Connect with us

Dawuh

15 Dawuh Habib Luthfi di Rapat Panitia Haul Habib Toha Cirebon

Published

on

Dawuh-dawuh Maulana Habib Luthfi Di Rumah H. Nana Cipeujeuh Kulon Pada Rapat Panitia Haul Al Quthb Al Habib Toha bin Hasan bin Yahya Grobog Jatiseeng Kidul, Ciledug-Cirebon.

  1. Haul ini untuk menguak mutiara yang terpendam dari para auliya dan ulama.
  2. Di Sindanglaut dan sekitarnya banyak tokoh auliya dan ulama. Tanpa adanya haul, sulit untuk memberi pengertian dan pelajaran para sesepuh kepada generasi penerus.
  3. Inti dari Haul adalah agar kita tidak lupa sejarah. Semisal sejarah Kyai Ardisela, Kyai Yahya, Raden Broto atau Raden Brojo menantu Ki Ardisela, lalu Kyai Muqoyyim, dan seterusnya. Selama ini kita hanya tahu jarene (katanya). Tidak ada manuskrip tulisan yang menceritakan beliau-beliau.  Kalau tidak cepat ditulis sejarahnya, maka kita atau generasi penerus ini akan kehilangan sejarah para beliau. Pada abad 17-18 masehi, di Sindanglaut ini muncul banyak tokoh ulama seperti Kyai Zayadi Asem ayah dari Kyai Ismail, dan Kyai Bunyamin Bendakerep atau Kyai Bunyamin Tugu, dan Kyai Nasuha Jatisari Plered.
  4. Catat nama-nama ulama dari Sindanglaut, Ciledug, Pabuaran, dan sekitarnya untuk dikirim fatihah saat tahlil akbar Haul Habib Toha.
  5. Kuatnya nasionalisme sebab tahu sejarah. Tapi sekarang banyak sejarah disunat.
  6. Kita harus bersyukur di sekitar Sindanglaut banyak haul. Ada haul Buntet, Gedongan, dan lain sebagainya. Cuma pertanyaan saya, bagaimana sejarah ulama yang dihauli itu? Semisal Kyai Abdul Jamil, saya ingin bertanya siapa nama guru-gurunya Kyai Abdul Jamil? Siapa nama ibunya Kyai Abdul Jamil?
  7. Kenapa ulama dahulu menyimpan nasab beliau? Tidak menunjukkan kesayyidan atau keradenan beliau? Karena kalau menampakkan, bisa diuber belanda, dibunuh belanda. Maka untuk memudahkan mengontrol, juga memudahkan adu domba, Belanda memisahkan perkampungan. Yang arab di kampung arab, pemimpinnya dipanggil Kapten Arab. Yang cina di kampung cina, pemimpinnya namanya Kapten Cina. Keturunan keraton tinggal di Pagersari atau Jero. Naik kereta juga dibedakan. Pajak juga dibedakan. Akhirnya sebagian keluar dengan menyembunyikan nasabnya. Yang sayyid ada yang ganti Kyai atau Raden Mas. Yang Pangeran atau Raden ada yang pakai Kyai. Dan lain sebagainya.
  8. Banyak yang takut sombong lalu menyembunyikan nasabnya, sejarah leluhurnya tapi kebablasan. Akhirnya anaknya cucunya tidak tahu siapa leluhurnya. Itu ingin mendidik anak tawadhu’, tidak bangga pada nasab tapi keliru.
  9. Adanya kita itu karena ada Ibu. Jangan sampai karena ibu kita ini orang biasa, dari keluarga biasa, lalu kita malu punya ibu. Tidak bangga pada ibu kita.
  10. Kehilangan sejarah sama dengan kehilangan jatidiri.
  11. Adanya haul untuk menghidupkan sejarah, dan merasa memiliki ulama yang dihauli. Sekalipun bukan guru kita atau tidak ada ikatan nasab, tapi kita merasa memiliki ulama karena yang kita pandang adalah beliau ulama waratsatul anbiya.
  12. Kiai kampung, kiai kota itu beda wilayah dakwah saja. Adapun keulamaan beliau-beliau sama. Sama-sama ulana waratsatul anbiya yang harus kita hormati, kita hargai.
  13. Haul juga merupakan cara kita berterima kasih pada ulama atas jasa dan perjuangan beliau. Juga bentuk syukur kita pada Allah dengan cara terima kasih pada manusia. Barangsiapa yang tidak bersyukur pada manusia, dia tidak bersyukur pada Allah.
  14. 500 kambing yang kita sembelih untuk haul itu tidak ada apa-apanya jika dibanding jasa ulama yang kita hauli.
  15. Habib Toha dilahirkan di Pekalongan pada 1192 H. 10 tahun digembleng langsung oleh ayah beliau, setelah itu berangkat menuntut ilmu ke Hadhramaut, Makkah, Madinah, dan banyak tempat lain. Lalu pulang ke Semarang. Karena Ayah beliau tinggal di Semarang. Ayah Habib Toha adalah Senopati Kesultanan Yogyakarta bernama Habib Hasan yang bergelar KRT Sumodiningrat yang kalau berperang seperti Singo Barong (Singa Raksasa). Habib Hasan punya armada laut dengan nama Pasukan Supit Urang. Beliau mengutus putra-putra beliau menjadi telik sandi. Sehingga tersebar. Ada Habib Alwi di Kendal, Habib di Batang. Habib Toha di Cirebon untuk menghadang bantuan penjajah ke arah Semarang dan Yogyakarta. Istana Habib Toha di Palimanan. Jadi Habib Toha bolak-balik Palimanan-Ciledug.

Adapun maqam kewalian Habib Toha. Ada seseorang yang diberi anugerah bertemu Kanjeng Syekh Syarif Hidayatullah. Orang itu bertanya pada Syekh Syarif, “Wahai Kanjeng Syekh, setelah engkau wafat, jabatan kewalian engkau diberikan kepada siapa?”

Syekh Syarif menjawab, “Kepada Habib Toha Shohib Jatiseeng.”

Orang kalau faham, mau tawasul ke Sunan Gunung Jati, biasanya ziarah dulu ke Habib Toha, baru ziarah ke Sunan Gunung Jati.

Kalau mau ziarah ke Habib Toha, mandi dulu di sumur masjid Leuwunggajah, lalu shalat dua raka’at. Orang dulu dari masjid Leuwunggajah sudah lepas sandal untuk menjaga adab. Tapi itu sekarang berat.

Wallahu ‘Alam. [Syukron Ma’mun]

Dawuh

Ratib dan Hizb perlu Ijazahkah dalam Mengamalkannya?

Habib Luthfi menjelaskan ratib berasal dari kata rataba yang maknanya susunan. Hizb dan ratib, dilihat dari susunan­nya, sebenarnya sama dari hadist. Yakni, sama-sama kumpulan ayat, dzikir; dan doa yang dipilih dan disusun oleh ulama salafush shalih yang termasyhur sebagai waliyullah (Kekasih Allah).

Published

on

By

Menurutnya yang membedakan suatu ratib dengan ratib lain, atau hizb dengan hizb lainnya, adalah asrar atau rahasia-rahasia yang terkandung dalam setiap rangkaian ayat, doa, atau kutipan hadits, yang disesuaikan dengan waqi’iyyah (latar belakang penyusunan)-nya.

Namun, meski muncul pada waqi’ yang sama dan oleh penyusun yang sama, ratib sejak awal dirancang oleh para awliya untuk konsumsi umum, meski tetap mustajab. Semua orang bisa mengamalkan untuk memperkuat benteng dirinya, bahkan tanpa perlu ijazah. Meski tentu jika dengan ijazah lebih afdhal.

Rois ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATMAN) menjelaskan sementara dengan hizb, sejak awal dirancang untuk kalangan tertentu yang oleh sang wali (penyusun) dianggap memiliki kemampuan lebih, karena itu mengandung dosis yang sangat tinggi. Hizb juga biasanya mengandung banyak sirr (rahasia) yang tidak mudah dipahami oleh orang awam, seperti kutipan ayat yang isinya terkadang seperti tidak terkait dengan rangkaian do’a sebelumnya padahal yang terkait adalah asbabun nuzul-nya. Hizb juga biasanya mengandung lebih banyak Ismul A’zham (asma Allah yang agung), yang tidak ada dalam ratib.

Habib Luthfi melanjutkan pembahasannya, dan yang pasti, hizb tidak disusun berdasarkan keinginan sang ulama, karena hizb rata-rata merupakan ilham dari Allah SWT: Ada juga yang mendapatkannya langsung dari Rasulullah SAW seperti Hizbul Bahr, Hizbul Nasr, Hizbul Khofi, yang disusun oleh Syaikh Abul Hasan Ali Asy-Syadzili ; Hizb Nawawi, yang disusun oleh Imam an Nawawi. Karena itulah, hizb mempunyai fadhilah dan khasiat yang luar biasa.

Selanjutnya, Habib Luthfi ketika menjelaskan hizb dan ratib mengibaratkannya seperti kapsul, atau tablet, tentu tidak mempunyai dosis yang sama. Demikian juga dosis obat antibiotik dan vitamin. Jika yang satu bisa diminum sehari tiga kali, yang lain mungkin hanya boleh diminum satu kali dalam sehari. Bahkan vitamin, yang jelas-jelas berguna pun jika diminum melebihi dosis yang ditentukan dokter; efeknya akan berakibat buruk bagi tubuh. Badan bisa meriang atau bahkan kera­cunan. Begitu pula halnya dengan hizb dan ratib bukan langsung mengambil dari maknanya yang baik dan hebat saja agar nantinya tidak over dosis.

Habib Lutfi juga menejelaskan bahwa ratib itu dosisnya sudah direndahkan karena diambil langsung dari lisan baginda Rasulullah supaya siapapun boleh membaca dan mengamalkannya. Misalnya Ratib Al Hadad, Ratib Al Athas. Setiap ratib juga memiliki keistimewahan tersendiri dan saling melengkapi serta tidak saling berebut. Jadi, jangan sekali-kali merendahkan salah satu ratib, karena itu mencakup tentang akhlak dan adab. Ada juga Ratibul Kubra, kenapa dinamakannya seperti itu? Karena fatihah didalamnya waliyul kutub semuanya maka disebut ratibul kubra, jadi ini bukan ratib kubra.

Menurutnya sedangkan dalam hizb, ada syarat usia yang cukup bagi pengamal hizb. Sebab orang yang sudah mengamalkan hizb biasanya tidak lepas dari ujian. Ada yang hatinya mudah panas, sehingga cepat marah. Ada yang, karena Allah SWT, menampakkan salah satu hizbnya dalam bentuk kehebatan, lalu pengamalnya kehilangan kontrol terhadap hatinya dan menjadi sombong. Ada juga yang berpengaruh ke rezeki, yang selalu terasa panas sehingga sering menguap tanpa bekas, dan sebagainya.

Karena itu pula diperlukan ijazah dari seorang ulama yang benar-benar mumpuni dalam arti mempunyai sanad ijazah hizb tersebut yang bersambung dan mengerti dosis hizb. Selain itu juga diperlukan guru yang shalih yang mengerti ilmu hati untuk mendampingi dan ikut membantu si pengamal dalam menata hati dan menghindari efek negatif hizb.

Habib Lutfhi mengingatkan dalam pengamalan ratib atau hizb bisa dilaksanakan secara istiqamah karena istiqamah sangat penting dan sangat sulit untuk melakukannya.

Continue Reading

Dawuh

Dakwah JOL seperti Petani di Pegunungan

“Jadilah seperti petani di pegunungan,” pesan Abah, panggilan akrab Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Yahya kepada JATMAN Online saat berkunjung ke dalem Beliau di Pekalongan, Rabu (7/10) kemarin.

Published

on

By

Silaturrahmi yang diwakili oleh Pemimpin Umum JATMAN Online, Ir. H. Aman Subagio ini hendak meminta izin dan nasehat Abah tentang pengelolaan media online JATMAN (Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah) yang sering disebut JOL.

Abah dawuh agar dakwah JOL seperti petani di pegunungan, berbeda dengan dakwah yang dilakukan PBNU, seperti petani modern, walaupun kedua-duanya, hasilnya untuk PBNU.

Lihatlah petani di pegunungan, ia mengerti manajemen air, kapan hujan turun dan kapan ia menggunakan air dari sungai, ia mengerti keterbatasan jumlah air yang ada.

Sawah dan ladang akan mendapat air dari sawah dan ladang yang ada di atasnya. Tidak bisa sebaliknya. Maka ambillah hikmah dari perumpamaan ini.

“Jika sawah atau ladang di pegunungan hijau dan berhasil maka penduduk pesisir akan berkaca kepada petani di pegunungan,” jelas Abah.

Air hujan yang turun, air sungai di pegunungan yang masih jernih dan bersih ini ibarat ilmu yang murni. Ilmu yang kemudian diajarkan secara berjenjang seperti sawah dan ladang, dari atas ke bawah. Jadilah seperti petani di pegunungan.[Aman]

Continue Reading

Dawuh

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya

Lentera Islami – Dakwah Habib Luthfi Bin Yahya Seolah Bisa Dirasakan Dalam Langkahnya

Published

on

By

Continue Reading
Advertisement

Facebook

Trending