

Kedua; Ajal. Setiap makhluk yang bernyawa–termasukmanusia—pasti akan mengalami kematian. Kapan manusia akan wafat serta mengakhiri kehidupannya di alam dunia? Semua tergantung ajal (masa kematian) yang telah ditetapkan oleh Allah SWT Dzat Yang Maha Kuasa pada zaman azali dan dicatat kembali ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Dia-lah Dzat yang menghidupkan manusia, mematikan, serta membangkitkannya kembali. Tidak ada satu pun manusia yang mengetahui berapa umurnya dan jatah hidupnya di alam dunia. Demikian juga tidak ada satu pun manusia yang mengetahui kapan serta dimana akan diwafatkan oleh Allah SWT. Semua terjadi atas ilmu dan izin-Nya.

Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Ali ‘Imran/3 ayat 145:

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu. Dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur”.

Ajal manusia sudah dtetapkan dan tercatat di Lauh Mahfudz, tidak dapat dimajukan atau dimundurkan. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-A’raf ayat 34

“Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu); maka apabila telah datang waktu (ajal)-nya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun, dan tidak dapat (pula) memajukannya”

Ketiga; Amal Perbuatan. Pada hekekatnya, seluruh amalperbuatan manusia, baik amal saleh (al-hasanat) maupun amal yang buruk (al-sayyi’ah) yang akan dilakukan oleh setiap manusia selama hidupnya di alam dunia, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin beumur 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sungguh pun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui apa yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia harus berusaha melakukan amal baik serta menghindari amal buruk. Juga harus selalu berdoa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT agar selalu melakukan amal yang baik serta menghindari perbuatan yang buruk, maksiat dan dosa.

Setiap amal baik yang dilakukan oleh seseorang dengan ikhlas semata-mata mengharapkan rida dan pahala dari Allah SWT pasti  akan  dibalas  berlipat  ganda  serta  manfaatnya  pasti  akan kembali kepadanya. Sebaliknya, setiap perbuatan buruk, maksiat atau dosa yang dilakukan oleh seseorang, pasti akan dibalas oleh Allah SWT  serta  mafsadah  atau  dampak  negatifnya  akan  kembali kepadanya, kecuali jika dia bertaubat dan mendapat ampunan dari Allah SWT. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat Fusshilat ayat 46:

“Barangsiapa  mengerjakan  amal  yang  saleh,  maka  (pahalanya) untuk  dirinya  sendiri.  Dan  barangsiapa  mengerjakan  perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya”.

Demikian juga firman-Nya dalam surat al-Taubat ayat 105 – 106:

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata. Lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai  ada  keputusan  Allah;  Adakalanya  Allah  akan  mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Amal saleh yang dilandasi oleh iman, akan mengantarkan orang-orang yang beriman meraih surga, tempat kenikmatan yang abadi. Sebaliknya perbuatan buruk, maksiat dan dosa yang dilandasi oleh  kekufuran  akan  menghantarkan  orang-orang  kafir  ke  neraka jahannam  selama-lamanya.  Sebagaimana  telah  difirmankan  dalam surat al-Bayyinah ayat 6 – 8:

‘Sesungguhnya orang-orang yang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai -sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepadanya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya”.

Keempat ; Nasib Baik atau Buruk (Bahagia atau Celaka) Pada hekekatnya, nasib manusia, apakah nasib baik maupun nasib buruk,  bahagia  atau  celaka,  bahkan  kelak  di  akhirat,  apakah  ia termasuk akan menjadi penghuni surga atau neraka, telah diketahui dan dicatat oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh  malaikat  ketika  janin  berumur  4  (empat)  bulan  dalam kandungan. Sungguhpun demikian, tidak ada satu pun manusia yang mengetahui nasibnya yang tertulis di Lauh Mahfudz tersebut. Oleh karena itu, setiap manusia wajib berusaha melakukan berbagai amal baik  yang  akan  menghantarkannya  meraih  nasib  yang  baik  serta menghindari amal buruk yang dapat menghempaskannya pada nasib buruk dan hina. Dengan berusaha semaksimal mungkin melakukan berbagai amal yang baik, disertai dengan doa, memohon petunjuk dan bantuan kepada Allah SWT, Allah SWT akan menunjukkannya pada jalan yang lurus dan diridai-Nya, bahkan akan mengubah nasib buruknya di Lauh Mahfudz menjadi nasib yang baik. Karena Allah SWT berhak melakukan hal tersebut. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ankabut ayat 69:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”.

Berdasarkan ayat di atas dapat diketahui bahwa orang-orang kafir tidak mendapatkan hidayah dari Allah SWT sehingga menjadi penghuni neraka jahannam selama-lamanya, karena mereka tidak mau berusaha semaksimal mungkin–bahkan tidak ada kemauan— untuk mendapatkan hidayah tersebut yang akan menghantarkannya untuk menjadi penghuni surga ‘Adn. Allah SWT tidak akan merubah keadaan  seseorang,  jika  mereka  sendiri  tidak  memiliki  kemauan untuk mengubahnya. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 11:

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Jadi   pada   hakikatnya,  seluruh  kejadian   yang   menimpa manusia atau dialaminya di alam dunia, terutama empat hal di atas (rizki, ajal, amal dan nasib baik atau buruk) telah ditetapkan oleh Allah SWT di Lauh Mahfudz serta dicatat kembali oleh malaikat ketika janin berusia 4 (empat) bulan dalam kandungan. Sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah SWT di dalam surat al-Hadid ayat 22 – 23:

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada hakikatnya, Allah SWT telah mentakdirkan segala sesuatu sejak 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi. Sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah SAW:

“Allah telah mencatat seluruh takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi”8

Sungguh pun demikian, tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir Allah SWT, terutama keempat hal yang telah disebutkan di atas. Oleh karenanya, seseorang tidak boleh malas berusaha dan beramal saleh, dengan alasan bahwa semuanya telah ditakdirkan oleh Allah SWT sejak zaman azali. Memang benar, bahwa Allah telah menetapkan takdir dalam kehidupan setiap hamba. Akan tetapi Dia Dzat Yang Maha Bijaksana juga menjelaskan jalan-jalan untuk mencapai kebahagiaan. Allah SWT Dzat Yang Maha Pemurah telah mentakdirkan rizki bagi setiap hamba-Nya. Namun Dia juga memerintahkan hamba-Nya keluar rumah untuk mencarinya. Jika ada orang yang bertanya, untuk apa kita beramal atau berusaha jika semuanya telah tercatat (ditakdirkan) oleh Allah SWT? Maka, Rasulullah SAW telah menjelaskan hal ini ketika menjawab pertanyaan Sahabat Suraqah bin Malik bin Ju’syum RA. Sbb:

“Beramallah kalian, karena semuanya telah dimudahkan oleh Allah sesuai dengan apa yang Allah ciptakan (takdirkan) atasnya. Jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang berbahagia, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang berbahagia. Dan sebaliknya, jika seseorang ditakdirkan termasuk golongan orang-orang yang celaka, maka ia dimudahkan untuk beramal sesuai dengan amalan orang-orang yang celaka”9

Orang yang selalu beramal saleh (berbuat baik), maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Sebaliknya orang kafir atau orang yang selalu begelimang dosa, berbuat maksiat dan kerusakan di muka bumi, maka Allah SWT akan memudahkan baginya jalan menuju neraka. Setiap manusia diberikan kebebasan untuk memilih keinginan dan kehendaknya masing-masing. Al-Qur’an hanya berfungsi sebagai peringatan atau petunjuk bagi orang-orang yang ingin menempuh jalan yang lurus. Sebagaimana telah difirmankan dalam surat al-Takwir ayat 27 – 28:

“Al Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus’.

Hal ini menunjukkan kesempurnaan ilmu Allah SWT, juga kesempurnaan kekuasaan, qudrah dan iradah-Nya, karena Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Meskipun setiap manusia telah ditentukan menjadi penghuni surga atau menjadi penghuni neraka, namun setiap manusia tidak dapat bergantung kepada ketetapan ini, karena tidak ada seorang manusia pun yang mengetahui tentang hal-hal yang dicatat di Lauh Mahfudz. Kewajiban setiap manusia adalah berusaha dan beramal kebaikan, serta banyak memohon kepada Allah SWT agar dimasukkan ke surga. Karena Allah SWT berhak mengubah apa saja yang telah ditetapkan atau ditakdirkan kepada hamba-hamba-Nya di Lauh Mahfudz. Sebagaimana difirmankan dalam surat al-Ra’du ayat 39:

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki). Dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).”[]


5 HR Ibnu Majah no. 2144, Ibnu Hibban no. 1084, 1085-Mawarid, al Hakim (II/4 ), dan Baihaqi (V/264), dari Sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhuma. Dianggap shahih oleh al Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi. Hadits ini dianggap shahih oleh Syaikh al -Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2607.

6 Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/30 dan 52), at-Tirmidzi no.2344, Ibnu Majah no. 4164, Ibnu Hibban no. 730, Ibnul Mubarak di dalam kitab az-Zuhd no. 559, al-Hakim (IV/318), al-Baghawi dalam Syarhus-Sunnah no. 4108, Abu Nu’aim dalam kitab al Hilyah (X/69), dan lain-lainnya. Dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab. At-Tirmidzi berkata,”Hasan shahih.” Al-Hakim juga menilai hadits ini shahih, dan disetujui oleh adz-Dzahabi

7 HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid) dan lainnya, dari Sahabat Abu Darda’. Hadits ini memiliki penguat dari Sahabat Jabir yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul-Auliya`. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadiits ash-Shahihah no. 952.

8 HR Muslim no. 2653 (16) dan at-Tirmidzi no. 2156, Ahmad (II/169), Abu Dawudath-Thayalisi no. 557, dari Sahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al ‘Ash Radhiyallahu ‘anhuma. Lafaz ini milik Imam Muslim.

9 HR al-Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647.

Continue Reading

Kitab

KH. Afifuddin Muhajir, Faqih Ushuli dari Timur

Published

on

KH. Afifuddin Muhajir

Buku ini menyajikan beberapa tulisan dari para tokoh dan kesaksian sebagian santri dan alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo tentang K.H. Afifuddin Muhajir, Rais Syuriah PBNU, Ketua MUI Pusat, Wakil Pengasuh PP Salafiyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo, dan penulis kitab Fathul Mujib al-Qarib syarah Kitab Taqrib.

Buku yang sedang Anda baca ini adalah buku pertama tentang K.H. Afifuddin Muhajir. Ia dibuat untuk menyambut penganugerahan Doktor Honoris Causa dari Fakultas Syari’ah UIN Walisongo Semarang kepada K.H. Afifuddin Muhajir. Sebagian besar kolom dalam buku ini belum pernah diterbitkan. Dan sekalipun ada dua kolom yang sudah diterbitkan, maka itu juga sudah dilakukan perbaikan oleh penulisnya untuk kepentingan dipasang kembali dalam antologi ini.

KH. Afifuddin Muhajir

Artikel yang terangkum dalam buku ini rata-rata berbentuk kolom-kolom pendek bahkan sangat pendek. Sebagian kecil saja berupa tulisan panjang dan bercatatan kaki. Diksi para penulisnya pun sengaja ditayangkan secara otentik, karena penyunting datang bukan untuk mengubah gaya tulisan seseorang. Ada penulis yang suka membuat kalimat-kalimat panjang dan ada yang lebih memilih menggunakan kalimat-kalimat pendek yang efektif. Dalam kaitan itu, ada penulis yang memesan agar tulisannya tak diedit sama sekali.

Sebagai penyunting, saya cenderung membiarkan tiap fragmen dalam antologi ini berlayar ke arah yang berbeda-beda. Ada penulis yang coba memberikan kritik konstruktif terhadap pemikiran-pemikiran keislaman Kiai Afif. Walau harus diakui, arus utama dari kolom-kolom yang tersaji dalam buku ini memberikan apresiasi tinggi terhadap Kiai Afif. Bahkan, sebagian santri Kiai Afif mengisahkan sisi asketisme Kiai Afif— mungkin untuk memberikan pengayaan sudut pandang tentang Kiai Afif.

Buku ini tak hanya memuat pengakuan atas kealiman Kiai Afif melainkan juga penegasan tentang luasnya titik edar Kiai Afif. Beliau tak hanya bergaul dengan para kiai sepuh, melainkan juga dengan para kiai dan intelektual muda. Bahkan, sebagian besar penulis buku ini adalah para intelektual yang usianya jauh lebih muda dari Kiai Afif. Beliau berinteraksi dengan beragam varian pemikir Islam, mulai dari yang kanan hingga yang kiri, dari yang tekstualis hingga yang kontekstualis. Dan Kiai Afif selalu mengambil sikap moderat-tengah-tengah (tawassuth). Dalam beberapa kasus, Kiai Afif bukan hanya berada di tengah (wasath) bahkan sangat tengah (awsath), sesuai sabda Nabi SAW, “sebaik-baik perkara adalah yang paling tengah” (khairul umur awsathuha).

Moderatisme Kiai Afif tersebut terlihat salah satunya pada kemampuannya memadukan antara ushul dan furu’, nushush dan maqashid, ‘aqal dan naqal, wasilah dan ghayah (tujuan), al-waqi’ (kenyataan) dan al-mutawaqqa’ (yang diharapkan menjadi kenyataan). Mungkin karena berbasis moderatisme itu, pemikiran keislaman Kiai Afif diterima hampir di semua kalangan. Atas sikap dan pemikirannya tersebut, sebagian penulis menyebut Kiai Afif sebagai prototipe kiai moderat yang sesungguhnya.

Namun, mengacu pada ciri-ciri muslim progresif yang dibuat Abdullah Saeed, penulis lain menyebut Kiai Afif sebagai pemikir muslim progresif. Ini karena sebagai pemikir Islam, Kiai Afif dianggap mampu mendialogkan Islam dengan tantangan kekinian dan mampu memberikan arah yang menunjukkan kesesuaian Islam dengan segala tempat dan zaman. Kiai Afif misalnya merespons soal Pancasila, hak-hak penyandang disabilitas, dan Islam Nusantara dengan nalar maqashid al-syari’ah. Dengan alasan itu, penulis lain menjuluki Kiai Afif sebagai pemikir substansial-kontekstualis.

Lepas dari itu, semua penulis dalam buku ini tampaknya sepakat bahwa Kiai Afif adalah kiai yang alim di bidang fikih dan ushul fikih. Bahkan, kealimannya di bidang itu di atas rata-rata. Berdasarkan itu, maka buku kumpulan tulisan ini saya beri judul, “K.H. AFIFUDDIN MUHAJIR: FAQIH-USHULI DARI TIMUR”. Disebut dari Timur, karena Kiai Afif tinggal di ujung timur pulau Jawa, yaitu PP Salafi’iyyah Syafi’iyyah Sukorejo Situbondo Jawa Timur.

Saya berharap semoga para pembaca bisa mengambil manfaat dari buku yang juga menjelaskan sejarah perjalanan intelektual K.H Afifuddin Muhajir ini. Betapa untuk memenuhi derajat alim, Kiai Afif berpuluh tahun “bertahannuts” di pesantren— berkutat dengan kitab dan kitab. Ia jarang pergi ke luar. Dan sekiranya pergi ke luar pesantren, maka itu pun masih dalam konteks akademik; seminar, diskusi, dan bahtsul masail. Semua orang bertolak dari kebodohan tapi tak semua orang seperti Kiai Afif: mencapai puncak kealiman.

Last but not least, terima kasih sebesar-besarnya saya sampaikan kepada para penulis yang telah menyempatkan waktu menulis artikel tentang K.H. Afifuddin Muhajir ini. Semoga jerih payah mereka dibalas oleh Allah Subhanahu Wata’ala. [Dr. H. Abdul Moqsith Ghazali, M.Ag]

Continue Reading

Kitab

Thariqah Alawiyah; Jalan Lurus Menuju Allah

Al-Manhaj as-Sâwiy, Syarh Ushûl Tharîqah as-Sâdah Âl Bâ ‘Alawi

Karya al-‘Allamah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith

Published

on

Thariqah Alawiyah

Kitab ini merupakan penjelasan yang luas tentang prinsip-prinsip dan adab menuju Allah dalam Thariqah Sâdah Âl Ba ‘Alawi. Dalam hal ini, pengarang menjadikan titik tolaknya adalah ungkapan menyeluruh dari al-Imam al-Muhaqqiq al-Habib Ahmad  bin  Zain al-Habsyi (wafat 1145 H), yang dimakamkan di al-Hauthah, “Thariqah Sâdah Âl Ba ’Alawi adalah ilmu, amal, wara’, khauf, dan ikhlas.”

Bagian-Bagian Kitab dan Kandungannya

Pengarang membagi kitab ini menjadi lima bagian besar, sesuai dengan lima sifat yang disebutkan oleh Habib Ahmad bin Zain, dan menandai masing-masingnya dengan keadaan tertentu. Maka kandungan-kandungan kitab ini adalah sebagai berikut:

  • Keadaan pertama, ilmu. Karena luasnya pembahasan, keadaan ini yang mencakup hampir setengah kitab, maka pengarang menjelaskannya dalam sepuluh bab, masing- masing bab memiliki sejumlah pasal, dan dilengkapi dengan penutup.
  • Keadaan kedua, amal. Pengarang menjelaskannya dalam mukadimah dan sepuluh pasal.
  • Keadaan ketiga, wara’. Penjelasannya terbagi dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan keempat, khauf. Penjelasannya seperti yang sebelumnya, yakni dalam mukadimah dan enam pasal.
  • Keadaan kelima, ikhlas. Karena luasnya masalah- masalahnya, maka penjelasannya setelah mukadimah mencakup tiga bab yang memiliki sejumlah pasal.

Metode Syarh

Metode  syarh  (penjelasan)  yang  digunakan   pengarang  dalam kitabnya ini adalah memulai pembicaraannya dengan mukadimah, yang menjadikan orang memerhatikan pentingnya keadaan yang dibicarakan dan yang berhubungan dengannya secara global, kemudian mengutip ucapan Habib Idrus bin Umar al-Habsyi dalam menjelaskan maknanya secara umum, selanjutnya beralih pada pasal-pasal penjelasan.

Setelah membuka masing-masing pasal dengan pengantar, maka pengarang menyebutkan nash-nash syariah yang sesuai dengan setiap pasal,  dimulai  dengan  ayat-ayat  Al-Qur’an, lalu hadits-hadits Nabi, ucapan-ucapan para salaf, kemudian perkataan Sâdah Ba ‘Alawi, di mana masing-masing nash diberi komentar, penjelasan, dan keterangan. Selanjunya pengarang mengomentari pasal yang sedang dibahas dengan hal-hal yang sesuai dengannya, berupa masalah-masalah dan peringatan- peringatan, manfaat-manfaat dan hikayat-hikayat, dan sebagainya. Sehingga masing-masing pasal menjadi lengkap dalil- dalilnya, masalah-masalahnya, dan segala yang menyertainya. Kemudian pengarang mengakhiri pembahasannya dengan penutup, jika diperlukan dan dipandang relevan dengan yang dibicarakan. Inilah metode yang digunakan pengarang dalam kitab ini secara umum. Pengarang juga memerhatikan kaitan dan kesesuaian di antara pasal-pasal yang dibicarakan.

Bahan-Bahan Rujukan

Dalam mengumpulkan materi kitab ini, pengarang berpegang pada berbagai sumber dan kitab yang beragam, yang diambilnya selama bertahun-tahun sampai terkumpul materi yang memadai, dan disusun dalam rangkaian yang sangat bernilai. Sejumlah sumber masih berupa tulisan tangan. Kemudian pengarang membuat hal-hal berharga dari  kitab-kitab  itu  menjadi  sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang melihatnya. Di  banyak tempat, pengarang menyebutkan dengan jelas sumber- sumbernya. Pengarang banyak menyebutkan nash-nash dan manfaat-manfaat dari materi yang sangat banyak, yang ada dalam ingatannya. Apa yang kami kemukakan di sini terbatas pada apa yang pengarang sebutkan.

Sumber-sumber tersebut berasal dari bermacam-macam disiplin ilmu. Kami susunkan di sini agar menjadi jelas bagi pembaca, betapa beragam dan kayanya materi kitab ini.

  1. Kitab-kitab adab dan tasawuf, terutama kitab Ihyâ ’Ulumuddin di mana seorang pengarang sangat butuh untuk mengambil bekal darinya. Juga karangan- karangan Hujjatul Islam al-Ghazali yang lain pada umumnya. Selanjutnya, karangan-karangan Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, surat-surat, dan ucapan- ucapannya. Misalnya, Risalah al-Mu’âwanah, Risalah al-Mudzâkarah, ad-Da’wah at-Tâmmah, al-Fushûl al- ’Ilmiyyah, ad-Diwân, kumpulan-kumpulan ucapannya yang bernama Tatsbît al-Fuâd, dan lain-lain. Juga kitab- kitab an-Nawawi seperti at-Tibyân dan al-Adzkâr. Selain itu, kitab Tadzkirah as-Sâmi’ wa al-Mutakallim karya al-Badr bin Jamâ’ah, Adab al-Muta’allimîn karya ath- Thusi, dan sebagainya.
  2. Kitab-kitab biografi, sirah, dan manaqib. Kitab tentang sirah di antaranya adalah Zad al-Ma’âd karya Ibn al- Qayyim. Sedangkan kitab-kitab biografi dan manaqib adalah seperti Nasyr al-Mahâsin al-Ghâliyah karya al- Yâfi’i, al-Masyra’ ar-Râwi karya asy-Syilli, al-Fawâid as- Saniyyah karangan al-Imam Ahmad bin Hasan al-Attas, Qurrah al-’Ain dan Bahjah az-Zamân, keduanya karya al-Imam Muhammad bin Zain bin Sumaith, Majma’ al-Bahrain karya Syaikh Bajammal, ‘Iqd al-Yawâqît karya Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, asy-Syajarah al- ’Alawiyyah, dan sebagainya.
  3. Kitab-kitab fiqih. Di antaranya al-Majmu’ Syarh al- Muhadzdzab karya al-Imam an-Nawawi, al-Madkhal karya Ibn al-Haj, al-Asybah wa an-Nazhâir susunan al-Imam as-Suyuthi, Bughyah al-Mustarsyidîn karangan al-Imam Abdurrahman al-Masyhur, Mathlab al-Iqâzh karya al-‘Allamah Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya.
  4. Kitab-kitab tafsir dan Ulumul-Quran. Seperti, Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Baghawi, al-Iklîl dan al-Itqân, keduanya karya as-Suyuthi, dan sebagainya.
  5. Kitab-kitab hadits dan syarahnya. Seperti, Shahih al- Bukhari, Syarh Shahih Muslim oleh al-Imam an-Nawawi, Syarh al-Arba’in an-Nawawiyyah karya al-Jurdani, dan kitab-kitab lain.
  6. Diwan-diwan (kitab-kitab kumpulan syair), baik diwan orang-orang terdahulu seperti al-Imam asy-Syafi’i atau diwan para Sâdah ‘Alawiyyin seperti Diwan al-Imam al-Haddad, Diwan al-Habib Ali al-Habsyi, Diwan al- Imam Ahmad bin Umar bin Sumaith, Diwan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thâhir, dan sebagainya.
  7. Kitab-kitab bahasa. Pengarang telah mengatakan bahwa ia hanya mengutip dari kitab Tahdzîb al-Asma wa al- Lughât, karya al-Imam an-Nawawi.
  8. Kitab-kitab kumpulan dan kitab-kitab para Sâdah ‘Alawiyyin. Di antaranya Majmu’ Mawâ’izh wa Kalam al-Habib ad-Da’iyah Ahmad bin Umar bin Sumaith, Tatsbît al-Fuâd yang merupakan perkataan-perkataan al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad, kumpulan perkataan imam para ulama mutaakhirin, Syaikhul Islam Ahmad bin Hasan al-Attas, an-Nahr al-Maurûd, ucapan-ucapan al-Habib Idrus bin Umar al-Habsyi, al-Majmu’ ath-Thâhiri yang merupakan risalah-risalah, surat-surat, dan ucapan-ucapan al-Imam Abdullah bin Husain bin Thahir, dan wasiat-wasiat saudaranya, al- Habib Thâhir, dan sebagainya.

    Pengarang juga berpegang pada sejumlah kitab para Sâdah seperti Ma’ârij al-Hidâyah karya asy-Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran, al-Qirthâs karya al-Habib Ali bin Hasan al-Attas, Fath Bashâir al-Ikhwan karya ‘Allamah ad-Dunya Abdurrahman bin Abdullah Bilfaqih, dan sebagainya. Ini di samping karangan-karangan al-Imam al-Haddad yang telah disebutkan sebelumnya pada bagian kitab-kitab tasawuf dan adab.

Proses yang Dilakukan dalam Penyusunan Kitab Ini

Dengan anugerah-Nya, Allah telah menetapkan untuk kitab ini kemauan seorang anak yang berbakti kepada ayahnya, yaitu anak pengarang sendiri al-Ustadz as-Sayyid Muhammad bin  Zain bin Sumaith. Dia telah mengeluarkan pokok-pokok, lembaran- lembaran,  dan  konsep-konsep  kitab   ini   yang   berserakan  di perpustakaan ayahnya. Dia kibaskan debu-debu yang mengotorinya dan berusaha melalui tim ilmiah di Dar al-‘Ilim wa ad-Da’wah untuk mengurus kitab ini dan memunculkannya dalam spesifikasi yang terbaik. Untuk itu, dia telah mencurahkan waktu, usaha, dan hartanya dengan harapan mendapatkan pahala yang besar dan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Khidmat terhadap kitab ini dapat diringkaskan dalam beberapa hal berikut:

  1. Menepatkan matannya dengan harakat yang semestinya dan membuat penomoran-penomoran dengan teliti.
  2. Men-takhrij-kan hadits-hadits Nabi yang marfu’. Di dalam kitab ini juga terdapat beberapa hadits dhaif, yang dikutip oleh pengarang mengikuti pandangan ulama bahwa boleh menggunakan hadits-hadits dhaif dalam masalah-masalah keutamaan. Sebagian hadits-hadits yang disebutkan terkandung dalam nash-nash yang dikutip oleh pengarang dari kitab-kitab yang disebutkan oleh pengarangnya. Maka, sebagian matan hadits diriwayatkan bil-ma’na (sesuai maksud, tidak tepat seperti matannya). Hal itu kami sebutkan di beberapa tempat.
  3. Mengenalkan tokoh-tokoh yang terdapat dalam kitab ini, baik dari kalangan Sâdah Ba ‘Alawi maupun yang lainnya. Setiap tokoh yang riwayat hidupnya tidak didapati oleh pembaca di suatu tempat (bagian) dari kitab ini, biasanya telah disebutkan sebelumnya, kecuali jika tokoh itu adalah seorang sahabat atau termasuk tokoh yang telah sangat dikenal oleh orang pada umumnya, seperti para imam yang empat dan Khulafaur-Rasyidin. Tokoh-tokoh seperti itu tidak kami sebutkan riwayat hidupnya.
  4. Menyebutkan sumber dari kutipan-kutipan pengarang, yang mudah didapatkan tanpa diberi komentar, dan memberikan beberapa penjelasan.
  5. Berkonsultasi dengan pengarang mengenai beberapa bagian yang sulit bagi kami ketika mengerjakannya, serta menambahkan beberapa subjudul yang bermanfaat.
  6. Membuat indeks ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, atsar, tokoh, karangan, tempat, serta dua daftar isi dari materi kitab, yang rinci dan yang global.
  7. Menerbitkan kitab ini disertai riwayat hidup yang memadai tentang pengarang, yang kami kumpulkan dengan bantuan putranya, Sayyid Muhammad. Lalu kami ikuti sekilas, pengenalan mengenai Thariqah Sâdah Ba ‘Alawi yang ditulis oleh seorang peneliti, Iyad al-Ghauj sebagai pengantar bagi para pembaca yang belum mengenal thariqah ini.
  8. Kami mengulang-ulang pada kitab ini—setelah melakukan segala hal di atas—koreksi dan memastikan keselamatan teksnya dari kesalahan, sesuai dengan kadar kemampuan, hingga—menurut penglihatan kami— bersih dan kemungkinan kecil didapati kesalahan, insya Allah.[]

Continue Reading

Facebook

Arsip

Trending